Bayangkan kamu seorang dokter di abad ke-12. Mayoritas kolega kamu masih percaya bahwa penyakit adalah soal ketidakseimbangan "cairan tubuh" (humors) — teori yang sudah berusia 1.500 tahun dari zaman Yunani kuno, dan tidak ada yang berani mempertanyakannya. Tapi kamu penasaran. Kamu ingin tahu: apa yang sebenarnya terjadi di bawah kulit pasien yang gatal-gatal itu?
Dokter itu nyata. Namanya Ibn Zuhr, atau dalam tradisi Barat dikenal sebagai Avenzoar. Lahir di Seville, Andalusia (sekarang Spanyol) pada 1094 dan wafat 1162 M. Dia bukan sekadar tabib — dia adalah salah satu ilmuwan paling metodis yang pernah lahir dari peradaban Islam, dan salah satu dokter paling berpengaruh di abad pertengahan dunia.
Yang bikin frustrasi? Namanya hampir tidak pernah muncul di buku pelajaran kita.
Dokter yang Tidak Percaya Begitu Saja
Di zamannya, otoritas medis tertinggi adalah Galen — dokter Yunani dari abad ke-2 M. Tulisan-tulisannya dianggap sakral, nyaris seperti teks agama. Kalau Galen bilang begini, ya begini. Pertanyaan adalah tanda ketidaktahuan, bukan kecerdasan.
Ibn Zuhr tidak menerima itu.
Menurut Wikipedia yang mengacu pada sumber-sumber sejarah medis, Ibn Zuhr sangat dikenal karena penekanannya pada basis kedokteran yang lebih rasional dan empiris — artinya dia mengutamakan pengamatan dan eksperimen di atas otoritas teks lama.
Dia juga termasuk langka di antara cendekiawan Muslim zamannya: berbeda dari praktik umum di kalangan ilmuwan Muslim yang biasanya bekerja di banyak bidang, Ibn Zuhr membatasi kerjanya hanya pada bidang kedokteran. Fokus ini memungkinkannya membuat kontribusi yang lebih dalam dan orisinal.
Operasi Kambing yang Mengubah Sejarah Bedah
Salah satu momen paling ikonik dalam karir Ibn Zuhr adalah kisah tentang seekor kambing.
Di zamannya, prosedur trakeotomi — operasi membuka saluran napas di leher untuk pasien yang tersedak atau sesak — masih diperdebatkan. Sebagian dokter menganggapnya terlalu berbahaya. Akibatnya, banyak pasien yang sebenarnya butuh prosedur itu tidak mendapatkannya.
Ibn Zuhr memutuskan untuk membuktikannya secara eksperimental. Dalam karyanya Al-Taysir, dia menulis langsung tentang eksperimen yang dia lakukan sendiri:
"Ketika masih dalam pelatihan dan membaca pendapat-pendapat yang saling bertentangan itu, saya memotong pipa udara seekor kambing setelah menyayat kulit dan lapisan penutupnya di bawah. Kemudian saya memotong sepenuhnya substansi pipa itu, seluas hampir seukuran biji lupine. Lalu saya terus membasuh lukanya dengan air dan madu hingga sembuh, dan hewan itu pulih sepenuhnya dan hidup lama."
Kutipan ini diterjemahkan dan diverifikasi oleh Rabie E. Abdel-Halim dalam studinya yang diterbitkan di Saudi Medical Journal, vol. 26 (9), 2005 — sebuah penelitian akademik yang mengkaji langsung edisi bahasa Arab asli dari buku Al-Taysir.
Eksperimen unik Ibn Zuhr melakukan trakeotomi pada kambing membuktikan keamanan operasi tersebut pada manusia, dan merepresentasikan langkah lebih lanjut dalam pengembangan mazhab eksperimental yang dimulai oleh Al-Razi (Rhazes) dari Baghdad pada abad kesembilan.
Ini bukan sekadar operasi. Ini adalah metode ilmiah — hipotesis, eksperimen, observasi, kesimpulan. Ratusan tahun sebelum Francis Bacon atau metode saintifik modern diformulasikan.
Parasit di Bawah Kulit — Penemuan yang Mendahului Zamannya
Kontribusi Ibn Zuhr yang paling mencengangkan mungkin adalah deskripsinya tentang penyakit scabies (kudis).
Dalam Al-Taysir, dia menulis: "Di bawah tangan, pergelangan kaki, dan kaki, ada seperti cacing kecil, dan luka-luka yang menyerang area yang sama. Jika kulit diangkat, akan muncul dari berbagai bagiannya seekor hewan yang sangat kecil, hampir tak terlihat."
Di abad ke-12, ketika dunia masih percaya bahwa penyakit kulit adalah soal ketidakseimbangan cairan tubuh atau hal-hal supranatural, Ibn Zuhr dengan tenang mengamati dan menyimpulkan: ada makhluk hidup di bawah kulit pasien ini.
Ibn Zuhr adalah yang pertama mendeskripsikan secara detail scabies dan tungau penyebab gatal, dan karenanya dianggap sebagai parasitolog pertama.
Ilmu parasitologi modern — yang mempelajari organisme parasit penyebab penyakit — punya salah satu titik awalnya di sini, di Seville abad ke-12.
Karya Monumental yang Bertahan Ratusan Tahun
Semua temuan ini terdokumentasi dalam karya utamanya: Kitab al-Taysir fi al-Mudawat wa al-Tadbir — dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Book of Simplification Concerning Therapeutics and Diet.
Buku itu berisi 30 bab yang menyediakan deskripsi klinis dan diagnosis penyakit mulai dari kepala. Ibn Zuhr memberikan deskripsi akurat tentang kanker esofagus, lambung, dan mediastinal, serta lesi-lesi lainnya. Dia mengusulkan enema nutrisi untuk menjaga hidup pasien dengan kanker lambung. Dia juga adalah yang pertama memberikan deskripsi patologis tentang peradangan seperti otitis media dan perikarditis.
Buku ini ditulis atas permintaan sahabatnya, filsuf besar Ibn Rushd (Averroes), sebagai komplemen dari ensiklopedia medis milik Ibn Rushd. Karya ini tetap digunakan di kalangan cendekiawan Eropa hingga akhir abad ke-18 — artinya pengaruhnya bertahan lebih dari 600 tahun setelah Ibn Zuhr wafat.
Filsuf dan dokter besar Maimonides — tokoh Yahudi paling berpengaruh di abad pertengahan — bahkan menyebut Ibn Zuhr sebagai "satu-satunya di zamannya dan salah satu dari para bijak besar." Ibn Rushd sendiri memujinya sebagai dokter terbesar sejak Galen.
Kenapa Kita Hampir Tidak Pernah Dengar Namanya?
Ini pertanyaan yang lebih politis dari yang terlihat.
Setelah era keemasan peradaban Islam berakhir, karya-karya ilmuwan Muslim banyak yang diterjemahkan ke bahasa Latin dan diserap ke dalam tradisi ilmu pengetahuan Eropa — tapi nama aslinya sering tidak ikut terbawa. Ibn Zuhr dikenal di Eropa hanya sebagai "Avenzoar" — versi barat dari nama Arabnya.
Ibn Zuhr belum seluas dikenal dalam literatur bedah saat ini dibandingkan pendahulunya seperti Al-Razi (Rhazes, 854–925 M), Ibn Sina (Avicenna, 980–1037 M), dan Al-Zahrawi (Albucasis, 930–1013 M) — padahal kontribusinya tidak kalah besar.
Narasi sejarah sains yang kita pelajari memang sering kali hanya menceritakan satu jalur: dari Yunani ke Eropa Renaissance ke sains modern. Jalur yang melewati Baghdad, Cordoba, dan Seville — jalur peradaban Islam — sering dilewatkan atau diperkecil perannya.
Yang Bisa Kita Pelajari dari Seorang Ibn Zuhr
900 tahun setelah dia wafat, cara kerjanya tetap relevan:
- Uji dulu, klaim kemudian. Ibn Zuhr tidak operasi manusia sebelum operasi kambing. Di era hoax dan misinformasi, ini adalah prinsip yang kita butuhkan lebih dari sebelumnya.
- Amati dengan cermat, jangan asumsikan. Semua orang sudah ribuan tahun tahu ada penyakit kudis. Tapi hanya Ibn Zuhr yang bertanya: apa yang sebenarnya terjadi di sana?
- Dokumentasi adalah segalanya. Kenapa kita masih bisa membaca kata-katanya hari ini? Karena dia menulis dengan detail dan teliti. Pengetahuan yang tidak didokumentasikan mati bersama pemikirinya.
Ilmu Tidak Punya Satu Asal Usul
Ibn Zuhr adalah pengingat bahwa ilmu pengetahuan tidak lahir dari satu peradaban atau satu era. Dia adalah bagian dari rantai panjang manusia-manusia yang penasaran — dari Yunani ke Baghdad ke Andalusia ke Eropa Renaissance ke laboratorium modern.
Kalau kita belajar sains hanya dari satu sudut pandang, kita kehilangan sebagian besar ceritanya. Dan kita kehilangan sosok-sosok seperti Ibn Zuhr — dokter yang di abad ke-12, di Seville, sudah berpikir seperti ilmuwan abad ke-21.
Ingat: Setiap kali standar uji klinis melindungi kita hari ini, ada garis panjang yang menghubungkan kita ke seorang dokter Arab yang dulu pernah mengoperasi seekor kambing untuk membuktikan bahwa operasinya aman bagi manusia.
Referensi & Resources:
- Abdel-Halim, R.E. (2005). "Contributions of Ibn Zuhr (Avenzoar) to the progress of surgery: A study and translations from his book Al-Taisir." Saudi Medical Journal, vol. 26 (9), pp. 1333–1339. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16155644/
- Wikipedia: "Ibn Zuhr." https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Zuhr
- Encyclopedia.com: "Ibn Zuhr, Abu Marwan Abd Al-Malik Ibn Abil-Ala." https://www.encyclopedia.com/science/dictionaries-thesauruses-pictures-and-press-releases/ibn-zuhrabu-marwan-abd-al-malik-ibn-abil-ala-latinabhomjeron-or-avenzoar
- Muslim Heritage: "Ibn Zuhr and the Progress of Surgery." https://muslimheritage.com/ibn-zuhr-progress-surgery/
- Qatar Medical Journal, Vol. 9, No. 2 (2000): Profil Ibn Zuhr. http://www.qscience.com/doi/pdf/10.5339/qmj.2000.2.4
- Missori, P. & Domenicucci, M. (2012). "Avenzoar (1092–1162 AD) and Averroes (1126–1198 AD) and Origin of the Cannula for Tracheotomy: Reply." World Journal of Surgery, 36(4). https://link.springer.com/article/10.1007/s00268-012-1753-3