Pernah masuk ke rapat yang terasa seperti briefing militer? Atasan bicara, semua mendengar, tidak ada yang bertanya—bukan karena tidak ada pertanyaan, tapi karena tidak ada yang berani mengajukannya. Keputusan turun dari atas, eksekusi dimulai dari bawah, dan siapapun yang ragu dianggap tidak loyal.
Ini bukan gambaran organisasi dalam krisis. Ini gambaran keseharian di banyak kantor, lembaga, bahkan ruang-ruang komunitas di Indonesia.
Yang mengusik bukan bahwa gaya ini ada. Yang mengusik adalah ia dipilih secara default—bukan karena situasi menuntut, tapi karena memang tidak ada pilihan lain yang dipikirkan.
Argumen yang Selalu Muncul: "Situasinya Darurat"
Setiap kali gaya komando dipertanyakan, jawaban yang paling sering muncul adalah justifikasi situasional: keadaan tidak memungkinkan untuk diskusi panjang, kita butuh hasil cepat, tidak ada waktu untuk demokrasi internal.
Argumen ini tidak sepenuhnya salah. Gaya otokratis memang dibutuhkan ketika ada urgensi ekstrem atau ketika keseragaman tindakan sangat diperlukan. Dalam militer, alasannya jelas: tidak bisa membiarkan pasukan mempertanyakan perintah di zona perang.
Masalahnya: sebagian besar organisasi sipil tidak berada di zona perang. Tenggat proyek yang ketat, target kuartalan, atau reorganisasi internal—ini adalah tekanan nyata, tapi bukan darurat yang setara. Ketika "situasi darurat" menjadi alasan permanen, bukan lagi justifikasi situasional, ada sesuatu yang perlu diperiksa lebih dalam.
Riset menunjukkan bahwa kepemimpinan militer secara signifikan berkontribusi pada disiplin dan efisiensi—namun menghadapi tantangan serius dalam hal fleksibilitas dan inovasi. Efisiensi jangka pendek yang dibeli dengan harga kreativitas jangka panjang bukan kesepakatan yang menguntungkan.
Apa yang Sebenarnya Terjadi Ketika Hierarki Mendominasi
Di balik kerapian struktur komando, ada mekanisme yang lebih gelap yang jarang dibicarakan terbuka.
Ini bukan hanya soal karyawan yang merasa tidak dihargai. Ini soal organisasi yang secara sistematis memotong akses ke informasi terbaik yang dimilikinya—yaitu perspektif orang-orang yang paling dekat dengan pekerjaan nyata di lapangan.
Ketika tidak ada yang berani membantah, tidak ada juga yang berani membawa kabar buruk. Dan pemimpin yang tidak menerima kabar buruk akan selalu terkejut oleh krisis yang sebenarnya sudah lama terlihat oleh orang-orang di bawahnya.
Warisan Sejarah yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Di Indonesia, fenomena ini punya akar yang lebih dalam dari sekadar preferensi personal seorang pemimpin.
Tiga dekade lebih pengalaman itu tidak hilang begitu saja. Pola pikir hierarki komando meresap ke dalam DNA birokrasi, korporasi, bahkan organisasi masyarakat sipil—bukan selalu karena disengaja, tapi karena itulah satu-satunya model kepemimpinan yang paling banyak dilihat, dirasakan, dan diwariskan.
Klaim kepemimpinan bergaya komando sering kali berasal dari persepsi bahwa manajemen sipil terlalu lambat atau terlalu lemah. Namun persepsi ini sering kali adalah rasionalisasi—bukan evaluasi objektif. Artinya: gaya ini banyak dipilih bukan karena terbukti paling efektif, melainkan karena paling familiar—dan familiaritas bukan sinonim dari keunggulan.
Ironi Terbesar: Militer Sendiri Sudah Meninggalkannya
Inilah bagian yang paling jarang masuk dalam percakapan: institusi militer modern di banyak negara justru sudah bergerak jauh meninggalkan model komando otoriter yang masih diagung-agungkan di banyak ruang sipil.
Penelitian dari Military Academy of Lithuania menemukan bahwa ada korelasi kuat antara stimulasi intelektual, pendelegasian, dan dukungan terhadap inovasi—bahkan di lingkungan militer sekalipun.
Dan studi perbandingan antara manajer sipil dan militer di Polandia menemukan bahwa manajer sipil justru lebih unggul dalam dimensi Vision dan Participative Leadership, sementara sifat autokratis berkorelasi negatif dengan efektivitas yang dirasakan di kedua konteks.
Jadi yang terjadi adalah: organisasi sipil mengadopsi versi militer yang sudah ditinggalkan oleh militer itu sendiri. Bukan yang terbaik dari tradisi militer—tapi yang paling kuno.
Apa yang Data Katakan tentang Alternatifnya
Google's Project Aristotle (2016) melakukan riset selama dua tahun terhadap ratusan tim internal Google untuk menemukan apa yang membuat sebuah tim berkinerja tinggi. Hasilnya mengejutkan banyak pihak: bukan soal siapa yang ada di tim, bukan soal struktur hierarkinya, bukan soal insentif finansialnya.
Prediktor terkuat adalah psychological safety—rasa aman untuk berbicara, bertanya, dan mengakui kesalahan tanpa takut dihukum. Ini adalah antitesis langsung dari kultur komando yang mengutamakan kepatuhan atas kejujuran.
Ini tidak berarti hierarki harus dihapus sepenuhnya. Kejelasan peran dan tanggung jawab tetap penting. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah struktur yang ada digunakan untuk memperjelas arah, atau untuk membungkam suara.
Gaya komando-hierarki mungkin masih relevan ketika:
- Ada krisis akut yang benar-benar membutuhkan keputusan terpusat dan cepat
- Standar keselamatan tidak boleh bernegosiasi dengan interpretasi individu
- Tim baru yang belum memiliki kapasitas mandiri
Tapi gaya itu menjadi masalah ketika:
- Ia diterapkan permanen tanpa evaluasi konteks
- Ia digunakan untuk menghindari akuntabilitas ke atas
- Ia menjadi alasan untuk tidak mengembangkan kapasitas tim
Satu Pertanyaan yang Perlu Diajukan Lebih Sering
Ketika seorang pemimpin memilih gaya komando, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah ini pilihan terbaik untuk situasi ini, atau pilihan yang paling nyaman bagi saya?
Keputusan terpusat lebih mudah dipertahankan. Hierarki yang kaku lebih mudah dikelola. Tidak ada perdebatan berarti tidak ada gesekan yang tidak menyenangkan. Ini bukan soal efektivitas—ini soal kenyamanan pemimpin yang terbungkus dalam bahasa efisiensi.
Dalam konteks demokrasi, dominasi gaya militer dalam birokrasi sipil dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan kekuasaan dan mengurangi profesionalisme secara keseluruhan. Di level organisasi, efeknya serupa: kreativitas yang terhambat, talenta terbaik yang pergi, dan budaya "asal atasan senang" yang menggantikan kultur problem-solving yang sehat.
Kepemimpinan yang Tidak Perlu Barak untuk Berhasil
Disiplin, kejelasan tujuan, dan akuntabilitas—semua nilai yang sering diasosiasikan dengan gaya militer—sebenarnya bisa dibangun tanpa harus menciptakan suasana barak.
Perbedaannya ada pada bagaimana nilai-nilai itu ditanamkan: apakah lewat ketakutan atau lewat kepercayaan, apakah lewat instruksi satu arah atau lewat pemahaman bersama, apakah lewat kepatuhan atau lewat komitmen.
Organisasi yang paling tahan lama bukan yang anggotanya paling patuh. Tapi yang anggotanya paling paham—dan paling peduli—terhadap tujuan bersama.
Gaya militer mungkin bisa menyelesaikan masalah hari ini. Tapi ia berpotensi menciptakan masalah yang jauh lebih besar untuk esok hari.
Referensi & Resources:
- Millett, A.R., Murray, W., & Watman, K.H. (2010). Military Effectiveness. Cambridge University Press — https://www.cambridge.org/core/books/abs/military-effectiveness/effectiveness-of-military-organization/F9EF4C40F8C9B60264005A6DB5F0F3C9
- MDPI (2024): "Empowering Leadership in the Military: Pros and Cons" — https://www.mdpi.com/2673-8104/4/4/26
- ResearchGate: "The Issue of Leadership Styles in the Military Organization" — https://www.researchgate.net/publication/332635528
- Army University Press (2022): "Don't ST*U — Authoritarianism in Military Organizations" — https://www.armyupress.army.mil/Journals/NCO-Journal/Archives/2022/June/Dont-STU/
- The Conversation Indonesia (2024): "Mengapa Militer Lekat dengan Citra Represif" — https://theconversation.com/mengapa-militer-lekat-dengan-citra-represif-menelisik-sejarah-militerisme-indonesia-myanmar-dan-thailand-215594
- ResearchGate (2025): "Militer di Balik Meja Birokrasi: Reformulasi Kewenangan TNI dan Krisis Supremasi Sipil" — https://www.researchgate.net/publication/394295929
- nBASIS (2025): "Militer dan Kontrol Sipil di Indonesia" — https://nbasis.wordpress.com/2025/09/25/militer-dan-kontrol-sipil-di-indonesia/
- Google re:Work — Project Aristotle (2016): Penelitian tentang psychological safety sebagai prediktor utama kinerja tim — https://rework.withgoogle.com/print/guides/5721312655835136/