Akal dan Kontroversi: Pemikiran Filsafat Abu Bakar Al-Razi

1.100 tahun lalu, seorang dokter menulis buku kedokteran terlengkap di dunia dan dituduh sesat. Namanya Al-Razi — dan faktanya jauh lebih kompleks dari tuduhannya.

#ilmuwanislam #filsufislam #alrazi

Admin Moco
10 menit baca

Bayangkan seorang dokter yang merawat pasien miskin secara gratis, menulis lebih dari 200 buku ilmiah, menemukan cara membedakan cacar dengan campak—dan di saat yang sama, dituduh sesat oleh lawan-lawan intelektualnya.

Di abad ke-9 Masehi, di tengah kejayaan peradaban Islam, lahir seorang ilmuwan yang terlalu jujur untuk zamannya. Namanya Muhammad ibn Zakariya al-Razi. Di Eropa abad pertengahan, dia dikenal sebagai Rhazes. Dan kontribusinya terhadap kedokteran modern jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang tahu.

Yang menarik bukan hanya apa yang dia temukan. Tapi bagaimana cara berpikirnya—dan betapa beraninya dia untuk berpikir seperti itu.

Dokter Empiris di Zaman yang Masih Percaya Sihir

Al-Razi lahir sekitar tahun 865 M di Ray, dekat Teheran modern (Iran sekarang). Dia memulai karir bukan sebagai dokter, melainkan sebagai musisi dan penukar uang. Baru di usia 30-an dia belajar kedokteran—terlambat untuk standar zamannya, tapi justru itu yang membuatnya berbeda.

Karena sudah dewasa saat mulai belajar, Al-Razi tidak sekadar menghafal. Dia mempertanyakan segalanya.

Saat itu, praktik medis masih campur aduk antara ilmu, teologi, dan takhayul. Banyak dokter mendiagnosis penyakit berdasarkan astrologi atau teori humor (cairan tubuh) yang diwariskan dari Yunani kuno tanpa dikritisi. Al-Razi berbeda: dia melakukan sesuatu yang sangat sederhana tapi revolusioner—dia mengamati pasien secara langsung, mencatat gejala, membandingkan kasus, dan menarik kesimpulan dari data nyata.

Ini yang kita sebut metode klinis empiris — dasar dari kedokteran modern. Dan Al-Razi adalah salah satu yang pertama mempraktikkannya secara sistematis.

"Kebenaran dalam kedokteran adalah tujuan yang tidak pernah sepenuhnya tercapai, dan seni yang ditulis dalam teks-teks kita masih jauh dari sempurna." — Al-Razi

Kalimat itu ditulis lebih dari seribu tahun lalu. Tapi bunyinya seperti sesuatu yang bisa muncul di jurnal sains kontemporer.

Kitab al-Hawi — Wikipedia Kedokteran Abad ke-9

Karya terbesar Al-Razi adalah Kitab al-Hawi fi al-Tibb — dalam bahasa Latin diterjemahkan sebagai Continens (Ensiklopedia Kedokteran). Ini bukan buku biasa. Ini adalah kompilasi raksasa — lebih dari 20 volume — yang merangkum seluruh pengetahuan medis dari Yunani, Persia, India, dan pengalaman klinis Al-Razi sendiri.

Yang penting dicatat: Al-Razi tidak hanya menyalin. Dia mengevaluasi. Jika temuan Galen (dokter Yunani legendaris) bertentangan dengan observasinya sendiri, dia tidak ragu menulis: "Galen salah dalam hal ini."

Kitab al-Hawi kemudian diterjemahkan ke Latin pada 1279 M dan menjadi salah satu buku teks kedokteran paling berpengaruh di universitas-universitas Eropa selama berabad-abad. Universitas Bologna, Paris, dan Oxford menggunakannya sebagai referensi utama.

Kontribusi konkretnya meliputi:

  • Deskripsi penyakit alergi dan hubungannya dengan musim (hay fever)
  • Penggunaan alkohol sebagai antiseptik — pertama kali dalam sejarah
  • Catatan klinis tentang penyakit ginjal, cacar, dan kondisi psikiatris
  • Penggunaan benang usus (catgut) untuk menjahit luka operasi — praktik yang bertahan hingga abad ke-20

Cacar vs Campak — Sebuah Breakthrough yang Menyelamatkan Jutaan Nyawa

Karya Al-Razi yang paling langsung berdampak pada jutaan orang adalah Kitab al-Judari wa al-Hasbah — buku tentang cacar (smallpox) dan campak (measles).

Sebelum Al-Razi, kedua penyakit ini sering dianggap sama atau setidaknya tidak dibedakan secara klinis. Ini berbahaya: penanganannya berbeda, dan keliru mengidentifikasi bisa berakibat fatal.

Al-Razi adalah ilmuwan pertama dalam sejarah yang secara sistematis membedakan keduanya berdasarkan gejala klinis yang dapat diamati:

  • Cacar: demam tinggi lebih awal, ruam muncul setelah beberapa hari, rasa sakit lebih intens
  • Campak: munculnya ruam lebih cepat, disertai batuk dan pilek

Buku ini begitu akurat sehingga diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa dan terus dicetak ulang hingga abad ke-18. Menurut sejarawan sains George Sarton dalam Introduction to the History of Science (1927), ini adalah "salah satu karya paling orisinal dan penting dalam literatur medis seluruh dunia."

Bukan sekadar pujian kosong — tanpa diferensiasi diagnostik ini, penanganan epidemi cacar dan campak yang berulang di Eropa dan Asia akan jauh lebih kacau dari yang sudah terjadi.

Bagian yang Perlu Dibaca dengan Hati-Hati — Kontroversi dan Pembelaan

Catatan penulis: Ini bagian yang paling sensitif dan paling sering disalahpahami. Saya berusaha menyampaikannya seberimbang mungkin — menampilkan tuduhan sebagaimana adanya, sekaligus memberikan ruang yang setara bagi argumen para ahli yang membelianya. Kesimpulan saya bukan bahwa Al-Razi benar atau salah dalam pandangan agama. Kesimpulan saya adalah: kita tidak cukup punya bukti untuk menghakiminya — dan kejujuran intelektual menuntut kita mengakui itu.

Al-Razi bukan hanya seorang dokter. Dia juga seorang filsuf — dan di sinilah warisannya menjadi kabur, diperebutkan, dan penuh tanda tanya yang hingga kini belum terjawab tuntas.

Kitab-Kitab yang Memicu Tuduhan

Ada tiga karya yang paling sering dikaitkan dengan tuduhan bahwa Al-Razi adalah seorang mulhid — istilah yang dalam konteks itu berarti sesat atau menolak agama.

Fi Nubuwwat (Tentang Kenabian) dan Fi Khiyal al-Mutanabbiin (Tentang Trik-Trik Orang yang Mengaku Nabi) — keduanya diklaim berisi argumen bahwa manusia tidak membutuhkan nabi, karena Tuhan telah menganugerahkan akal yang cukup untuk menemukan kebenaran tanpa perantara wahyu. Dari rekonstruksi yang ada, Al-Razi juga berpendapat bahwa semua manusia punya kapasitas akal yang setara — yang membedakan hanya pengalaman hidup, bukan derajat. Oleh karena itu, penghormatan berlebihan terhadap nabi dianggapnya tidak proporsional.

Makharul Anbiya — kitab ketiga yang bahkan lebih keras nada tuduhan di dalamnya. Namun justru kitab inilah yang paling diragukan keasliannya oleh para sejarawan.

Selain itu, Al-Razi juga mencetuskan Teori Lima Kekal (Al-Qudama al-Khamsah): bahwa ada lima entitas yang bersifat qadim (kekal, tidak bermula), yaitu Allah, Jiwa Universal (An-Nafs al-Kulliyah), Materi Pertama (Al-Hayula al-Ula), Ruang Mutlak (Al-Makan al-Mutlaq), dan Waktu Mutlak (Az-Zaman al-Mutlaq). Dalam teologi Islam arus utama, hanya Allah yang bersifat kekal — sehingga teori ini secara teologis sangat kontroversial.

Penting dicatat: kita tidak memiliki teks asli dari karya-karya di atas. Semua yang kita ketahui tentang isinya berasal dari kutipan pengkritiknya — terutama Abu Hatim al-Razi, seorang tokoh kelompok Ismailiyah, dalam karyanya A'lam al-Nubuwwah.

Pembelaan Para Ahli — Dan Mengapa Ini Perlu Didengar

Di sinilah gambarannya berubah secara signifikan. Sejumlah sarjana terkemuka memberikan argumen yang cukup kuat untuk meragukan — atau setidaknya memperhalus — tuduhan tersebut.

Paul Kraus mencatat satu detail yang sangat krusial: dalam A'lam al-Nubuwwah, Abu Hatim tidak secara eksplisit menyebut nama "Abu Bakar al-Razi" sebagai sosok mulhid yang ia debat. Penisbatan tuduhan itu kepada Al-Razi adalah kesimpulan yang ditarik oleh pembaca belakangan — bukan pernyataan langsung dari sumber primernya sendiri. Ini bukan detail kecil; ini berarti fondasi dari seluruh tuduhan tersebut tidak sekokoh yang selama ini diasumsikan.

Al-Biruni — ilmuwan besar yang hidup satu generasi setelah Al-Razi — justru menunjukkan kontradiksi antara tuduhan dengan karya Al-Razi yang lain. Al-Razi menulis Fi Wujub id-Da'wat ila an-Nabi — sebuah kitab yang membahas kewajiban menyebarkan ajaran para nabi. Bagaimana mungkin seseorang yang menolak kenabian secara fundamental juga menulis tentang kewajiban berdakwah?

Syekh Abdul Latif al-Abd mengingatkan bahwa tuduhan sesat dalam konteks era Abbasiyah sering digunakan sebagai senjata rivalitas politik dan mazhab. Abu Hatim al-Razi dari kelompok Ismailiyah memang berseberangan dengan Al-Razi dalam banyak perdebatan intelektual — dan ada insentif yang kuat untuk memframing lawan sebagai sesat.

Peter Adamson, filsuf dari King's College London yang banyak meneliti filsafat Islam klasik, menawarkan bacaan yang lebih bernuansa: Al-Razi kemungkinan besar mengkritik cara beragama yang tidak kritis — taklid buta, dogmatisme, dan penggunaan mukjizat sebagai pengganti argumen rasional — bukan agama itu sendiri. Al-Razi ingin kebenaran agama pun diuji melalui burhan (demonstrasi rasional), bukan diterima begitu saja karena otoritas.

Ibnu Abi Usaibah, penulis sejarah kedokteran abad ke-13, meragukan keaslian Makharul Anbiya dan menduga kitab itu ditulis oleh musuh Al-Razi untuk menjelek-jelekkannya. Alasannya konkret: karya-karya Al-Razi yang lain — termasuk Sirrul Asror — dibuka dengan selawat dan pujian kepada Nabi Muhammad. Sulit membayangkan seseorang yang secara tulus menolak kenabian membuka karyanya dengan cara seperti itu.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Simpulkan?

Dengan jujur: tidak banyak yang bisa disimpulkan dengan kepastian penuh.

Yang kita tahu pasti adalah Al-Razi seorang rasionalis yang tidak segan mempertanyakan otoritas — baik dalam kedokteran maupun filsafat. Yang tidak kita tahu pasti adalah apakah pemikiran "radikal" yang diatribusikan kepadanya benar-benar miliknya, atau sebagian merupakan konstruksi para lawan politiknya.

Argumen para pembela cukup kuat untuk membuat kita tidak terburu-buru menghakimi. Fakta bahwa sumber tuduhan utama berasal dari rival intelektual, bahwa nama Al-Razi tidak disebutkan eksplisit dalam teks tersebut, bahwa karya-karyanya yang lain menunjukkan penghormatan terhadap agama — semua ini adalah bukti yang layak dipertimbangkan.

Al-Razi mungkin bukan orang yang digambarkan para pengkritiknya. Tapi kita juga belum cukup tahu untuk memastikan sebaliknya.

Yang bisa digarisbawahi dengan aman: kasus Al-Razi adalah pengingat bahwa sejarah intelektual jarang hitam-putih — dan menghakimi seseorang berdasarkan laporan musuhnya, tanpa teks asli, tanpa hak jawab, adalah sesuatu yang ironisnya bertentangan dengan semangat berpikir kritis yang justru Al-Razi perjuangkan.

Mengapa Gen Z Perlu Tahu Al-Razi

Bukan soal nasionalisme peradaban atau kebanggaan warisan Islam. Ada sesuatu yang lebih universal dari itu.

Al-Razi hidup di masa ketika otoritas agama, otoritas medis Yunani kuno, dan otoritas politik semuanya berkata: "Percaya saja, jangan tanya." Dan dia memilih untuk bertanya. Bukan karena dia nihilis atau ingin provokasi, tapi karena baginya kebenaran hanya bisa ditemukan melalui pengamatan, eksperimen, dan pikiran kritis.

Di era sekarang — ketika misinformasi menyebar lebih cepat dari fakta, ketika algoritma memberi kita konten yang mengonfirmasi apa yang sudah kita percayai — cara berpikir Al-Razi terasa sangat relevan.

Tiga pelajaran konkret yang bisa kita ambil dari cara kerja Al-Razi:

1. Verifikasi sebelum percaya — Al-Razi tidak menolak Galen atau dokter Yunani lainnya karena ego. Dia mengujinya. Jika hasilnya berbeda, dia menulis perbedaan itu. Sekarang: fact-check sebelum share.

2. Pisahkan otoritas dari kebenaran — Seseorang bisa punya titel, jabatan, atau reputasi besar tapi tetap salah. Al-Razi mengkritik Galen meski Galen adalah "dewa"-nya dunia medis. Sekarang: evaluasi argumen, bukan orangnya.

3. Data dulu, kesimpulan kemudian — Al-Razi mengamati ratusan pasien sebelum menulis tentang cacar dan campak. Dia tidak menulis dari asumsi. Sekarang: bedakan antara "terasa benar" dengan "terbukti benar."

Warisan yang Hampir Terlupakan

Al-Razi meninggal sekitar tahun 925 M, dalam kondisi hampir buta — konon akibat terlalu banyak membaca dan menulis. Dia menyisakan lebih dari 200 karya tulis, meski banyak yang tidak bertahan.

Di Eropa, namanya (Rhazes) terukir di aula universitas-universitas tertua. Di dunia Arab dan Islam, dia lebih dikenal sebagai dokter tapi lebih jarang dirayakan dibanding Al-Ghazali atau Ibn Rushd — mungkin karena kontroversi pemikirannya.

Tapi sains tidak pernah benar-benar melupakan Al-Razi. Metodenya — observasi, pencatatan, pengujian, revisi — adalah jantung dari praktik kedokteran modern. Setiap kali dokter membedakan dua penyakit berdasarkan gejala klinis, ada sedikit DNA dari cara berpikir Al-Razi di sana.

Ingat: Ilmu pengetahuan tidak dibangun oleh orang-orang yang nyaman dengan jawaban yang sudah ada. Dia dibangun oleh orang-orang yang berani bertanya lebih jauh — meski itu tidak populer.


Referensi & Resources:

  • George Sarton, Introduction to the History of Science, Vol. 1 (1927) — Williams & Wilkins
  • Manfred Ullmann, Islamic Medicine (1978) — Edinburgh University Press
  • Al-Razi, Kitab al-Judari wa al-Hasbah — diterjemahkan William Alexander Greenhill (1848), edisi digital tersedia via Wellcome Collection
  • Abu Hatim al-Razi, A'lam al-Nubuwwah — sumber primer rekonstruksi pemikiran filsafat Al-Razi; perlu dibaca dengan catatan bahwa penisbatan ke Al-Razi masih diperdebatkan (lihat Paul Kraus)
  • Paul Kraus, Abi Bakr Mohammadi Filii Zachariae Ragensis Opera Philosophica (1939) — catatan kritis tentang ketidakpastian atribusi karya filsafat Al-Razi
  • Sarah Stroumsa, Freethinkers of Medieval Islam: Ibn al-Rawandi, Abu Bakr al-Razi, and Their Impact on Islamic Thought (1999) — Brill Academic Publishers
  • Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World (2016) — Oxford University Press; bacaan lebih bernuansa tentang posisi Al-Razi
  • Lenn E. Goodman, "Muhammad ibn Zakariyya' al-Razi" dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr (1996)
  • Pormann & Savage-Smith, Medieval Islamic Medicine (2007) — Edinburgh University Press
  • Encyclopaedia Iranica: Al-Razi entry

Admin Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Sejarah & Wawasan: