Ismail atau Ishak - Siapa yang Disembelih? Debat 14 Abad

Al-Qur'an tidak pernah menyebut namanya secara eksplisit — dan inilah yang membuat debat ini berlangsung 14 abad.

#iduladha #tafsir #sejarahislam #filsafat #quran

Kreator Moco
7 menit baca

Setiap tahun, ratusan juta Muslim di seluruh dunia menyembelih hewan kurban sebagai peringatan peristiwa yang mereka yakini terjadi ribuan tahun lalu — seorang ayah yang rela menyerahkan anaknya, dan seorang anak yang dengan ikhlas menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan keras-keras di tengah takbir yang bergema: anak siapa itu, sebenarnya?

Nama yang paling sering disebut dalam tradisi Islam adalah Ismail. Tapi ada yang menarik: Al-Qur'an tidak pernah menyebut namanya secara eksplisit dalam kisah pengorbanan itu. Tidak sekalipun. Dan dari celah inilah debat yang sudah berlangsung lebih dari 14 abad terus hidup — di antara ulama Islam sendiri, maupun antara tradisi Islam dengan tradisi Yahudi dan Kristen yang menyebut nama yang berbeda sama sekali: Ishak.

Ini bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah dalam pengertian polemis. Ini soal bagaimana dua tradisi besar membaca satu momen yang mereka sama-sama anggap sebagai puncak keimanan manusia — dan kenapa perbedaan nama itu justru mengungkap sesuatu yang lebih dalam tentang masing-masing tradisi.

Apa yang Benar-Benar Dikatakan Al-Qur'an

Kisah pengorbanan ini terekam dalam Surah As-Saffat (37) ayat 99 hingga 113. Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya, memberitahunya, dan sang anak menjawab dengan kalimat yang menjadi salah satu puncak keimanan dalam Al-Qur'an: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Lalu Allah menebus sang anak dengan sembelihan yang besar — fidyah adzim.

Tapi dari ayat 99 hingga 113 itu, tidak ada satu pun kata "Ismail" atau "Ishak" yang disebut dalam konteks peristiwa penyembelihan tersebut. Al-Qur'an menggunakan frasa "ghulam halim" — seorang anak laki-laki yang santun — sebagai identifikasi anak yang akan disembelih. Sesudah kisah kurban selesai, barulah muncul kabar gembira tentang kelahiran Ishak (wa basyarnaahu bi Ishaaq) di ayat 112.

Di sinilah pangkal perbedaan penafsiran: apakah berita kelahiran Ishak di ayat 112 itu menyiratkan bahwa yang disembelih adalah Ismail (karena Ishak disebutkan terpisah sebagai kabar gembira baru)? Atau justru ayat 112 adalah penegasan bahwa Ishak-lah yang selamat dari penyembelihan itu?

Debat Internal Ulama Islam: Tidak Semua Sepakat

Mayoritas ulama Islam — termasuk Ibnu Katsir, Ibnu Abbas, dan sebagian besar mufassir klasik — berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Ismail. Argumentasinya cukup kuat secara logis:

Pertama, secara kronologi Al-Qur'an: perintah kurban itu terjadi ketika Ibrahim hanya memiliki satu anak. Ishak baru lahir setelahnya — dan kelahiran Ishak sendiri diumumkan sebagai "kabar gembira" setelah peristiwa kurban (As-Saffat 37:112). Jika Ishak belum lahir saat kurban terjadi, maka yang ada hanyalah Ismail.

Kedua, lokasi geografis: tradisi Islam menempatkan Ibrahim dan Ismail di Makkah — tempat di mana perintah kurban itu dieksekusi. Ishak diasosiasikan dengan Kanaan (wilayah Palestina-Israel saat ini), tempat yang berbeda secara geografis.

Ketiga, kelanjutan narasi: setelah Ismail dewasa, Al-Qur'an menceritakan Ibrahim dan Ismail membangun Ka'bah bersama (Al-Baqarah 2:127). Ini menunjukkan kesinambungan hubungan Ibrahim-Ismail di Makkah, yang konsisten dengan penempatan peristiwa kurban di sana.

Namun — dan ini penting — tidak semua ulama Islam sepakat. Sejumlah ulama generasi awal (tabi'in) berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishak. Al-Qurtubi dalam tafsirnya (Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an) mencatat bahwa pendapat "Ishak" ini dipegang oleh sebagian sahabat dan tabi'in, kemungkinan besar dipengaruhi oleh narasi Taurat yang beredar di kalangan ahli kitab pada masa itu. Al-Qurtubi sendiri pada akhirnya condong ke pendapat Ismail, tapi ia jujur mencatat bahwa perdebatan ini nyata dan tidak bisa diabaikan.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah bahkan mendedikasikan pembahasan cukup panjang untuk menelusuri dua pendapat ini sebelum menyimpulkan bahwa Ismail adalah yang lebih kuat berdasarkan urutan kronologi Al-Qur'an.

Perspektif Yahudi dan Kristen: Ishak, Titik.

Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, tidak ada ambiguitas. Kitab Kejadian (Genesis) pasal 22 secara eksplisit menyebut nama Ishak (Yitzhak dalam bahasa Ibrani) sebagai anak yang diperintahkan untuk dikorbankan di atas Gunung Moriah. Bahkan disebutkan dengan sangat spesifik: "Ambillah anakmu, anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak."

Frasa "anakmu yang tunggal" (yechidcha dalam Ibrani) menjadi penanda penting dalam tafsir Yahudi. Para rabi menafsirkan ini sebagai anak yang sah dari Sarah — bukan Ismail yang lahir dari Hagar. Dalam tradisi Yahudi, peristiwa ini disebut Akeidah (pengikatan), dan menjadi salah satu momen paling sentral dalam teologi Yahudi tentang iman, ketaatan, dan perjanjian (brit) antara Allah dan bangsa Israel.

Tradisi Kristen mewarisi narasi yang sama. Dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma (Roma 9:7) dan dalam Surat Ibrani (11:17-19), Ishak disebut sebagai anak perjanjian (tekna tes epaggelias). Bagi tradisi Kristen, kisah Ishak juga dibaca sebagai prefigurasi — bayangan tipologis — dari pengorbanan Yesus: seorang anak yang rela dibawa ke tempat penyembelihan oleh ayahnya.

Perbedaan genealogi inilah yang membuat dua tradisi membaca kisah yang sama dengan nama berbeda: Islam menekankan garis Ibrahim-Ismail-Muhammad; Yahudi dan Kristen menekankan garis Ibrahim-Ishak-Israel.

Kenapa Perbedaan Ini Muncul — dan Apa Artinya?

Para sarjana studi agama komparatif, termasuk Reza Aslan dalam No god but God (2005) dan Karen Armstrong dalam A History of God (1993), melihat perbedaan ini bukan sebagai kesalahan satu pihak, melainkan sebagai refleksi dari bagaimana masing-masing komunitas iman membentuk identitas teologisnya melalui narasi leluhur.

Tradisi Yahudi membangun narasi tentang bangsa terpilih (am segulah) melalui garis Ibrahim-Ishak-Yakub. Menempatkan Ishak sebagai pusat pengorbanan tertinggi memperkuat legitimasi teologis bahwa perjanjian Allah berjalan melalui jalur itu.

Islam, yang datang kemudian, mengakui Ibrahim sebagai bapak spiritual (millata Ibrahim) tapi memiliki garis yang berbeda: melalui Ismail, yang tradisinya menempatkan sebagai nenek moyang bangsa Arab, lahirlah Muhammad. Menempatkan Ismail sebagai anak yang dikurbankan memperkuat naratif bahwa jalur kenabian yang berujung kepada Muhammad memiliki akar pengorbanan yang sama agungnya.

Menariknya, Al-Qur'an seperti sengaja tidak menyebut nama — dan ini bisa dibaca sebagai pilihan teologis, bukan kelalaian. Titik tekannya bukan "siapa anaknya," tapi "seperti apa keimanannya." Kisah itu universal: tentang kepatuhan tanpa syarat, cinta yang melampaui logika duniawi, dan Tuhan yang pada akhirnya tidak menginginkan darah — melainkan hati yang tulus.

Yang Tersisa Setelah Debat Selesai

Perdebatan Ismail vs. Ishak kemungkinan tidak akan pernah selesai secara definitif di ranah akademis lintas agama — dan mungkin memang tidak perlu selesai. Yang lebih penting adalah pertanyaan yang kisah itu ajukan kepada setiap pembacanya, lintas iman dan lintas zaman.

Ibrahim tidak berdebat dengan langit. Ismail — atau Ishak, tergantung tradisi Anda — tidak lari. Mereka bergerak dari keyakinan yang melampaui akal sehat, menuju sesuatu yang mereka yakini sebagai kebenaran tertinggi. Dan Tuhan, dalam kedua versi cerita itu, menebus sang anak sebelum sembelihan terjadi.

Idul Adha, dalam kerangka ini, bukan perayaan kematian. Ini perayaan bahwa pada momen paling ekstrem pun, manusia bisa memilih untuk percaya — dan bahwa Tuhan menjawab kepercayaan itu.

Ingat: Yang dikurbankan setiap Idul Adha bukan hanya hewan — tapi ego, kelekatan, dan ilusi bahwa kita mengendalikan segalanya.


Referensi & Resources:

  • Al-Qur'an Surah As-Saffat (37:99-113) — sumber primer kisah pengorbanan dalam Islam
  • Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim dan Al-Bidayah wan Nihayah. Analisis mendalam tentang perbedaan pendapat Ismail vs. Ishak: https://islamweb.net
  • Al-Qurtubi. Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an (Tafsir Al-Qurtubi). Pembahasan komprehensif tentang dua pendapat ulama
  • Alkitab/Bible, Kejadian (Genesis) pasal 22 — versi Yahudi-Kristen tentang Akeidah Ishak
  • Karen Armstrong. A History of God (1993). Knopf. Analisis komparatif narasi Ibrahim lintas tradisi Abrahamik
  • Reza Aslan. No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam (2005). Random House. Konteks sejarah perbedaan narasi Ibrahim dalam Islam dan tradisi Yahudi-Kristen: https://rezaaslan.com
  • Saritoprak, Zeki. Islam's Jesus. University Press of Florida, 2014. Perspektif Islam tentang figur-figur bersama dalam narasi Abrahamik

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: