Plato 2.400 Tahun Lalu Sudah Tahu - Kekayaan Bukan Ukuran Manusia

Filsuf Yunani kuno itu berkata petani miskin setara dengan pangeran di mata Tuhan. Indonesia 2024 membuktikan betapa sulitnya meyakini itu.

#filsafat #plato #kesetaraan #kesenjangansosial

Kreator Moco
7 menit baca

Di sebuah gedung pernikahan mewah Jakarta, dua tamu berdiri berdampingan di antrean prasmanan. Satu memakai kemeja linen Italian brand, yang lain memakai batik beli di pasar. Keduanya mengambil nasi dari panci yang sama, makan di meja yang sama, dan sesudah kenyang, perut keduanya akan merasa sama puasnya. Tapi sepanjang malam itu, percakapan, tatapan, dan kursi mereka tidak pernah bertemu.

Ini bukan cerita soal kesombongan individu. Ini soal sistem nilai yang sudah tertanam ribuan tahun — sistem yang bahkan Plato, 2.400 tahun lalu, sudah melihatnya sebagai sebuah kekeliruan besar.

"All men are by nature equal, made all of the same earth by one Workman; and however we deceive ourselves, as dear unto God is the poor peasant as the mighty prince." Begitu kata Plato. Kalimat itu singkat. Tapi implikasinya berat sampai hari ini.

Siapa Plato, dan Mengapa Kita Harus Mendengarnya?

Plato lahir sekitar 428/427 SM di Athena, dan bersama gurunya Sokrates serta muridnya Aristoteles, meletakkan fondasi filosofis peradaban Barat. Bukan tokoh sembarangan — ia adalah orang yang pemikirannya masih dikutip, diperdebatkan, dan diajarkan di universitas-universitas terbaik dunia sampai sekarang.

Ia mendirikan Academy di Athena, salah satu institusi pendidikan tinggi pertama di dunia Barat. Plato memperkenalkan konsep forms — entitas abstrak seperti Keadilan, Keindahan, dan Kesetaraan — sebagai realitas yang lebih nyata dari benda-benda fisik yang kita lihat sehari-hari.

Yang menarik: Plato bukan orang miskin. Kedua orang tuanya berasal dari aristokrasi Yunani. Ayahnya, Ariston, merupakan keturunan raja-raja Athena dan Messenia. Dengan kata lain, ia tumbuh di lingkungan elit — tapi justru dari sana ia melihat dengan jernih betapa manusia gemar menipu dirinya sendiri soal hierarki sosial.

Ia menyebutnya terang-terangan: "however we deceive ourselves" — bagaimanapun kita membohongi diri sendiri. Kalimat itu bukan kalimat netral. Itu sebuah diagnosis.

Paradoks Plato: Percaya Kesetaraan, tapi Merekayasa Hierarki

Di sinilah yang menarik — dan yang sering dilupakan orang ketika mengutip Plato soal kesetaraan.

Dalam The Republic, karya terbesarnya, Plato menyatakan bahwa setiap jiwa manusia memiliki tiga bagian: rasio (reason), semangat (spirit), dan hasrat (appetite). Dan dari tiga bagian jiwa ini, ia membangun teori negara ideal dengan tiga kelas: filsuf-raja yang memerintah, penjaga yang mempertahankan, dan rakyat yang memproduksi.

Sistem kelas Plato ini menghadapi kritik serius. Struktur kelas yang rigid — meskipun berbasis kemampuan, bukan kelahiran — dianggap membatasi kebebasan individu. Sistem filsuf-raja terlihat tidak demokratis dan berpotensi otoriter.

Jadi apakah Plato kontradiktif? Tidak sepenuhnya. Dalam visi Plato tentang Republic, semua kelas sosial menjalankan fungsi terbaik mereka dan disatukan dalam satu komunitas oleh kepentingan bersama. Bagi Plato, kesetaraan bukan berarti semua orang identik dalam fungsi — tapi semua orang setara dalam nilai dasar sebagai manusia. Seorang petani yang menjalankan tugasnya dengan baik setara martabatnya dengan raja yang memerintah dengan bijak.

Perbedaan itu penting. Kita sering mencampur aduk kesetaraan martabat dengan keidentikan fungsi. Plato tidak melakukan itu.

Angka yang Membuat Kita Sulit Tidur

Sekarang mari kita tinggalkan Athena kuno sebentar dan lihat Indonesia 2024.

Laporan CELIOS bertajuk "Indonesia Inequality Report 2024: Private Jets for the Rich, Bicycles for the Poor" mengungkapkan bahwa ketimpangan di Indonesia telah mencapai titik di mana kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 50 juta warga Indonesia. Dalam enam tahun ke depan, Indonesia diperkirakan akan memiliki quadrillionaire pertamanya, sementara dibutuhkan 133 tahun untuk menghapus kemiskinan.

Baca sekali lagi: 50 orang vs. 50 juta orang. Bukan 50.000. Bukan 500.000. Lima puluh juta.

Data dari Lembaga Penjamin Simpanan pada 2023 menunjukkan bahwa dari 554 juta rekening bank di Indonesia, 98,8% memiliki simpanan kurang dari Rp 100 juta, dan hanya mencakup 12,3% dari seluruh simpanan perbankan. Sementara itu, 135.000 rekening dengan simpanan lebih dari Rp 5 miliar menguasai 53% seluruh simpanan di industri perbankan.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik ekonomi. Ini cerminan dari apa yang Plato sebut sebagai "self-deception" — kebohongan kolektif yang kita bangun untuk membenarkan bahwa memang ada manusia yang "lebih layak" dari manusia lain.

Dalam dua dekade terakhir, kesenjangan antara kelompok terkaya dan sisanya di Indonesia melebar lebih cepat dibandingkan negara ASEAN manapun, menjadikannya salah satu yang tertinggi ke-6 secara global dalam hal disparitas pendapatan.

Apa yang Sebenarnya Plato Katakan tentang Kekayaan?

Bagi Plato, keadilan adalah kondisi jiwa — sebuah kebajikan. Bukan semata-mata kerangka hukum untuk membuat aturan yang adil. Keadilan, bagi Plato, datang terutama dari dalam diri seseorang. Jika seseorang adalah pribadi yang adil, ia bisa membantu menciptakan masyarakat yang adil.

Ini kontras langsung dengan obsesi kita pada wealth-signaling — memamerkan kekayaan sebagai bukti nilai. Plato tidak hanya skeptis terhadap kekayaan sebagai ukuran kemuliaan. Dalam The Republic, Plato menggambarkan individu oligarkis — yang terobsesi kekayaan — sebagai seseorang yang membiarkan bagian nafsu (appetitive part) jiwanya mendominasi, dan ini adalah kondisi jiwa yang tidak seimbang, tidak adil terhadap diri sendiri.

Dengan kata lain: menurut Plato, orang yang menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama hidupnya sedang melakukan ketidakadilan pertama-tama kepada dirinya sendiri.

Ini bukan ceramah anti-kekayaan. Ini soal prioritas dan definisi. Apakah kita mengukur nilai seseorang dari apa yang ia punya, atau dari siapa ia sebenarnya?

Dari Filsafat ke Kehidupan Nyata: Tiga Langkah Konkret

Filsafat tanpa praktik hanyalah wacana. Jadi apa yang bisa kita ambil dari Plato untuk kehidupan sehari-hari?

Pertama, audit cara kita menilai orang. Perhatikan reaksi pertama saat bertemu seseorang baru. Apakah pertanyaan pertama dalam kepala kita adalah "dia kerja di mana?" atau "dia naik apa?" — bukan "dia orang seperti apa?" Ini bukan tentang naif terhadap realitas sosial, tapi tentang menyadari bias evaluatif kita.

Kedua, praktikkan apa yang psikolog sebut cognitive reframing soal status. Riset dari Universitas Stanford oleh Prof. Jennifer Aaker menunjukkan bahwa orang yang mendefinisikan makna hidup di luar pencapaian material lebih resilient terhadap tekanan sosial dan lebih bahagia secara keseluruhan (Stanford Social Innovation Review, 2019). Plato mungkin tidak tahu psikologi positif, tapi ia tahu arahnya.

Ketiga, terapkan dalam ruang sosial terdekat. Di kantor, di keluarga, di lingkungan pertemanan — siapa yang sering kita abaikan karena posisinya "di bawah"? Satpam, office boy, petugas kebersihan? Plato mengingatkan: mereka setara dengan pangeran di mata Tuhan. Satu kalimat "terima kasih" yang tulus itu bukan kebaikan hati — itu pengakuan atas martabat yang memang sudah ada.

Kesetaraan Bukan Utopia — Tapi Pilihan Etis

Plato tidak naif. Ia tahu hierarki sosial akan selalu ada. Ia sendiri merancang struktur kelas dalam negara idealnya. Tapi yang ia perjuangkan adalah sesuatu yang berbeda: bahwa di balik semua struktur itu, nilai dasar setiap manusia tidak berubah.

Petani miskin itu sama berharganya dengan pangeran yang berkuasa — bukan karena mereka identik dalam fungsi, tapi karena keduanya dibuat dari tanah yang sama, oleh Tangan yang sama. Dalam tradisi keislaman yang saya yakini, ini senada: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13) — bukan yang paling kaya, paling berpengaruh, atau paling terkenal.

Kutipan Plato itu mengingatkan bahwa perbedaan-perbedaan eksternal tidak menentukan nilai hakiki seseorang. Dua milenium lebih setelah Plato menulis itu, kita masih perlu diingatkan hal yang sama.

Mungkin masalahnya bukan kita tidak tahu. Mungkin masalahnya, seperti yang Plato katakan, kita memilih untuk deceive ourselves — membohongi diri kita sendiri. Karena hierarki itu nyaman. Karena merasa "lebih" itu menyenangkan.

Pertanyaannya: Kebohongan mana yang masih kita pilih pertahankan hari ini?


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: