Eksistensialisme dan Krisis Identitas di Era Mesin Berpikir

Ketika AI bisa menggantikan pekerjaanmu, pertanyaan Sartre 80 tahun lalu tiba-tiba jadi sangat relevan: siapa kamu sebenarnya?

#filsafat #eksistensialisme #AI #krisisidentitas #generasiz

Kreator Moco
8 menit baca

Seorang teman bercerita beberapa bulan lalu. Ia baru saja menyelesaikan skripsi, diterima di perusahaan konsultan ternama, dan merasa hidupnya akhirnya punya arah. Tiga bulan kemudian, atasannya memasang langganan ChatGPT Enterprise untuk seluruh tim. Pekerjaan yang sebelumnya menyita 70% waktunya — riset, menyusun laporan, analisis data dasar — kini diselesaikan AI dalam hitungan menit. "Aku nggak tahu lagi apa yang membuatku bernilai," katanya.

Bukan keluhan soal gaji. Bukan soal beban kerja yang terlalu berat. Ini krisis yang lebih dalam: pertanyaan tentang siapa dirinya, dan untuk apa ia bekerja.

Ironinya, pertanyaan itu bukan baru. Jean-Paul Sartre sudah mengajukannya pada 1945, di ruang kuliah École Normale Supérieure yang sesak, kepada generasi yang baru saja selamat dari perang. Bedanya, saat itu yang mengancam eksistensi manusia adalah bom dan fasis. Sekarang, ancamannya hadir dalam bentuk model bahasa 175 miliar parameter yang bisa menulis lebih cepat dan lebih rapi dari kita.

Ketika Mesin Mulai Mendefinisikan Kita Sebelum Kita Sempat Mendefinisikan Diri Sendiri

Sartre punya kalimat yang terkenal: "L'existence précède l'essence" — eksistensi mendahului esensi. Maksudnya: manusia tidak lahir dengan tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Kita hadir dulu di dunia, kemudian melalui pilihan dan tindakanlah kita membentuk siapa diri kita. Tidak ada blueprint manusia. Tidak ada pabrik jiwa yang mencetak kita dengan fungsi yang sudah ditetapkan.

Ini berbeda dengan benda mati. Kursi dibuat dengan tujuan: untuk diduduki. Paku dibuat untuk ditancapkan. Tapi manusia, kata Sartre, tidak demikian. Kita bukan produk yang punya manual penggunaan. Dalam Existentialism Is a Humanism (1946), Sartre menegaskan bahwa manusia "hadir dulu, menemukan dirinya, muncul ke dunia — dan baru kemudian mendefinisikan dirinya."

Masalahnya — dan ini yang relevan dengan kondisi kita hari ini — sebagian besar dari kita secara tidak sadar membiarkan pekerjaan yang mendefinisikan kita. "Aku adalah data analyst." "Aku adalah copywriter." "Aku adalah programmer." Identitas itu terasa kuat selama peran tersebut tidak bisa digantikan. Tapi begitu AI masuk, dan tiba-tiba 57% jam kerja manusia bisa diotomasi (menurut estimasi McKinsey, 2025), struktur identitas yang selama ini kita bangun di atas pekerjaan menjadi runtuh mendadak.

Ini bukan metafora. Ini literal.

Data yang Seharusnya Kita Baca dengan Serius

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memproyeksikan 92 juta pekerjaan akan tersisihkan oleh AI pada 2030, sementara 170 juta pekerjaan baru akan tercipta — menghasilkan net gain 78 juta posisi. Angka-angka ini sering dikutip dengan nada optimis: lebih banyak pekerjaan baru daripada yang hilang, bukan?

Masalahnya terletak di siapa yang terdampak dan kapan.

Goldman Sachs (April 2026) melaporkan AI memangkas sekitar 16.000 pekerjaan per bulan di AS, dan Gen Z yang menanggung beban terbesar — terkonsentrasi di peran-peran rutin seperti entri data, dukungan pelanggan, dan administrasi yang justru paling mudah diotomasi. Lowongan entry-level anjlok 29% sejak Januari 2024 — posisi yang selama ini menjadi tangga pertama karier seseorang.

Survei Cengage (2024) menemukan 51% lulusan baru mempertanyakan ulang pilihan karier mereka akibat kecepatan kemajuan AI. Dan General Assembly dalam survei terhadap lebih dari 1.180 pekerja dewasa menemukan 62% Gen Z percaya AI bisa menggantikan pekerjaan mereka dalam satu dekade ke depan.

Ini bukan sekadar kecemasan soal penghasilan. Ini kecemasan soal makna.

Sartre, Heidegger, dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Usang

Ketika Sartre bicara tentang kebebasan radikal, ia juga bicara tentang bebannya. Ia menyebutnya angoisse — kecemasan. Bukan kecemasan biasa, tapi kecemasan yang muncul justru karena kita sadar bahwa kita bebas. Bebas berarti tidak ada yang bisa disalahkan atas pilihan kita. Bebas berarti kita sendiri yang bertanggung jawab mendefinisikan siapa kita.

Di era AI, paradoks ini terasa lebih tajam. Di satu sisi, kita punya kebebasan yang belum pernah ada sebelumnya: AI bisa mengerjakan banyak hal rutin sehingga kita secara teoritis punya lebih banyak waktu untuk "hal yang lebih bermakna." Di sisi lain, kita kehilangan struktur yang selama ini memberi kita identitas dan ritme kehidupan.

Martin Heidegger, rekan sezaman Sartre, punya konsep Dasein — "being-in-the-world." Manusia tidak eksis dalam ruang hampa; kita selalu tertanam dalam jaringan makna: pekerjaan, relasi, komunitas, tradisi. Ketika AI merombak jaringan itu lebih cepat dari kemampuan kita beradaptasi, yang terjadi bukan sekadar pengangguran — tapi disorientasi ontologis. Kita kehilangan pegangan tentang di mana kita berada dalam tatanan dunia.

Penelitian dari Stanford University (2024) mencatat bahwa interaksi berlebihan dengan layar digital menurunkan kemampuan fokus dan empati. Ini bukan semata masalah screen time. Ini gejala dari generasi yang perlahan kehilangan kemampuan untuk hadir secara penuh — di dalam diri sendiri, di depan orang lain — karena selalu berada dalam mode reaktif terhadap notifikasi dan perubahan.

Dan ketika pekerjaan pun mulai terasa tidak aman, kecemasan itu berlipat.

Mauvaise Foi — Itikad Buruk terhadap Diri Sendiri

Ada konsep Sartre yang jarang dibahas tapi sangat relevan: mauvaise foi, atau "bad faith." Maksudnya adalah ketika kita berpura-pura tidak punya kebebasan — ketika kita menyerahkan tanggung jawab mendefinisikan diri kita kepada sesuatu di luar diri kita. "Aku begini karena pekerjaanku." "Aku bernilai karena jabatanku." "Identitasku adalah posisiku di kantor."

Sartre menyebut ini sebagai kebohongan terhadap diri sendiri.

Tapi jujur saja: sistem yang ada memang mendorong kita ke sana. Dari kecil kita diajarkan bahwa nilai diri ditentukan oleh produktivitas. Nilai rapor, ranking, IPK, posisi jabatan — semua itu adalah metrik eksternal yang kita internalisasi sebagai cermin identitas. Ketika AI tiba-tiba bisa mendapatkan nilai sempurna di semua metrik itu, rasanya seperti aturan main diubah di tengah pertandingan.

WEF memperkirakan 39% keterampilan kunci yang dibutuhkan pasar kerja akan berubah antara 2025-2030. Kita bicara tentang perubahan kompetensi hampir separuhnya dalam kurun waktu lima tahun. Tidak ada generasi sebelumnya yang menghadapi kecepatan perubahan ini.

Pertanyaannya bukan lagi "keahlian apa yang perlu kamu miliki?" Pertanyaannya adalah: siapa kamu ketika keahlian itu tidak lagi relevan?

Keluar dari Krisis — Tapi Bukan dengan Cara yang Mudah

Eksistensialisme tidak menawarkan obat mujarab. Sartre tidak pernah berjanji bahwa hidup itu nyaman. Yang ia tawarkan adalah kejujuran: hadapi kebebasanmu, terima tanggung jawabmu, dan berhenti menyerahkan definisi dirimu kepada hal-hal eksternal.

Dalam konteks era AI, ini berarti beberapa hal konkret.

Pertama, pisahkan identitasmu dari pekerjaanmu. Ini bukan nasihat klise. Ini kebutuhan psikologis mendasar. Ketika profesi berubah secepat sekarang, seseorang yang seluruh identitasnya terikat pada profesi tertentu akan selalu rentan terhadap krisis setiap kali terjadi perubahan teknologi. Camus punya kalimat yang relevan di sini: "In the depth of winter, I finally learned that within me there lay an invincible summer." Musim dingin teknologi tidak bisa merampas musim panas yang ada di dalam dirimu.

Kedua, sadari bahwa kecemasan itu wajar — bahkan perlu. Heidegger menyebut kecemasan (Angst) sebagai momen ketika kita paling jujur pada diri sendiri. Kecemasan yang kamu rasakan tentang relevansimu di era AI bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa kamu sedang menghadapi pertanyaan yang benar-benar penting. Jangan lari ke distraksi. Duduk dengan pertanyaan itu.

Ketiga, bedakan antara apa yang bisa dikerjakan AI dan apa yang hanya bisa dilakukan manusia dalam konteks relasi nyata. MIT's Andrew McAfee memperingatkan bahwa mengotomasi peran entry-level bisa menjadi bumerang — karena tanpa junior workers hari ini, tidak akan ada senior workers yang berpengalaman di masa depan. Manusia masih dibutuhkan. Tapi bukan sebagai mesin yang lebih lambat — melainkan sebagai agen moral, relasional, dan kreatif yang tidak bisa direduksi menjadi token dan probabilitas.

Kembali kepada Diri yang Paling Dasar

Krisis identitas di era AI, pada akhirnya, bukan tentang teknologi. Teknologi hanya menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan yang selalu ada tapi selama ini kita hindari: siapa saya, di luar semua peran yang saya mainkan?

Dalam tradisi Islam, pertanyaan ini punya akar yang dalam. Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menulis bahwa manusia yang tidak mengenal dirinya sendiri tidak akan pernah mengenal Tuhannya. Ma'rifat al-nafs — pengenalan diri — bukan kemewahan spiritual. Ini fondasi. Dan pengenalan diri itu tidak bisa dioutsource ke AI.

Generasi yang tumbuh bersama AI punya kesempatan yang jarang disadari: mereka dipaksa lebih cepat dari generasi sebelumnya untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna, tujuan, dan identitas. Tekanan itu menyakitkan. Tapi tekanan itu juga merupakan undangan untuk menjadi lebih utuh sebagai manusia.

Sartre mungkin akan tersenyum sinis — ia memang jarang tersenyum tulus — melihat situasi ini. Tapi mungkin ia akan berkata: "Akhirnya kalian terpaksa bebas."

Ingat ini: AI bisa mengambil pekerjaanmu. Tapi tidak ada yang bisa mengambil darimu tanggung jawab untuk mendefinisikan siapa kamu.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: