Imam As-Sanusi - Arsitek Aqidah yang Mengubah Cara Islam Berpikir

Dari kota Tlemcen, Aljazair, seorang ulama abad ke-15 menulis risalah kecil yang kini dihafal jutaan santri di seluruh dunia.

#filsafatislam #aqidah #ulama #sejarahislam #pesantren

Kreator Moco
7 menit baca

Kita semua pernah menghafalnya. "Wujud, Qidam, Baqa', Mukhalafatu lil hawadits..." — dua puluh sifat wajib Allah yang dirapalkan dari bibir anak-anak pesantren Jawa hingga santri di Malaysia, Brunei, bahkan komunitas Muslim di Afrika Barat. Mayoritas kita menghafalnya tanpa pernah bertanya: dari mana rumusan itu berasal, dan siapa manusia di baliknya?

Jawabannya mengarah ke sebuah kota tua di pesisir barat Aljazair: Tlemcen, abad ke-15. Di sana, seorang ulama multidisipliner bernama Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Umar bin Syu'aib as-Sanusi al-Hasani (832–895 H/1428–1490 M) untuk pertama kalinya merumuskan secara praktis dua puluh Sifat Wajib bagi Allah dalam bentuk yang sistematis dan bisa diajarkan. Sebelum beliau, substansi itu memang sudah ada dalam tradisi teologi Islam — tetapi berserakan, tersebar di kitab-kitab tebal yang tidak mudah digapai orang awam.

As-Sanusi mengubah itu semua. Dan dampaknya masih terasa hingga hari ini, di ruangan-ruangan pesantren Indonesia yang bau kayu dan lampu minyak — atau yang kini sudah ber-AC dan berproyektor.

Siapa As-Sanusi, dan Mengapa Kita Hampir Lupa Padanya?

Sayyid Muhammad bin Yusuf as-Sanusi al-Hasani at-Tilmisani adalah ulama besar dan Waliyullah penulis kitab Ummul Barahin, yang masyhur sebagai ulama peletak dasar 20 Sifat Wajib Allah. Ia lahir dan besar di Tlemcen (Tilmisan dalam literatur Arab klasik), sebuah kota kosmopolitan yang pada abad ke-15 menjadi salah satu pusat ilmu di Afrika Utara.

Yang menarik dari as-Sanusi adalah cara hidupnya. Ia akan kembali membuka majelisnya setiap selesai Isya', lalu pulang untuk tidur sebentar. Saat terbangun, ia menyibukkan diri dengan menulis atau mengedit karya-karyanya, kemudian shalat hingga menjelang Subuh. Ini bukan jadwal seorang birokrat akademis. Ini jadwal seorang penulis yang dirasuki obsesi — ingin memastikan bahwa ilmu akidah bisa dipahami oleh sebanyak mungkin orang.

Pada masa hidupnya, al-Sanusi terkenal sebagai ulama yang penyabar, tabah, murah senyum, tidak pernah menyimpan rasa dendam kepada siapapun, tidak pernah bermuka masam kepada siapapun, bahkan selalu hormat dan sopan santun sehingga tidak jarang musuhnya itu merasa bahwa al-Sanusi menganggapnya sebagai teman. Detail kecil ini penting: seorang teolog yang menulis tentang sifat Allah dengan sangat teknis dan filosofis, tapi sehari-harinya adalah manusia yang hangat. Ada ironi yang indah di situ.

Al-Sanusi wafat pada tahun 895 H/1490 M setelah menderita sakit selama 10 hari. Usianya sekitar 62 tahun. Umur yang tidak panjang untuk ukuran ulama, tapi produktivitas intelektualnya melampaui banyak yang hidup jauh lebih lama.

Umm al-Barahin: Risalah Kecil dengan Dampak Raksasa

Karya paling terkenal as-Sanusi bukan sebuah ensiklopedia. Bukan juga kitab setebal bantal. Umm al-Barāhīn, yang juga dikenal sebagai al-'Aqīda al-Sughra, adalah teks aqidah Islam yang merangkum keyakinan inti Ahlussunnah wal Jama'ah secara ringkas dan terstruktur. Teks ini berfokus pada dua puluh sifat wajib Allah, sifat mustahil, sifat ja'iz, keyakinan tentang para Nabi, serta prinsip-prinsip teologi dan pembuktian rasional atas keesaan Allah.

Inilah kunci keberhasilan as-Sanusi: ia tidak menulis untuk para profesor. Ia menulis untuk orang biasa — pedagang, petani, murid muda — yang perlu pegangan aqidah yang bisa dihafal, dipahami, dan dipertahankan dengan akal.

Bangunan pemikirannya bertumpu pada tiga kategori hukum akal yang ia formulasikan dengan sangat jernih. Wajib aqli adalah setiap sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal ketiadaannya — contohnya: Allah itu wajib ada. Mustahil aqli adalah setiap sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal keberadaannya — contohnya: Allah itu mustahil tidak ada. Sedangkan Jaiz aqli adalah setiap sesuatu yang keberadaan dan ketiadaannya bersifat sama — contohnya: keberadaan manusia bukanlah wajib dan bukan pula mustahil.

Tiga kategori ini terdengar sederhana. Tapi implikasinya sangat dalam: as-Sanusi sedang mengatakan bahwa beriman bukan hanya soal menerima teks suci secara buta. Beriman adalah aktivitas akal yang aktif, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara logis.

Substansi sifat-sifat wajib bagi Allah sebetulnya telah menjadi kajian ulama Ahlussunnah wal Jama'ah sejak masa Abu al-Hasan al-Asy'ari (260–324 H/874–936 M), al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani (338–403 H/950–1013 M), dan Imam al-Haramain (419–478 H/1028–1085 M). Namun yang merumuskannya secara praktis menjadi 20 Sifat Wajib bagi Allah adalah as-Sanusi. Ia bukan penemu dalam arti menciptakan konsep baru — ia adalah arsitek yang menyusun bahan-bahan yang sudah ada menjadi bangunan yang kokoh dan bisa dihuni siapa saja.

Inovasi Terbesar: Kawin Silang Mantiq dan Kalam

Jika ada satu hal yang membedakan as-Sanusi dari teolog sebelumnya, itu adalah keberaniannya membawa logika (mantiq) masuk ke jantung ilmu aqidah.

Imam al-Sanusi memajukan diskursus teologi Asy'ari dengan cara menginkorporasikan mantiq (logika) ke dalam kalam, membuat argumen-argumen teologis menjadi lebih terstruktur dan dapat dipahami. Ini bukan tanpa kontroversi. Sebagian ulama, termasuk lingkaran ulama Yaman hingga hari ini, masih berkomitmen menjauhi karya-karya as-Sanusi karena masih kentalnya aroma mantiq dalam karya-karyanya.

Tapi as-Sanusi tidak bergeming. Baginya, akal dan wahyu bukan dua kutub yang bertentangan — keduanya adalah alat yang saling melengkapi untuk sampai kepada keyakinan yang benar. Pendekatan ini terasa sangat modern. Dalam bahasa filsafat kontemporer, kita menyebutnya fideism yang diimbangi natural theology — iman yang tidak menutup pintu bagi penalaran.

Menurut Prof. Abdul Fattah Barakah, keberhasilan karya as-Sanusi dalam mewarnai ilmu kalam adalah karena orisinalitas ide dan keberhasilannya keluar dari gaya penulisan ulama di masanya yang bersifat repetisi, mendaur ulang logika dan pola ulama sebelumnya. As-Sanusi tidak hanya merangkum — ia memperbarui.

Warisan yang Hidup di Pesantren Nusantara

Di sinilah cerita as-Sanusi menjadi sangat relevan bagi kita di Indonesia. Pesantren-pesantren tradisional Indonesia hingga detik ini masih sangat akrab dengan Aqidah Sughra beserta syarahnya dan Umm al-Barahin yang dibubuhi catatan pinggir (hasyiyah) Imam ad-Dasuki. Puncak ilmu kalam dalam kurikulum pesantren adalah Umm al-Barahin.

Artinya: setiap santri yang duduk bersila di pesantren tradisional, yang memegang kitab kuning di bawah cahaya lampu, yang mengulang-ulang hafalan sifat dua puluh — mereka semua sedang mewarisi pikiran seorang ulama dari Aljazair yang hidup 600 tahun yang lalu. Lintas benua, lintas bahasa, lintas generasi.

Pengaruh as-Sanusi meluas terutama di pesantren dan madrasah-madrasah di Indonesia, di mana karya-karyanya terus membentuk pendidikan teologi hingga kini. Ini bukan sekadar transmisi teks. Ini adalah transmisi cara berpikir — cara mendekati pertanyaan tentang Tuhan dengan akal yang jernih, bukan sekadar taklid buta.

Umm al-Barahin sering dihafal oleh para pelajar dan berfungsi sebagai pengantar teologi Asy'ari. Banyak komentar (syarah) yang telah ditulis atasnya karena kandungannya yang dalam meski teksnya singkat. Jumlah syarah dan hasyiyah yang lahir dari satu teks kecil ini adalah bukti paling jujur tentang betapa dalam ladang yang as-Sanusi gali.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari As-Sanusi Hari Ini?

Ada tiga hal yang relevan untuk kita bawa pulang dari kisah as-Sanusi.

Pertama, kedalaman tidak harus bertumpu pada ketebalan. Umm al-Barahin adalah risalah tipis yang melahirkan tradisi intelektual raksasa. Di era di mana kita terbiasa mengukur keseriusan dengan panjang artikel atau tebalnya buku, as-Sanusi mengingatkan bahwa padatnya argument bisa jauh lebih kuat dari panjangnya halaman.

Kedua, akal dan iman bisa berjalan bergandengan. As-Sanusi tidak memilih salah satu. Ia menggunakan logika Aristoteles untuk memperkuat akidah Islam — dan hasilnya bertahan enam abad. Di tengah narasi yang sering membenturkan "agama vs sains" atau "iman vs akal", warisan as-Sanusi adalah bukti bahwa dikotomi itu tidak pernah menjadi satu-satunya pilihan.

Ketiga, karya yang lahir dari ketulusan punya umur panjang. As-Sanusi menulis bukan untuk pangkat atau pengaruh. Ia menulis dengan jadwal yang nyaris asketis — bangun tengah malam, menulis hingga Subuh — karena ia merasa bertanggung jawab terhadap umat yang membutuhkan pegangan aqidah yang kokoh. Ketulusan itu menular, bahkan menembus abad.

Lain kali kita mengucap dua puluh sifat, ada baiknya sebentar kita berhenti dan ingat: di balik hafalan itu ada seorang manusia dari Tlemcen yang tidak tidur nyenyak supaya kita bisa memiliki kata-kata yang tepat untuk berbicara tentang Allah.

Ingat: Ilmu yang benar-benar bermanfaat adalah yang memperluas cakrawala akal sambil menguatkan fondasi iman — dan warisan as-Sanusi adalah bukti bahwa keduanya tidak pernah harus dipertentangkan.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: