Kita Bekerja, Lalu Lupa Bertanya — untuk Apa Semua Ini?

Di balik rutinitas yang terus berputar, ada satu pertanyaan yang sengaja kita tunda — dan sistem memang mendesain itu.

#filsafat #kerja #burnout #maknahidup #kesehatanmental

Kreator Moco
8 menit baca

Senin pagi. Alarm berbunyi pukul 06.15. Kamu bangun, mandi, sarapan sambil scroll notifikasi. Macet. Rapat. Deadline. Makan siang di meja kerja. Rapat lagi. Pulang larut. Tidur. Senin lagi.

Suatu titik di tengah siklus itu — mungkin saat lampu merah, mungkin saat menunggu lift — ada sesuatu yang hampir muncul ke permukaan. Semacam pertanyaan yang hampir terbentuk. Tapi sebelum sempurna, notifikasi berbunyi, dan kamu kembali ke mode autopilot.

Itulah yang ingin kita bicarakan. Bukan soal cara kerja lebih produktif. Bukan tips mengelola stress. Tapi pertanyaan yang justru paling sering kita hindari: untuk apa, sebenarnya, semua ini kita lakukan?

Ketika Lelah Bukan Hanya Soal Kurang Tidur

Ada yang berbeda dari kelelahan yang dirasakan generasi sekarang. Bukan sekadar capek fisik — itu bisa sembuh dengan istirahat. Yang lebih berat adalah kelelahan yang tidak pergi meski sudah libur panjang. Kamu pulang dari Bali, istirahat tiga hari, tapi hari Senin terasa persis sama seperti sebelum pergi.

Survei Deloitte Global 2025 terhadap lebih dari 23.000 responden Gen Z dan milenial menemukan bahwa 36% Gen Z merasa kelelahan hampir sepanjang waktu, sementara 35% merasa memiliki jarak emosional dari pekerjaan mereka sendiri. Angka itu bukan statistik kelelahan biasa — itu adalah tanda keterasingan. Bekerja tanpa merasa terhubung dengan apa yang dikerjakan.

Laporan Eagle Hill Consulting 2024 mencatat 54% karyawan Gen Z mengalami burnout, angka tertinggi dibanding generasi mana pun sebelumnya, melampaui milenial di angka 52% dan Gen X di 42%.

Dan yang perlu dicatat: burnout bukan sekadar kelelahan. Dalam definisi WHO, burnout adalah sindrom yang lahir dari stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola — ditandai oleh tiga hal: habisnya energi, meningkatnya jarak mental dari pekerjaan, dan berkurangnya perasaan mampu. Kamu masih hadir, tapi sesuatu di dalammu sudah tidak benar-benar ada.

Penelitian dari Journal of Economics, Business, and Accountancy Ventura (2024–2025) secara spesifik meneliti karyawan Gen Z di Indonesia dan menemukan bahwa beban kerja memiliki efek positif yang signifikan terhadap burnout, dengan stres kerja sebagai mediator yang memperkuat hubungan tersebut. Sederhananya: semakin berat beban, semakin besar stres, semakin dalam burnout.

Tapi pertanyaan yang jarang diajukan adalah: mengapa beban itu terasa berat bahkan ketika pekerjaan itu secara objektif tidak lebih keras dari pekerjaan generasi sebelumnya?

André Gorz dan Sistem yang Mendesain Kealpaan

Filsuf dan sosiolog Austria-Prancis André Gorz menghabiskan sebagian besar hidupnya menulis tentang satu hal: apa yang kapitalisme lakukan pada hubungan manusia dengan pekerjaannya.

Gorz berargumen bahwa sistem ekonomi modern tidak hanya membuat kita sibuk bekerja — sistem itu secara aktif memisahkan kita dari makna pekerjaan itu sendiri. Dalam bukunya Farewell to the Working Class (1980), ia menggambarkan keterasingan kerja kontemporer: tidak ada yang tahu persis untuk apa hal-hal yang diproduksi itu sebenarnya — dan dalam banyak kasus, tidak ada yang peduli.

Empat puluh tahun kemudian, deskripsinya terasa lebih relevan, bukan kurang.

Gorz menunjukkan bagaimana kapitalisme secara historis memaksakan model full-time employment pada kelas pekerja — sebuah konstruksi sosial yang memisahkan kerja dari kehidupan yang lebih luas, dari pilihan, dari aktivitas yang bermakna di luar pasar. Kerja tidak lagi dipilih berdasarkan kebutuhan atau musim atau keputusan personal, melainkan distandarkan menjadi komoditas waktu yang dijual.

Yang lebih mengganggu dari argumen Gorz adalah ini: sistem tidak perlu memaksa kamu untuk tidak bertanya. Cukup dengan membuatmu terlalu sibuk untuk bertanya. Gorz menyebut para pekerja yang mulai mencari kerja yang lebih bermakna sebagai "pionir re-apropriasi waktu" — mereka yang berani kembali mengajukan pertanyaan tentang nilai ("apakah ini berharga?") bukan sekadar pertanyaan tentang harga ("berapa ini nilainya?").

Dua pertanyaan yang terdengar mirip, tapi menuju dua tempat yang sangat berbeda.

Paradoks Makna: Kita Tahu Apa yang Kita Inginkan, Tapi Tetap Melakukan Sebaliknya

Deloitte Global 2025 menemukan bahwa ketika ditanya faktor apa yang memengaruhi keputusan karir mereka, Gen Z dan milenial menyebut tiga hal: uang, makna, dan kesejahteraan. Bukan semata-mata jabatan atau prestise.

Lebih dari 89% Gen Z dan 92% milenial mengatakan bahwa rasa tujuan (sense of purpose) adalah hal penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka. Hampir semua orang. Nyaris bulat.

Tapi di saat yang sama, mayoritas masih terjebak dalam pola kerja yang tidak memberi mereka makna itu. Lalu kenapa?

Karena tahu apa yang kamu inginkan tidak otomatis membuat sistem yang ada memberi ruang untuk itu. Gorz mengingatkan bahwa praktik manajerial modern — dengan janji otonomi dan keterlibatan yang lebih besar — justru seringkali semakin memperbudak pekerja. "Otonomi" bisa berarti bekerja mandiri tanpa hak, tunduk pada tenggat waktu perusahaan atau bahkan pengawasan algoritmik.

Hustle culture adalah versi terbaru dari mekanisme ini. Ia tidak memerintahmu bekerja keras — ia membuatmu percaya bahwa bekerja keras adalah identitasmu. Kalau lelah, itu kamu yang kurang tangguh. Kalau bertanya "untuk apa ini?", itu kamu yang kurang bersyukur.

Studi terhadap 26 karya fiksi Indonesia yang terbit 2015–2024 menemukan bahwa burnout muncul dalam 92% teks tersebut, sementara 83% tempat kerja yang digambarkan dalam fiksi itu melanggar batas antara kerja dan kehidupan pribadi. Burnout digambarkan bukan sebagai kegagalan individu, melainkan sebagai kondisi struktural yang diproduksi sistem organisasi yang toksik.

Artinya, bahkan narasi budaya populer kita sudah lama menggambarkan ini — kita hanya belum cukup serius mengakuinya.

Pertanyaan yang Ditunda Itu Tidak Pergi

Ada yang perlu diluruskan: tulisan ini bukan ajakan untuk berhenti bekerja, atau romantiasi kemiskinan, atau manifesto anti-kapitalisme yang mudah. Hidup perlu penghidupan. Tagihan nyata. Tanggung jawab nyata.

Tapi ada perbedaan penting antara bekerja untuk hidup dan bekerja sampai lupa bagaimana caranya hidup.

Pertanyaan "untuk apa semua ini?" bukan pertanyaan yang lemah. Ia adalah pertanyaan paling manusiawi yang bisa kamu ajukan. Filsuf eksistensialis Victor Frankl, yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, menyimpulkan dari pengalamannya yang paling ekstrem bahwa manusia bisa bertahan menanggung hampir apa pun — selama ia tahu mengapa ia bertahan. Tanpa makna, bahkan kondisi paling nyaman pun bisa terasa kosong.

Yang jadi masalah bukan pertanyaan itu muncul. Masalahnya adalah kita sudah terlatih untuk segera menyingkirkannya.

Tiga Langkah Kecil Memulai Percakapan dengan Diri Sendiri

Tidak ada solusi instan untuk pertanyaan eksistensial. Tapi ada titik masuk yang realistis, yang bisa dimulai dalam waktu kurang dari seminggu:

Pertama, jadwalkan 15 menit "pertanyaan tanpa jawaban". Bukan meditasi, bukan journaling yang terstruktur. Cukup duduk dengan satu pertanyaan: Kalau pekerjaan ini hilang besok, apa yang akan aku rindukan — dan apa yang tidak akan aku rindukan sama sekali? Jawabannya lebih informatif dari yang kamu kira.

Kedua, bedakan antara kelelahan karena beban dan kelelahan karena kekosongan. Keduanya terasa mirip dari luar, tapi akarnya berbeda. Beban bisa dikurangi dengan istirahat dan delegasi. Kekosongan tidak. Ia butuh makna — atau setidaknya, pertanyaan tentang makna.

Ketiga, izinkan dirimu tidak tahu. Gorz tidak menawarkan jawaban mudah. Ia bahkan mengakui bahwa dalam sistem produksi modern yang kompleks, sejumlah keterasingan dari pekerjaan adalah tak terhindarkan, karena bahkan kelompok kerja yang paling otonom sekalipun bekerja dalam kerangka tujuan yang lebih besar yang tidak mereka pilih sendiri. Tapi tidak tahu bukan berarti tidak perlu bertanya. Justru sebaliknya.

Mungkin Itu Bukan Pertanyaan yang Harus Ditakuti

Rutinitas punya kekuatan luar biasa untuk membuat hal-hal penting terasa tidak mendesak. Tagihan mendesak. Deadline mendesak. Rapat mendesak. Tapi pertanyaan tentang makna? Itu bisa nanti. Selalu nanti.

Sampai suatu hari — dan ini terjadi pada hampir semua orang di suatu titik dalam hidupnya — "nanti" itu terasa tidak pernah datang, dan kamu mendapati dirimu sudah sangat jauh berjalan tanpa pernah memeriksa arahnya.

André Gorz meninggal pada 2007, dan hal yang paling dikenang darinya bukan teorinya tentang kapitalisme — melainkan surat yang ia tulis untuk istrinya, Dorine, yang sedang sekarat karena penyakit langka. Ia menulis: "Kamu baru saja merayakan ulang tahunmu yang ke-82. Kamu masih cantik, anggun, dan menakjubkan... Aku ingin menulis tentang kehidupan kita bersama, tentang ketidaksempurnaan kita, kebahagiaan kita, dan kedalaman ikatan kita."

Ia, yang sepanjang hidupnya menulis tentang kerja dan ekonomi, pada akhirnya menemukan bahwa yang paling nyata adalah hal-hal yang tidak bisa diukur dengan produktivitas apa pun.

Pertanyaan "untuk apa semua ini?" bukan ancaman bagi kehidupanmu yang sekarang. Ia adalah undangan untuk memastikan bahwa kamu yang memilih kehidupan itu — bukan sekadar terseret olehnya.

Ingat: Rutinitas yang tidak pernah dipertanyakan bukan stabilitas. Itu hanyalah otopilot yang belum pernah kamu putuskan untuk dinyalakan.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: