Minyak di Atas US$110: Premi Hormuz Naik, Emas Tertekan

Brent kembali di atas US$110 saat ongkos kirim dan asuransi perang naik. Lewat inflasi dan suku bunga The Fed, tekanannya merembet ke emas.

#minyak #selathormuz #emas #komoditas #thefed

EmitenMEDCANTM
Kreator Moco
8 menit baca
Memuat gambar...
Minyak di Atas US$110: Premi Hormuz Naik, Emas Tertekan

Brent diperdagangkan di US$110,75 per barel pada Kamis pagi, 22 Oktober 2026 (pukul 04.42 GMT), naik 1,77% dari penutupan sebelumnya, menurut Reuters yang dikutip Kontan. Pada waktu yang hampir bersamaan, emas spot berada di US$4.115,50 per ons troi, turun 0,6% dan mendekati level terendah sejak 15 Oktober (Reuters via Kontan).

Dua harga itu bergerak berlawanan, padahal emas lazim dipandang sebagai tempat berlindung saat perang. Sejak konflik AS-Iran pecah akhir Februari, emas turun sekitar 20% menurut Bloomberg, sementara Brent naik sekitar 80% sepanjang 2026 (Bloomberg Technoz, 19 Oktober 2026).

Satu catatan agar angkanya jujur: Brent ditutup di US$108,82 pada Rabu, 21 Oktober, sedikit di bawah level US$110 yang jadi judul tulisan ini (CNBC via Liputan6, 22 Oktober 2026).

Angka US$110 dan seberapa kokoh level itu

Brent sempat menyentuh US$110 pada Jumat, 16 Oktober 2026, pertama kali sejak Mei, setelah serangan Iran di Selat Hormuz meningkat dan Houthi menyerang Arab Saudi (CNBC via Kompas, 17 Oktober 2026). Sumber berbeda mengutip selisih beberapa puluh sen karena jam kutipan dan kontraknya tidak sama.

PDF page 1
Tanggal Data Angka Sumber
16 Okt 2026 Brent, sempat menyentuh US$110 CNBC via Kompas
19 Okt 2026 Brent, penutupan US$109,55 Bloomberg Technoz
21 Okt 2026 Brent / WTI, penutupan US$108,82 / US$97,15 CNBC via Liputan6
22 Okt 2026 Brent, 04.42 GMT US$110,75 Reuters via Kontan
21 Okt 2026 Emas spot, terendah sesi US$4.104,33 Reuters via Kontan
22 Okt 2026 Emas spot, 00.40 GMT US$4.115,50 Reuters via Kontan

Dari data itu, "di atas US$110" lebih tepat dibaca sebagai zona yang sedang diuji. Penutupan harian pekan ini bergerak di kisaran US$108 sampai US$110.

Dari mana premi pasokan datang

Goldman Sachs memperkirakan premi risiko perang untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz menyumbang sekitar US$7 dari kenaikan rata-rata biaya pengiriman sebesar US$20 per barel secara tahunan. Pemindahan muatan antarkapal di luar Teluk Persia menambah sekitar US$4 (CNBC via Liputan6, 22 Oktober 2026). Sebagian harga yang dibayar kilang di Asia, dengan demikian, masuk ke kapal, asuransi, dan rute.

Rikopedia Research menafsirkannya lebih jauh. Dalam dua rilisnya, ia menyebut pengiriman lewat Hormuz sempat 10,3 juta barel per hari, 23% di bawah level normal 13,5 juta (6 Oktober 2026), lalu pulih ke 82% dari kapasitas normal. Produksi Teluk disebut mencapai 24 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 18 Oktober, di atas rata-rata sebelum perang 23,3 juta (21 Oktober 2026). Kesimpulannya: Brent bertahan di US$108 karena tarif kargo dan asuransi perang, sementara barel fisiknya sudah kembali. Sewa tanker disebut menembus US$1 juta per hari.

Pembacaan lain menekankan bahwa gangguannya masih nyata. Reuters mencatat Houthi menyerang beberapa target di Arab Saudi pada 21 Oktober, termasuk ladang minyak yang diserang drone dan bandara sipil di Dammam. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim empat kapal terkena serangan dan tiga kapal lain menabrak ranjau di barat Hormuz (Kontan, 22 Oktober 2026). Stok minyak mentah AS turun 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pekan lalu, lebih dalam dari perkiraan analis yang memperkirakan penurunan 820.000 barel (EIA via Reuters). Kepala Saudi Aramco, menurut IDXChannel, menyatakan dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel sejak perang dimulai (4 Agustus 2026).

PDF page 2

Dua pembacaan ini belum bisa diadu langsung. Angka Rikopedia berasal dari satu penerbit sekunder, dan saya tidak menemukan data pelayaran primer yang menguatkan atau membantahnya dalam bahan yang diperiksa.

Dari harga minyak ke harga emas

Emas tidak membayar bunga. Karena itu, makin tinggi suku bunga, makin mahal biaya peluang memegangnya, yaitu imbal hasil yang hilang karena dana tidak ditaruh di aset berbunga. Jalurnya begini: minyak mahal mengerek biaya bahan bakar dan transportasi, inflasi bertahan tinggi, The Fed menahan atau menaikkan bunga, imbal hasil obligasi AS naik, dan emas tertekan.

Datanya sejalan dengan jalur itu. The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September 2026, kenaikan pertama tahun ini (Reuters via Beritasatu, 21 Oktober 2026). Menurut CME FedWatch, peluang kenaikan pada rapat 27-28 Oktober hanya sekitar 16%, tetapi peluang kenaikan pada Desember sekitar 90% (Kontan, 21 Oktober 2026). Imbal hasil Treasury yang lebih tinggi ikut menekan emas (StockWatch, 22 Oktober 2026).

Emas kini sekitar 26% di bawah rekor US$5.594,82 pada Januari 2026 dan sekitar 22% di bawah level sebelum perang Iran (CNBC via Beritasatu). Haberkorn, analis yang dikutip Reuters, menyebut US$4.000 sebagai level yang perlu diamati. Pergerakan emas, katanya, sangat bergantung pada pernyataan The Fed.

PDF page 3

Ada satu kehati-hatian. Rekor emas tercatat pada Januari, sebelum perang, jadi tidak semua penurunannya bisa ditimpakan ke minyak. Pada 20 Oktober, bahkan, dolar yang melemah gagal menopang emas karena gejolak minyak lebih dominan (StockWatch, 21 Oktober 2026). Itu korelasi yang kuat sepekan terakhir, belum bukti sebab-akibat jangka panjang.

Dua arah risiko pada pembacaan ini

Tesisnya: premi Hormuz menahan minyak tinggi, inflasi dan suku bunga menekan emas.

Yang bisa membuat pembacaan ini salah:

  • Diplomasi bisa menurunkan premi dengan cepat. Minyak turun lebih dari 5% dan ditutup di level terendah tiga pekan pada 4 Agustus 2026 saat harapan penyelesaian diplomatik menguat (IDXChannel), dan sempat ke level terendah 12 hari pada 21 September 2026 (KabarBursa). Kremlin juga menyatakan Putin setuju melanjutkan perundingan damai Ukraina paling cepat bulan depan (Reuters via Kontan, 22 Oktober 2026).
  • Jika tarif kargo dan asuransi turun, harga Brent, menurut pembacaan Rikopedia, akan terkikis mendekati level pasokan fisik.
  • Jika The Fed tidak menaikkan bunga, atau data inflasi melemah, tekanan pada emas berkurang. Sebaliknya, eskalasi yang meluas bisa mengembalikan permintaan aset aman, sehingga pola minyak naik dan emas turun tidak otomatis berlanjut. Ini skenario, bukan prediksi.

Sisi sebaliknya juga ada. Jika gangguan pelayaran meluas, minyak bisa bergerak jauh melewati US$110, dan tekanan inflasi pada pembuat kebijakan ikut membesar.

PDF page 4

Rupiah dan dua emiten yang sensitif

Rupiah melemah ke Rp18.042 per dolar AS pada tengah hari 22 Oktober 2026 (Kontan). Indonesia berstatus net importir minyak, sehingga harga di atas US$100 membebani subsidi energi dan neraca perdagangan migas (Rikopedia Research, 15 Oktober 2026).

Di bursa, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mewakili sisi hulu migas, yang menurut Rikopedia menerima harga jual rata-rata lebih tinggi saat minyak naik. MEDC naik 11,11% ke Rp1.400 pada 20 Oktober 2026, dengan PER 3,58 kali dan PBV 0,85 kali (Kontan). PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang punya lini emas dan nikel, naik 10,48% ke Rp2.740 pada hari yang sama, dengan PER 5,15 kali dan PBV 1,77 kali.

Dua kenaikan itu tidak bisa dibaca sebagai respons terhadap minyak atau emas saja. Hari itu BRPT naik 20,08% dan banyak saham LQ45 lain menguat setelah tekanan jual sebelumnya (Kontan). MEDC juga ditutup di Rp1.515 pada 15 Oktober (Kontan), sehingga harga minyak tinggi tidak menahan penurunannya di tengah pelemahan pasar. Data publik tentang sensitivitas laba MEDC terhadap harga minyak, dan porsi pendapatan emas ANTM, perlu dicek di laporan keuangan masing-masing di IDX.

Batas pengetahuan dan hal yang perlu dipantau

PDF page 5

Brent mendekati US$110 karena ongkos pengiriman dan risiko perang ikut dibayar, dan emas ikut tertekan lewat jalur inflasi dan suku bunga. Belum jelas seberapa besar porsi premi itu dibanding kelangkaan fisik, karena data pelayaran primer belum tersedia di bahan ini. Belum jelas pula apakah The Fed akan menaikkan bunga lagi.

Yang perlu dipantau: hasil rapat The Fed 27-28 Oktober 2026 dan data PCE AS yang dijadwalkan pekan depan menurut Kontan, karena keduanya menentukan jalur suku bunga. Level emas spot di sekitar US$4.000 yang disebut Haberkorn. Data stok minyak mingguan EIA, yang rilis tiap Rabu. Volume harian kapal yang melintasi Selat Hormuz dan tarif sewa tanker. Perkembangan perundingan AS-Iran dan Rusia-Ukraina, yang dua kali terbukti menurunkan harga minyak pada 2026.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Komoditas: