Apakah Kisah Adam dan Hawa Fakta Sejarah? Ini Kata Sains

Guru Besar UIN: kerangka Adam dan Hawa tidak mungkin ditemukan secara arkeologis. Lalu sejak kapan cerita ini muncul, dan dari mana asalnya?

#filsafat #sejarahagama #pemikirankritis #islam

Admin Moco
7 menit baca

Kisah Adam dan Hawa Fakta Sejarah? Pertanyaan itu mungkin pernah terlintas—tapi jarang ada yang berani mengucapkannya keras-keras.

Apakah Adam dan Hawa benar-benar ada sebagai manusia historis? Apakah kisah mereka bisa diverifikasi secara arkeologis? Dan jika tidak bisa, lalu apa sebenarnya fungsi narasi itu dalam tradisi agama kita?

Prof. Al Makin, Guru Besar Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menjawab dengan tegas dalam sebuah dialog yang bisa disimak di kanal YouTube ini: "Skeleton atau kerangka Adam dan Hawa itu tidak ditemukan dan tidak mungkin ditemukan. Secara biologis dan secara arkeologis itu tidak mungkin dibuktikan sampai hari ini."

Tapi jawabannya tidak berhenti di sana. Yang lebih menarik adalah pertanyaan lanjutannya: jika tidak bisa dibuktikan, lalu sejak kapan cerita ini muncul—dan dari mana asalnya? Untuk menjawab itu, kita perlu sedikit belajar filsafat dan sejarah.

Cerita Adam dan Hawa: Milik Siapa, dan Sejak Kapan?

Prof. Al Makin mengingatkan bahwa setiap suku di dunia punya kisah manusia pertama—suku Jawa, suku Manado, suku Mesir kuno, suku Jepang, suku Cina. Kisah Adam dan Hawa adalah versi spesifik milik suku Israel (Yahudi), yang diperkirakan muncul antara 2.000 hingga 500 tahun sebelum Masehi. Inilah yang sering terlupakan: bukan kisah yang lahir dari kekosongan, melainkan dari tradisi tutur dan tulisan suatu suku tertentu.

Cerita ini sangat mirip strukturnya dengan kisah-kisah dari Mesopotamia, Babilonia, dan Sumeria—ada tokoh yang diusir dari tempat sempurna, ada ular, ada cobaan di bumi. Bahkan lokasi "turunnya" Adam dan Hawa memiliki kemiripan dengan pulau Kreta di Yunani. Versi-versi paralel bisa ditemukan dalam epik Gilgamesh dan Atrahasis—keduanya jauh lebih tua dari teks Yahudi. Kitab Kejadian (Genesis) baru selesai dalam bentuk final sekitar 500–400 tahun sebelum Masehi.

Lalu bagaimana ia menjadi cerita universal yang dipeluk oleh miliaran orang di seluruh dunia?

Prof. Al Makin menjelaskan prosesnya dalam dua gelombang besar. Pertama, pada abad ke-4 Masehi, Kaisar Romawi Konstantinus membolehkan—bahkan mewajibkan—suku-suku non-Yahudi (gentile) untuk menerima narasi-narasi Israel sebagai iman mereka. Inilah yang disebut Kristiani: sebuah universalisasi kisah Israel. Kedua, pada abad ke-7, kisah yang semula dalam bahasa Ibrani, Aramaik, dan Syriak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Islam kemudian melakukan universalisasi kedua atas narasi yang sama.

"Kenapa harus bingung? Kan sudah jelas asalnya Adam dan Hawa itu milik siapa, berkembangnya kapan, diterjemah ke dalam bahasa Arab itu kapan." — Prof. Al Makin

Angka yang Membuat Segalanya Lebih Jelas

Di sinilah sains masuk dengan data yang sangat konkret.

Antropologi, arkeologi, dan biologi evolusioner menyimpulkan bahwa Homo sapiens—makhluk seperti kita—mulai muncul sekitar 300.000 tahun sebelum Masehi, bermigrasi keluar dari Afrika ke Asia dan Eropa dalam gelombang panjang. Temuan ini diperkuat oleh penemuan fosil di Jebel Irhoud, Maroko, yang dipublikasikan oleh Jean-Jacques Hublin dan tim dari Max Planck Institute dalam jurnal Nature pada 2017. (Hublin et al., Nature, 2017; lihat juga rangkuman di Smithsonian Human Origins Program.)

Narasi Adam dan Hawa, sementara itu, baru muncul dalam bentuk tertulis sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi.

Selisihnya: 298.000 tahun yang tidak ada dalam narasi tersebut.

Seperti yang ditegaskan Prof. Al Makin: "Homo sapien kira-kira makhluk seperti kita ini dimulai 300.000 sebelum Masehi. Padahal cerita itu cuma 2.000 sebelum Masehi. Nah 300.000 sebelum Masehi ya gak ada Adam dan Hawa, cerita itu belum ada."

Ini bukan serangan terhadap agama. Ini hanya cara kerja ilmu pengetahuan: mengikuti bukti ke mana pun ia mengarah.

Lalu Apa Fungsi Kisah Itu?

Di sinilah pendekatan double movement dari Fazlur Rahman menjadi relevan. Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity (University of Chicago Press, 1982) mengajarkan: teks agama harus dipahami dalam konteks historis kemunculannya, baru kemudian prinsip-prinsipnya ditarik ke konteks masa kini.

Dengan lensa itu, narasi Adam dan Hawa bisa dibaca sebagai narasi teologis tentang kondisi manusia—tentang kerentanan, tanggung jawab moral, hubungan manusia dengan Tuhan, dan konsekuensi dari pilihan. Bukan laporan arkeologi yang menunggu konfirmasi dari ekskavasi tanah.

Pemahaman seperti ini justru membebaskan: iman tidak lagi harus bersaing dengan sains, dan sains tidak perlu merasa bertugas "membongkar" agama. Keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda—dan filsafat adalah alat untuk membantu kita membedakan pertanyaan mana yang dijawab oleh siapa.

Mengapa Pertanyaan Seperti Ini Sering Ditabukan?

Ini pertanyaan yang sama pentingnya: kenapa diskusi semacam ini jarang terdengar di ruang publik Indonesia?

Prof. Al Makin menunjuk pada dua masalah yang saling terkait. Pertama, ekosistem intelektual yang tidak memberi ruang aman untuk bertanya. Kemajuan ilmu pengetahuan memerlukan dua hal sekaligus: dana dan proteksi politik. Ini pernah terjadi di masa kejayaan Baghdad—di bawah Dinasti Abbasiyah, penguasa seperti Harun al-Rashid dan Al-Ma'mun aktif mendanai Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), mengundang cendekiawan lintas tradisi, dan melindungi pemikir yang bereksperimen dengan gagasan baru. Hasilnya: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rushd—nama-nama yang menjadi fondasi ilmu pengetahuan dunia. (Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, Routledge, 1998.)

Di banyak konteks hari ini, kondisi itu terbalik: otoritas merasa terancam ketika legitimasinya dipertanyakan.

Kedua—dan ini yang lebih mengejutkan—Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pemikir, melainkan kekurangan pembaca kritis. Karya Hasbi Ash-Shiddieqy tentang "Fikih Indonesia", ensiklopedia budaya Serat Centhini, hingga pemikiran Fazlur Rahman—semua tersedia, tapi jarang dibaca, dikritik, atau dikembangkan. Karya-karya itu tersimpan rapi di rak perpustakaan, menunggu pembaca yang tidak kunjung datang.

Plot twist: Para pendiri bangsa kita justru adalah pembaca filsafat yang serius. Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka bergulat dengan Hegel, Marx, dan tradisi intelektual Islam klasik. Dari pergulatan itu lahir keberanian mempertanyakan kekuasaan kolonial dan merancang identitas bangsa yang merdeka—bukan dari hafalan, tapi dari "seni bertanya", fondasi paling dasar filsafat.

Tiga Langkah Konkret untuk Mulai Berpikir Kritis

Kabar baiknya, melatih nalar kritis tidak butuh gelar filsafat. Berikut yang bisa dimulai minggu ini:

1. Baca satu karya pemikir lokal yang selama ini diabaikan (mulai 30 menit) Pilih satu: karya Hasbi Ash-Shiddieqy, Nurcholish Madjid, atau kutipan-kutipan Tan Malaka. Tidak perlu langsung habis—cukup 10–20 halaman, lalu tulis satu pertanyaan yang muncul dari bacaan itu. Tujuan: membangun koneksi dengan tradisi intelektual sendiri.

2. Latih "pertanyaan lapis kedua" dalam diskusi sehari-hari Ketika mendengar klaim apapun—berita, ceramah, postingan viral—biasakan bertanya bukan hanya "benarkah ini?" tapi juga "siapa yang diuntungkan dari narasi ini?" dan "bukti apa yang bisa membuktikan ini salah?" Inilah inti berpikir kritis ala filsafat.

3. Ikuti satu sumber diskusi intelektual yang serius (minimal 1x seminggu) Podcast, kanal YouTube akademik, atau diskusi buku bersama teman. Bukan untuk jadi ahli, tapi untuk membiasakan otak dalam mode inquiry—bukan hanya mode konsumsi.

Bertanya Bukan Ancaman—Itu Warisan Terbaik Kita

Kita kembali ke pertanyaan di awal: apakah kisah Adam dan Hawa fakta sejarah?

Jawabannya, menurut sains dan kajian arkeologi, adalah tidak—setidaknya tidak dalam pengertian historis yang bisa diverifikasi. Tapi itu bukan akhir dari pembicaraan. Justru di situlah pembicaraan yang sesungguhnya dimulai: apa makna dan fungsi kisah itu, dan bagaimana kita memahaminya dengan jujur dan mendalam.

Indonesia memiliki posisi unik sebagai titik temu peradaban India, Cina, Arab, dan Eropa. Pemikiran di Nusantara adalah ramuan dari semua pengaruh itu. Sayang sekali jika warisan intelektual seluas itu tidak dilanjutkan hanya karena kita takut bertanya.

Ingat: Bukan filsafat yang membuat orang sesat. Yang membuat orang mudah tersesat adalah terbiasa menerima tanpa pernah bertanya.


Referensi & Resources:

Admin Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: