Saham Figma turun sekitar 7% hanya dalam beberapa jam setelah Anthropic mengumumkan Claude Design pada April 2026. Bukan panik tanpa alasan — pasar membaca sesuatu yang nyata: ada tool baru yang dengan serius mengancam bagian tertentu dari workflow desainer profesional.
Tapi benarkah Claude Design bisa menggantikan Figma? Pertanyaan ini sudah dijawab langsung oleh Nolen Jonker, penulis teknologi di XDA Developers, yang benar-benar menggunakannya dalam pekerjaan sehari-hari. Hasilnya lebih nuanced dari sekedar "tool baru vs tool lama" — dan justru di sanalah cerita yang menarik dimulai.
Apa Sebenarnya Claude Design Itu?
Sebelum masuk ke perbandingan, penting untuk memahami posisi Claude Design dalam lanskap tool desain saat ini.
Anthropic meluncurkan Claude Design secara resmi pada 17 April 2026, ditenagai model Claude Opus 4.7. Menurut laporan Medcom.id, produk ini dirancang untuk membantu pengguna tanpa latar belakang desain — seperti founder dan product manager — agar dapat menyampaikan ide mereka dalam bentuk visual yang lebih mudah dipahami. Sederhananya: kamu ketik deskripsi, Claude langsung bikin prototipe UI/UX, slide deck, atau mockup — tanpa perlu buka Figma atau Canva.
Yang membedakan Claude Design dari sekadar "AI bikin gambar" adalah pendekatannya terhadap workflow. Anthropic tidak sekadar membuat alat pembuat gambar, melainkan sebuah sistem cerdas yang memahami workflow desain. Ada fitur yang disebut "Tweaks" — setelah setiap generasi, Claude memunculkan kontrol editing kontekstual: palet warna, font weight, spacing, padding, corner radius. Kamu bisa fiddle tanpa reprompt, yang artinya tidak membakar token sambil berharap AI tidak mengubah bagian yang sudah kamu suka.
Output bisa diekspor ke Canva, PDF, PPTX, HTML, atau langsung diteruskan ke Claude Code. Ada juga integrasi design system: Claude Design dapat membaca codebase dan file desain perusahaan, sehingga setiap proyek baru otomatis menggunakan guideline brand yang konsisten.
Sampai di sini, terdengar seperti game-changer. Dan dalam banyak hal — memang iya.
Di Mana Claude Design Benar-benar Unggul
Jonker menyebut satu keunggulan yang sulit dibantah: kecepatan menuju sesuatu yang bisa direspons.
Dengan Figma, membuka canvas kosong dan mencoba materiliasikan layout dari kepala sendiri — terutama saat masih belajar — adalah bagian paling berat dari proses. Dengan Claude Design, kamu bisa mulai dengan ide yang masih samar. Deskripsikan vibe-nya, dan dalam hitungan detik (kadang menit untuk multi-screen), kamu sudah punya sesuatu untuk dievaluasi atau direaksi.
Selain itu, ada fleksibilitas iterasi yang cukup menarik: minta dua atau tiga variasi layout sekaligus dalam satu prompt, sketch langsung di canvas dengan fitur Draw sebagai referensi, atau drop screenshot app yang disukai dan minta Claude ekstrak strukturnya.
Data dari survei Canva 2025 menunjukkan bahwa 85% marketer dan kreator melaporkan menghemat sekitar empat jam per minggu berkat GenAI tools. Claude Design berpotensi mendorong angka ini lebih tinggi untuk fase eksplorasi dan prototyping awal.
Untuk cerpen sufistik dalam desain produk — momen ketika ide yang abstrak tiba-tiba menemukan bentuk visual pertamanya — Claude Design memang memuaskan secara intuitif. Ini bukan soal efisiensi semata, tapi soal momentum kreatif yang tidak terputus oleh friction teknis.
Batas yang Belum Bisa Dilewati Claude Design
Di sinilah Jonker jujur dan ini yang paling penting: Claude Design tidak bisa menggerakkan elemen secara manual.
Kamu bisa mengubah tampilannya, tapi tidak bisa menarik elemen 10 piksel ke kiri atau memindahkannya ke tempat lain di layout. Untuk melakukan itu, kamu harus kembali ke chat dan mendeskripsikan dalam kata-kata sesuatu yang bisa dilakukan dalam setengah detik dengan klik-dan-drag. Dan tidak ada jaminan integritas keseluruhan build akan terjaga setelah reprompt.
Ini bukan soal fitur kecil. Manipulasi langsung atas elemen adalah fondasi dari desain profesional — bukan fitur opsional, melainkan cara berpikir desainer bekerja. Figma unggul justru di sini.
Lebih jauh, ada tiga fitur Figma yang tidak bisa direplikasi Claude Design hanya dengan prompt:
- Auto Layout — menangani responsive spacing secara otomatis
- Constraints — mendefinisikan bagaimana elemen berperilaku ketika frame di-resize
- Components — menjaga konsistensi setiap instance tombol atau card di seluruh screen
Ketiganya bukan fiddly extras. Ketiganya adalah perbedaan antara static mockup dan desain yang benar-benar tahan uji saat ada perubahan.
Soal prototyping interaktif pun serupa. Claude Design bisa menghasilkan animasi CSS, hover states, bahkan efek 3D. Tapi kamu tidak bisa wire up flow sendiri. Di Figma, kamu bisa menggambar panah dari satu frame ke frame lain dan mendefinisikan dengan tepat apa yang terjadi saat klik, ke mana perpindahannya, dan bagaimana transisinya. Di Claude Design, interaktivitas di-generate untukmu — dan kalau flownya salah, kamu prombt lagi dan berharap.
Figma Masih Raja, Tapi Bukan Alasan untuk Tidak Beralih ke Hybrid
Fakta pasar berbicara cukup keras. Berdasarkan analisis teknografi 6sense, Figma memegang sekitar 40,65% pangsa pasar dalam kategori collaborative design and prototyping per pertengahan 2026, jauh melampaui Adobe XD di 13,5% dan InVision di 7,6%. Figma digunakan oleh 93% organisasi di bidang software design dan hampir 95% perusahaan Fortune 500.
Dominasi itu tidak lahir dari marketing — tapi dari kenyataan bahwa desainer membangun seluruh workflow, design system, dan component library mereka di atas paradigma Figma. Itu tidak bisa diganti oleh tool baru dalam hitungan bulan, sebagus apapun tool itu.
Tapi Jonker menemukan solusi kerja yang elegan: gunakan keduanya bersama-sama.
Workflow paling sederhana: screenshot wireframe kasar dari Figma, paste ke Claude Design dengan prompt vibe seperti "gunakan layout ini tapi buat terasa lebih playful", lalu tarik kembali ide-ide yang disukai ke Figma secara manual. Tidak butuh setup apapun.
Untuk yang ingin alur lebih mulus, ada plugin Figma bernama html.to.design (tersedia di Figma Community) yang bisa dipadukan dengan Chrome extension-nya. Ekspor preview Claude Design, download file, drag ke plugin — dan desain muncul di Figma sebagai frame berlapis penuh dengan semua elemen yang bisa diedit. Model kolaborasi antar platform — alih-alih penggantian total — tampaknya merupakan pendekatan yang paling realistis dalam jangka pendek dan menengah.
Siapa yang Paling Diuntungkan dari Dinamika Ini?
Cerita Claude Design vs Figma sebenarnya bukan tentang satu tool mengalahkan yang lain. Ini tentang siapa penggunanya dan di fase mana dalam proses desain.
Untuk non-desainer — founder, product manager, marketer — Claude Design adalah pintu masuk yang jauh lebih manusiawi ke dunia visual. Tidak perlu belajar bertahun-tahun untuk mengkomunikasikan ide secara visual. Claude Design memungkinkan siapa saja membuat aset visual profesional dari prompt teks, tanpa harus membuka Figma atau Canva terlebih dahulu.
Untuk desainer profesional, Claude Design adalah akselerator di fase eksplorasi — bukan pengganti di fase eksekusi. Prototipe cepat, iterasi visual, eksplorasi konsep — semua jadi lebih cepat. Tapi finishing, precise interaction design, dan production-ready handoff masih butuh tangan di Figma.
Menurut data Figma sendiri, 33% desainer sudah menggunakan AI untuk generate design assets, dan 22% menggunakannya untuk membuat first draft antarmuka atau website. Angka ini akan terus naik — dan Claude Design kemungkinan besar akan menjadi salah satu kontributornya.
Yang paling menarik dari evolusi ini: barrier masuk untuk membuat prototype yang terlihat bagus kini jauh lebih rendah. Kualitas akhir masih ditentukan oleh tangan yang menyentuh Figma — tapi jalan menuju sana jadi lebih accessible untuk semua orang.
Ingat: Tool terbaik bukan yang paling canggih, tapi yang paling tepat untuk fase pekerjaan yang sedang kamu hadapi.
Referensi & Resources:
- Nolen Jonker, XDA Developers — I replaced Figma with Claude Design for iteration, but I still need it for one critical task
- Olakses.com — Apa Itu Claude Design? Fitur, Cara Kerja, dan Siapa yang Perlu Pakai
- Medcom.id — Anthropic Luncurkan Claude Design, AI Buat Desain Interaktif
- SQ Magazine — Figma Statistics 2026: Revenue, Users & IPO
- Figma Resource Library — Design Statistics 2025
- Dilatih.co — Mengenal Claude Design: Fitur AI Baru Anthropic & Fungsinya
- Tecnoloblog.com — Claude Design: Apa Itu, Bagaimana Cara Kerjanya