Mengapa NU Bisa Jadi Ormas Islam Terbesar di Dunia?

Mengapa PBNU Begitu Besar? Antara Pesantren, Akar Rumput, dan Modal Sosial

#NU #NahdlatulUlama #organisasiIslam #sejarahIndonesia #politik

Kreator Moco
7 menit baca

Bayangkan sebuah organisasi yang didirikan di ruang tamu seorang kiai di Surabaya pada 1926 — tanpa anggaran besar, tanpa backing negara, tanpa teknologi — lalu hampir seabad kemudian berkembang menjadi organisasi Muslim terbesar di planet ini. Bukan di Arab Saudi. Bukan di Mesir. Di Indonesia.

Itulah Nahdlatul Ulama.

Survei Lembaga Survei Indonesia menunjukkan 56,9% penduduk Indonesia mengaku sebagai warga NU — dengan estimasi populasi 280 juta jiwa, angka itu berarti sekitar 159 juta orang. Bahkan jika kita pakai angka yang lebih konservatif dari Kementerian Agama, jumlah pengikut NU pada tahun 2021 mencapai 95 juta anggota — jauh melampaui negara Islam mana pun. Sebesar-besarnya organisasi Islam di Mesir, maksimum 72 juta orang. Di Malaysia, paling tinggi 15 juta.

Pertanyaannya bukan sekadar "seberapa besar NU?" Pertanyaan yang lebih menarik adalah: mengapa bisa sebesar itu? Dan jawabannya jauh lebih kompleks — dan lebih menarik — dari sekadar soal agama.

Lahir dari Krisis, Bukan dari Kemewahan

Para ulama pesantren Ahlussunah wal Jamaah mendirikan organisasi bernama Nahdlatul Ulama di Surabaya pada 31 Januari 1926, bertempat di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah di Kertopaten. Tapi konteks kelahirannya sering luput dari diskusi populer.

NU tidak lahir karena ambisi politik semata. Lahirnya NU merupakan respons dari berbagai problem keagamaan, peneguhan mazhab, serta alasan-alasan kebangsaan dan sosial masyarakat. Konkretnya: raja baru Arab Saudi dari aliran Wahhabi waktu itu hendak melarang praktik bermadzhab dan membongkar makam Rasulullah — dua hal yang sangat penting bagi Islam tradisional Indonesia. Para kiai merasa perlu bersuara, dan untuk bersuara secara efektif, mereka butuh organisasi formal.

Ini penting: NU lahir bukan untuk memperluas kekuasaan, tapi untuk mempertahankan tradisi yang terancam. Dan energi defensif semacam ini — rasa memiliki sesuatu yang harus dilindungi — ternyata jauh lebih kuat dalam membangun loyalitas massa dibanding sekadar ajakan ideologis.

Dengan pemahaman yang tradisionalis dan pengaruh pesantren yang kuat, NU bahkan menjadi organisasi terbesar dibandingkan Muhammadiyah dan PERSIS. Ini bukan soal siapa yang paling modern atau paling progresif. Ini soal siapa yang paling berakar.

Jaringan Pesantren: Infrastruktur yang Tak Terlihat

Kunci terbesar besarnya NU adalah sesuatu yang tidak tampak di permukaan: jaringan pondok pesantren yang telah ada berabad-abad sebelum NU sendiri berdiri.

Pendirian pondok pesantren umumnya bermula dari seorang kiai yang menetap di suatu tempat, kemudian didatangi oleh santri yang ingin belajar. Para santri tinggal bersama dan membiayai kehidupan mereka secara gotong royong, dengan dukungan masyarakat sekitar. Pola ini menjadikan pesantren mandiri secara ekonomi dan sosial sejak masa awal berdirinya.

Artinya, jauh sebelum PBNU ada kantor di Jakarta, jauh sebelum ada akta notaris organisasi, sudah ada ribuan titik jaringan kiai-santri yang tersebar di pelosok Jawa, Madura, hingga Sumatera dan Kalimantan. Ketika NU hadir sebagai payung formal, ia tidak perlu membangun jaringan dari nol — ia cukup mengorganisasi jaringan yang sudah ada.

Inilah yang membedakan NU dari banyak ormas lain: NU tidak menarik massa ke dalam organisasi, NU mengorganisasi massa yang sudah ada di lapangan. Hasilnya? Penetrasi yang tak tertandingi hingga ke level RT dan RW di desa-desa terpencil.

Saat ini NU memiliki jaringan yang melibatkan 30 pengurus wilayah dengan 339 cabang, 12 cabang khusus, 2.630 majelis wakil cabang, dan 37.125 ranting di seluruh Indonesia. Ini bukan sekadar angka administratif — ini adalah infrastruktur sosial yang nyata, hidup, dan aktif bergerak setiap hari.

Ekosistem, Bukan Sekadar Organisasi

Satu hal lagi yang sering diabaikan: NU bukan sekadar satu organisasi. Ia adalah ekosistem.

Di bawah payung PBNU, terdapat sederet badan otonom yang menjangkau hampir setiap segmen demografis masyarakat:

- Muslimat NU — untuk perempuan dewasa

- Fatayat NU — untuk perempuan muda (maks. 40 tahun)

- GP Ansor — untuk pemuda laki-laki, dengan sayap Banser (Barisan Ansor Serbaguna)

- IPNU & IPPNU — untuk pelajar dan santri

- ISNU — untuk sarjana dan kaum intelektual

- Sarbumusi — untuk kaum buruh Muslim

([Sumber: NU Online / nugresik.or.id](https://www.nugresik.or.id/mengenal-badan-otonom-banom-dalam-nahdlatul-ulama/))

Belum lagi lembaga-lembaga fungsional seperti LP Ma'arif NU di bidang pendidikan formal, Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah untuk pesantren, hingga LAZISNU untuk zakat dan infaq. Jika Anda lahir di lingkungan NU, Anda bisa menjalani seluruh fase hidup — dari pelajar, mahasiswa, pemuda, profesional, hingga orang tua — dalam satu ekosistem organisasi yang sama.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah desain yang terbukti efektif mempertahankan loyalitas lintas generasi.

Islam Aswaja: Teologi yang Kompatibel dengan Budaya Lokal

Ada dimensi teologis yang juga tidak bisa diabaikan. NU menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) — yang secara praksis memberikan ruang bagi akulturasi budaya lokal dalam praktik keagamaan. Tahlilan, ziarah kubur, tradisi selamatan, seni hadrah — semua ini bukan "bidah yang harus dihapus" dalam pandangan NU, melainkan bagian dari ekspresi Islam yang hidup bersama tradisi lokal.

Di negara seperti Indonesia yang memiliki keragaman budaya luar biasa, pendekatan ini terbukti jauh lebih inklusif dan bertahan lama dibanding pendekatan puritan yang menuntut pemisahan ketat antara agama dan budaya. Masyarakat tidak perlu meninggalkan identitas kulturalnya untuk menjadi Muslim yang baik versi NU — mereka cukup menjadi diri mereka sendiri.

Ini bukan kelemahan teologis. Ini adalah kekuatan adaptasi yang luar biasa.

Politik, Kekuasaan, dan Seni Bertahan

NU juga tidak pernah naif soal politik. Sejak masa kemerdekaan, NU aktif dalam lanskap politik Indonesia — pernah menjadi partai politik mandiri (1952-1973), kemudian berfusi ke PPP di era Orde Baru, lalu kembali ke posisi "organisasi kemasyarakatan" pada 1984. Gus Dur — Abdurrahman Wahid, mantan Ketua Umum PBNU — bahkan menjadi Presiden Indonesia ke-4.

Kiai-kiai NU mendirikan organisasi pemuda bersifat nasionalis, bukan kedaerahan. Pada tahun 1924, para pemuda pesantren mendirikan Shubban al-Wathan (Pemuda Tanah Air), yang kemudian menjadi Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO). Orientasi nasionalis ini membuat NU selalu relevan dalam percaturan politik negara, bukan sekadar komunitas keagamaan yang terpinggirkan.

Kemampuan NU untuk tetap relevan secara politik — tanpa kehilangan akar kultural dan keagamaannya — adalah seni tersendiri. Dan seni inilah yang membuat NU tidak pernah menjadi "museum Islam tradisional" tapi terus hidup dan dinamis.

Besar Bukan Berarti Tanpa Masalah

Tentu saja, besarnya NU juga membawa komplikasi. Pertanyaan soal konsolidasi politik internal, ketegangan antara kepentingan struktural PBNU dengan otonomi kultural warga NU di akar rumput, hingga perdebatan soal arah organisasi di era digital — semua ini adalah PR yang tidak ringan.

Ada juga perbedaan interpretasi di internal: apakah angka 90 juta atau 159 juta itu mencerminkan anggota aktif yang benar-benar terikat organisasi, ataukah sekadar warga NU kultural — orang-orang yang secara tradisi dan identitas merasa NU, tapi tidak punya kartu anggota dan tidak aktif di kegiatan organisasi? Survei SMRC untuk Pilpres 2024 mencatat angka 80 juta, sementara survei LSI menyebut lebih dari 150 juta — perbedaan metodologi yang signifikan.

Tapi perbedaan angka itu sendiri sudah bicara banyak: betapa luasnya jangkauan identitas NU dalam masyarakat Indonesia, hingga batas antara "anggota organisasi" dan "identitas kultural" menjadi blur.

Kesimpulan: Bukan Keajaiban, tapi Arsitektur

NU besar bukan karena mukjizat. NU besar karena kombinasi yang jarang dimiliki sebuah organisasi sekaligus: akar historis yang panjang, jaringan pesantren yang sudah ada sebelum organisasi lahir, teologi yang kompatibel dengan budaya lokal, ekosistem badan otonom yang menjangkau semua segmen demografis, dan naluri politik yang tajam dalam menavigasi perubahan zaman.

The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) mengakui NU sebagai organisasi Muslim terbesar di dunia, mengajarkan bahwa pesan utama Islam adalah cinta dan kasih sayang universal. Pengakuan internasional ini bukan sekadar label — ia mencerminkan bagaimana NU telah berhasil membangun sesuatu yang sangat langka: organisasi keagamaan yang masif, tapi tidak monolitik; tradisionalis, tapi tidak statis.

Pertanyaan yang lebih relevan ke depan bukan lagi "mengapa NU besar" — tapi "apakah NU mampu mengelola kebesarannya untuk kepentingan yang lebih luas?" Itu tantangan yang jauh lebih sulit.

Membangun organisasi selama satu abad adalah soal konsistensi. Mempertahankan relevansinya di abad berikutnya adalah soal keberanian untuk berubah.

Referensi & Sumber:

- CNBC Indonesia — Organisasi Islam Terbesar di RI, NU atau Muhammadiyah? (April 2024) (https://www.cnbcindonesia.com/research/20240403160423-128-528006/organisasi-islam-terbesar-ri-nu-apa-muhammadiyah)

- NU Online — Gus Yahya Masuk 20 Besar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia 2024 (https://nu.or.id/nasional/gus-yahya-ketum-pbnu-masuk-20-besar-muslim-paling-berpengaruh-di-dunia-2024-x7aYK)

- Jabar NU Online — NU Berdiri pada 31 Januari 1926 (https://jabar.nu.or.id/sejarah/nu-berdiri-pada-tanggal-31-januari-1926-m-bertepatan-dengan-16-rajab-1344-h-GocuL)

- Kompas — Sejarah Singkat Berdirinya Nahdlatul Ulama (https://regional.kompas.com/read/2022/01/24/204250478/sejarah-singkat-berdirinya-nahdlatul-ulama-nu-latar-belakang-tokoh-dan)

- Tirto.id — Daftar Organisasi Islam di Indonesia dan Sejarah Singkatnya (https://tirto.id/daftar-organisasi-islam-di-indonesia-dan-sejarah-singkatnya-gYah)

- NUGresik — Mengenal Badan Otonom dalam Nahdlatul Ulama (https://www.nugresik.or.id/mengenal-badan-otonom-banom-dalam-nahdlatul-ulama/)

- Walisongo Journal — NU dan Kontribusinya dalam Memperjuangkan Kemerdekaan (https://journal.walisongo.ac.id/index.php/walisongo/article/download/969/pdf/2759)

- Berita Satu — Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia (https://www.beritasatu.com/nasional/2929311/sejarah-pondok-pesantren-di-indonesia-dari-awal-hingga-era-modern)

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Politik & Sosial: