Seorang teman bercerita tentang adiknya yang berusia 19 tahun. Anak itu hafal lirik lagu BTS dalam bahasa Korea, tapi tidak bisa menjawab ketika neneknya berbicara dalam bahasa Jawa. Bukan karena nakal atau tidak peduli — dia memang tidak pernah belajar. Dan yang lebih mengusik: dia tidak merasa ada yang salah dengan itu.
Ini bukan cerita satu keluarga. Ini potret satu generasi.
Menurut data yang dikumpulkan dalam kajian linguistik dari Universitas Negeri Makassar (2024), hanya sekitar 37,18% Generasi Z yang mampu berbicara bahasa daerah dengan fasih — sementara bahasa Indonesia formal pun kerap dianggap kaku dan tidak relevan untuk keseharian digital mereka. Di sisi lain, survei Kominfo 2024 mencatat bahwa lebih dari 65% remaja Indonesia mengenal K-Pop melalui media sosial, dan TikTok serta YouTube menjadi pintu masuk utama. Dua angka ini, jika dibaca bersama, bercerita tentang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tren hiburan.
Ketika Identitas Dibangun dari Beranda Orang Lain
Ada konsep yang disebut Erik Erikson — psikolog perkembangan yang terkenal dengan teori identity crisis — sebagai "identity diffusion": kondisi ketika seseorang tidak memiliki komitmen yang jelas terhadap nilai-nilai, peran sosial, atau orientasi hidupnya. Di era digital, kondisi ini tidak lagi butuh trauma besar untuk terjadi. Cukup dengan scroll tanpa henti selama tiga jam sehari.
Pada 2024, Gen Z secara global mengalokasikan rata-rata 3 jam 11 menit setiap hari untuk menggunakan media sosial. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih tinggi — rata-rata pengguna TikTok Indonesia menghabiskan 3,5 jam per hari di platform tersebut, lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 2,8 jam. Dalam satu hari, hampir seperempat jam terjaga kita — jika kita Gen Z — dihabiskan untuk mengonsumsi konten yang sebagian besar diproduksi oleh budaya lain.
Pertanyaannya bukan soal apakah ini "bahaya" atau tidak. Pertanyaan yang lebih tepat: siapa yang sedang membentuk kita, dan apakah kita sadar sedang dibentuk?
Perkembangan media sosial telah mengubah cara Generasi Z di Indonesia membentuk identitas mereka, namun juga membawa dampak negatif berupa krisis identitas — kebingungan antara identitas digital yang ideal dan realitas yang sebenarnya mereka alami. Ini bukan klaim akademis yang jauh dari kehidupan nyata. Ini terjadi di komentar TikTok, di caption Instagram, dan di cara anak-anak muda kita berbicara tentang diri mereka sendiri.
K-Wave Bukan Musuh, Tapi Bukan Pula Cermin
Salah satu kesalahan terbesar dalam diskusi tentang topik ini adalah framing-nya: seolah budaya Korea adalah ancaman yang harus ditolak, dan Gen Z yang menyukainya adalah generasi yang kehilangan jati diri. Itu pandangan yang terlalu simplistis — dan salah.
Riset Cheil Indonesia berdasarkan survei terhadap 100 responden Gen Z dan Young Millennials berusia 18–35 tahun di berbagai kota besar Indonesia (Desember 2025) mengungkap fakta menarik: Indonesia bukan hanya penonton K-Wave, melainkan turut berpartisipasi menulis ulang ceritanya. Gen Z Indonesia tidak mengadopsi budaya Korea secara mentah-mentah — mereka memodifikasinya. Menggabungkan gaya berpakaian Korea dengan batik lokal. Menggunakan istilah Korea dalam percakapan, tapi tetap dalam konteks nilai dan humor Indonesia.
Para peneliti menyebut ini sebagai third space — ruang identitas baru yang terbentuk dari pertemuan dua atau lebih budaya, bukan penghapusan salah satunya. Secara teori, ini seharusnya menjadi sesuatu yang sehat dan produktif.
Masalahnya muncul ketika third space itu tidak dibangun dengan fondasi yang kuat. Ketika seseorang tidak cukup mengenal budayanya sendiri untuk bisa bernegosiasi secara setara dengan budaya luar, yang terjadi bukan percampuran yang sadar — melainkan penggantian yang tidak disadari. Ketika generasi muda tidak lagi merasa memiliki keterikatan emosional dan kultural dengan warisan budaya lokal, di situlah krisis identitas budaya mulai terbentuk.
Dan keterikatan emosional itu tidak bisa diasumsikan muncul sendiri. Ia perlu dirawat.
Angka yang Tidak Bisa Diabaikan
Penelitian menunjukkan bahwa 37,18% Generasi Z yang mampu berbicara bahasa daerah dengan fasih cenderung kurang meminati penggunaan bahasa Indonesia formal maupun non-formal. Bahasa adalah pintu masuk paling langsung ke sebuah budaya. Ketika pintu itu mulai ditutup, apa yang hilang bukan hanya kemampuan linguistik — melainkan seluruh sistem nilai, cara berpikir, dan cara memandang dunia yang terkandung di dalamnya.
Di sisi lain, muncul kecenderungan individualisme yang tinggi di kalangan Gen Z, di mana kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada nilai-nilai kolektif seperti gotong royong dan solidaritas — pergeseran yang secara perlahan mengikis rasa kebersamaan dan keterikatan emosional terhadap komunitas.
Pergeseran ini tidak terjadi karena Gen Z adalah generasi yang egois atau tidak peduli. Mereka justru adalah generasi yang, menurut survei Jakpat 2024, paling peduli terhadap isu sosial: kesempatan kerja (64%), ketimpangan ekonomi (64%), sistem pendidikan (57%), kekerasan terhadap perempuan dan anak (56%), dan korupsi (50%). Mereka peduli — hanya saja objek kepedulian mereka semakin terdefinisi oleh algoritma, bukan oleh komunitas fisik tempat mereka tumbuh.
Paradoks Generasi Paling Terhubung
Ada ironi besar yang perlu kita akui: Gen Z adalah generasi paling terhubung secara digital dalam sejarah manusia, tapi mungkin juga generasi yang paling terputus dari akar kulturalnya sendiri.
Indonesia adalah negara dengan jumlah pengguna TikTok terbesar di dunia, mencapai 157,6 juta pengguna aktif per Juli 2024, dengan 72% di antaranya berusia di bawah 34 tahun. Koneksi digital mereka tidak perlu diragukan. Tapi koneksi itu sebagian besar mengarah ke luar — ke Seoul, ke Los Angeles, ke Tokyo — bukan ke dalam, ke kampung halaman, ke tradisi, ke bahasa ibu.
Peneliti Mahmud (2024) dalam jurnalnya di Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam menyebut fenomena ini sebagai bagian dari patologi sosial era media sosial: bukan hanya krisis identitas individual, tapi krisis identitas kolektif — ketika sebuah masyarakat mulai kehilangan pegangan terhadap narasi tentang dirinya sendiri.
Yang menarik — dan ini yang sering luput dari diskusi — adalah bahwa krisis ini juga membuka peluang. Meskipun budaya modern memberikan dampak negatif termasuk hilangnya nilai-nilai tradisional, dampak positifnya meliputi peningkatan literasi digital dan pemahaman antarbudaya yang tidak bisa diabaikan. Gen Z punya modal yang generasi sebelumnya tidak miliki: kemampuan untuk menjangkau, mendokumentasikan, dan mempromosikan budaya lokal ke audiens global — jika mereka mau.
Apa yang Bisa Dilakukan — Secara Nyata
Diskusi tentang krisis identitas budaya sering berhenti di diagnosis. Padahal langkah yang paling efektif justru ada di level yang paling personal.
Pertama: Kenali dulu apa yang kamu miliki sebelum memutuskan apa yang mau kamu adopsi dari luar. Ini bukan nasionalisme yang buta — ini epistemologi dasar. Kamu tidak bisa bernegosiasi dari posisi yang tidak kamu pahami.
Kedua: Bedakan antara konsumsi dan identifikasi. Menikmati K-Drama tidak berarti harus menjadi orang Korea dalam cara berpikir dan berperilaku. Batas itu tipis, tapi penting untuk dijaga dengan kesadaran.
Ketiga: Manfaatkan platform yang sama untuk menggali ke dalam, bukan hanya ke luar. TikTok punya konten tentang wayang, tentang filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, tentang sejarah batik yang lebih kaya dari sekadar motif. Algoritmanya mengikuti apa yang kamu konsumsi.
Keempat: Ajak percakapan lintas generasi. Bukan dengan posisi superior ("kamu harus menjaga budaya"), tapi dengan rasa ingin tahu yang tulus. Nenek yang tidak bisa dihubungi lewat TikTok mungkin menyimpan cerita yang tidak ada di YouTube mana pun.
Bukan Pilihan Biner
Generasi ini tidak perlu memilih antara menjadi modern atau menjadi lokal. Dua hal itu bukan musuh. Tantangan bagi Gen Z adalah bagaimana membangun identitas yang mampu menyeimbangkan keterbukaan global dan akar budaya lokal — mengadopsi yang baik dari luar sambil tetap menjaga jati diri budaya sendiri.
Tapi keseimbangan itu tidak datang otomatis. Ia tidak muncul hanya karena kita lahir di Indonesia dan kebetulan besar di era internet. Ia perlu diusahakan — dengan literasi budaya yang disengaja, dengan percakapan yang jujur, dan dengan keberanian untuk bertanya: dari mana sebenarnya aku berasal, dan apakah aku masih tahu jawabannya?
Gen Z bukan generasi yang hilang. Mereka adalah generasi yang sedang mencari — dengan kecepatan scroll yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia. Pertanyaannya adalah: apakah pencarian itu akan menemukan sesuatu yang berakar, atau hanya terus bergerak mengikuti apa yang muncul berikutnya di beranda?
Ingat: Identitas bukan sesuatu yang kamu temukan di feed orang lain. Ia sesuatu yang kamu bangun — dari dalam ke luar, bukan sebaliknya.
Referensi & Resources:
- Mahmud, A. (2024). Krisis Identitas di Kalangan Generasi Z dalam Perspektif Patologi Sosial pada Era Media Sosial. Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam, 26(2). https://jurnal.uin-alauddin.ac.id/
- Penelitian linguistik tentang krisis identitas budaya Gen Z dan bahasa daerah. Jurnal Societies, Universitas Negeri Makassar (2024). https://ojs.unm.ac.id/societies/article/download/64557/27927
- Syifa, S. et al. (2024). Pengaruh Korean Wave terhadap Identitas Nasional Gen-Z di Era Digital. PACIVIC: Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 4(1), 37–43. https://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/article/view/8426
- Riset Cheil Indonesia tentang K-Wave dan identitas Gen Z Indonesia (Desember 2025). Dipublikasikan oleh Campaign Indonesia. https://www.campaignindonesia.id/article/bedah-fenomena-k-wave-budaya-global-yang-lebur-jadi-identitas-baru-gen-mz-indonesia/1948187
- Survei Jakpat 2024 tentang isu sosial Gen Z Indonesia. Campaign Indonesia. https://www.campaignindonesia.id/article/gen-z-indonesia-prioritaskan-identitas-dan-gaya-hidup-di-tengah-ekonomi-lesu/1927729
- DataReportal & We Are Social (2024). Data pengguna TikTok Indonesia. https://www.garuda.website/blog/data-pengguna-tiktok-di-indonesia-2024/
- Universitas Islam Negeri Malang, Maliki Interdisciplinary Journal (2025). Krisis identitas generasi muda Indonesia. https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/view/15383