Kamu scroll TikTok tadi malam. FYP-mu penuh video yang entah bagaimana selalu relate sama hidupmu. Pernah nggak kepikiran, siapa yang pertama kali meletakkan fondasi logika di balik semua sistem itu?
Jawabannya: seorang pria dari Baghdad yang hidup 1.200 tahun lalu.
Namanya Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi. Dan tanpa dia, smartphone di tanganmu itu mungkin tidak akan pernah ada.
Siapa Dia, Sebenarnya?
Al-Khwarizmi lahir sekitar tahun 780 M, kemungkinan besar di wilayah Khawarizm — sekarang masuk wilayah Uzbekistan. Dia tumbuh di era yang disebut sejarawan sebagai Zaman Keemasan Islam, ketika Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.
Di sana ada tempat bernama Bayt al-Hikmah — atau "Rumah Kebijaksanaan." Bayangkan ini sebagai gabungan antara MIT, Google Research, dan perpustakaan terbesar dunia, tapi dalam satu bangunan di Baghdad abad ke-9. Al-Khwarizmi adalah salah satu ilmuwan bintangnya.
Dia hidup dan berkarya di bawah naungan Khalifah al-Ma'mun, yang dikenal sangat mendukung ilmu pengetahuan. Bukan hanya matematika — al-Khwarizmi juga mendalami astronomi, geografi, dan kalender.
Kitab yang Mengubah Matematika Dunia
Sekitar tahun 820 M, al-Khwarizmi menulis sebuah buku berjudul "Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala" — terjemahan kasarnya: Buku Ringkas tentang Perhitungan dengan Pemulihan dan Keseimbangan.
Judul panjangnya agak bikin ngantuk. Tapi dua kata dalam judul itu mengubah segalanya: al-jabr.
Dari sinilah kata "aljabar" (algebra) dalam bahasa Indonesia — dan hampir semua bahasa di dunia — berasal.
Buku ini bukan sekadar kumpulan soal matematika. Al-Khwarizmi memperkenalkan cara berpikir baru: bagaimana menyelesaikan persamaan matematis secara sistematis, langkah demi langkah. Dia memformulasikan metode untuk menyelesaikan persamaan linear dan kuadrat — jenis persamaan yang sampai sekarang diajarkan di SMP dan SMA.
"Inilah buku yang pertama kali mengajarkan matematika sebagai sebuah sistem, bukan sekadar kumpulan trik." — Sejarawan matematika, J.J. O'Connor dan E.F. Robertson, MacTutor History of Mathematics
Ketika buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin di Eropa pada abad ke-12, nama penulisnya ikut masuk ke dalam bahasa: algoritmi — yang kemudian jadi kata "algoritma" yang kamu pakai setiap hari untuk ngomongin logika di balik feed media sosialmu.
Nama seorang ilmuwan Muslim abad ke-9 literally hidup dalam setiap kode komputer yang pernah ditulis.
Angka yang Kamu Pakai Setiap Detik
Coba bayangin menulis tahun lahirmu dengan angka Romawi. Misalnya lahir tahun 2001: MMI. Atau coba hitung 2001 + 1998 dengan sistem itu. Pusing, kan?
Al-Khwarizmi adalah orang yang memperkenalkan sistem angka Hindu-Arab ke dunia Barat — yaitu angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 yang kamu gunakan sekarang.
Ia menulis buku khusus tentang ini, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin dengan judul "Algoritmi de numero Indorum" — artinya kurang lebih "Al-Khwarizmi tentang Angka India." Sistem angka ini sebetulnya berasal dari India, tapi al-Khwarizmi yang menyempurnakan dan menyebarkannya ke seluruh dunia Islam — dan akhirnya ke Eropa.
Yang paling revolusioner? Angka nol.
Konsep "nol" sebelumnya tidak ada dalam sistem angka Romawi maupun banyak tradisi matematika lain. Tanpa nol, tidak ada sistem bilangan desimal. Tanpa sistem desimal, tidak ada komputer. Tidak ada kode biner. Tidak ada internet.
Jadi ya — nol yang kamu anggap remeh itu adalah salah satu penemuan terpenting dalam sejarah manusia.
Astronomi dan Peta Dunia
Al-Khwarizmi bukan cuma matematikawan. Dia juga astronom serius.
Ia menyusun tabel astronomi (zij) yang merekam posisi matahari, bulan, dan planet-planet. Tabel ini digunakan selama berabad-abad oleh pelaut, penjelajah, dan ahli kalender untuk menentukan waktu dan arah.
Menariknya, al-Khwarizmi juga merevisi peta dunia peninggalan Ptolemy — geograf Yunani kuno. Dengan bantuan lebih dari 70 geografer lain, dia memperbaiki koordinat ratusan kota dan wilayah, dan menghasilkan peta yang jauh lebih akurat untuk zamannya.
Bayangkan dia sebagai Google Maps versi 830 M — dengan akurasi yang mengejutkan untuk standar saat itu.
Kenapa Kita Jarang Dengar Namanya?
Ini pertanyaan yang menarik — dan sedikit menyedihkan.
Kontribusi al-Khwarizmi masuk ke Eropa lewat terjemahan Latin pada abad ke-12, tapi nama aslinya sering hilang dalam proses itu. Karya-karyanya diserap, dijadikan dasar ilmu pengetahuan Barat modern, tapi orangnya nyaris terlupakan.
Sejarawan sains seperti George Saliba dalam bukunya Islamic Science and the Making of the European Renaissance (MIT Press, 2007) mencatat bahwa sains Islam — termasuk karya al-Khwarizmi — adalah fondasi langsung bagi Renaisans Eropa. Tapi narasi populer sering melompat dari Yunani kuno langsung ke Eropa, seolah Zaman Keemasan Islam tidak pernah ada.
Untungnya, sejarah sedang diluruskan. Nama al-Khwarizmi kini tertera di berbagai penghargaan sains internasional, buku teks, dan bahkan kawah di Bulan yang dinamai sesuai namanya.
Yang Bisa Kita Pelajari dari Hidupnya
Al-Khwarizmi hidup di ekosistem yang merayakan pengetahuan lintas batas. Bayt al-Hikmah mengumpulkan ilmuwan Muslim, Kristen, Yahudi, dan Zoroastrian untuk berkolaborasi. Tidak ada tembok ideologi yang menghalangi pertukaran ide.
Dia juga menunjukkan sesuatu yang sering kita lupakan: ilmu pengetahuan bersifat kumulatif dan lintas budaya. Angka yang dia sebarkan berasal dari India. Astronomi yang dia kerjakan melanjutkan tradisi Yunani dan Persia. Dia tidak menciptakan dari nol — dia menyintesis, menyempurnakan, dan meneruskan.
Persis seperti yang kita lakukan sekarang, setiap kali kita belajar sesuatu dari orang lain dan membuatnya lebih baik.
Ingat: Setiap kali kamu mengetik angka atau menjalankan sebuah program, kamu sedang memakai warisan seorang ilmuwan dari Baghdad yang nama lengkapnya bahkan jarang kita sebut.
Referensi & Resources:
J.J. O'Connor & E.F. Robertson, "Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi", MacTutor History of Mathematics, University of St Andrews — https://mathshistory.st-andrews.ac.uk/Biographies/Al-Khwarizmi/
George Saliba, Islamic Science and the Making of the European Renaissance, MIT Press (2007)
Roshdi Rashed, "Al-Khwarizmi: The Beginnings of Algebra", Saqi Books (2009)
Jim Al-Khalili, Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science, Penguin (2010)
UNESCO, "1200 Years of Al-Khwarizmi" — dokumentasi peringatan kontribusinya untuk sains dunia