Podcast Video vs Audio - Siapa Menang di 2026?

Indonesia #1 pendengar podcast dunia, tapi 54% kini pilih format video. Apakah audio sudah kalah?

#podcast #kontenkreator #budayadigital #mediasosial

Kreator Moco
7 menit baca

Tahun lalu, seorang teman yang punya podcast audio dengan ribuan pendengar setia tiba-tiba mengumumkan sesuatu yang membuat grupnya heboh: "Gue mau beralih ke video podcast." Reaksi pendengarnya terpecah — separuh mendukung, separuh protes keras. Yang protes bilang: "Kita dengerin lo di jalan, di gym, sambil masak. Kalau video, kita harus duduk diam. Nggak mau."

Argumen itu masuk akal. Tapi data bicara lain.

Riset Populix yang dirilis September 2025 — melibatkan 1.100 responden generasi milenial dan Gen Z di seluruh Indonesia — menemukan bahwa 54% responden kini lebih sering memilih format video podcast, sementara hanya 7% yang masih setia dengan audio murni. Sisanya, 39%, mengonsumsi keduanya tergantung situasi (Populix, "How People Enjoy Podcasts in Daily Life", 2025). Ini bukan sekadar pergeseran tren. Ini perubahan perilaku yang fundamental — dan bagi kreator maupun pendengar, konsekuensinya cukup besar.

Pertanyaannya bukan lagi apakah video podcast sedang naik daun. Pertanyaannya adalah: sampai di mana audio masih relevan, dan siapa sebenarnya yang menang?

Indonesia: Negara Podcast Terbesar yang Kini Beralih ke Layar

Sebelum masuk ke pertarungan format, mari letakkan konteksnya. Indonesia bukan sekadar pasar podcast yang besar — Indonesia adalah pasar podcast terbesar di dunia.

Laporan We Are Social per Februari 2025 mencatat bahwa 42,6% pengguna internet Indonesia berusia 16 tahun ke atas rutin mendengarkan podcast setiap minggunya — jauh melampaui rata-rata global 22,1% (We Are Social, "Digital 2025 Report", Februari 2025). Untuk skala perbandingan, Meksiko ada di posisi dua dengan 41,8%, Brasil 38,8%. Kita yang teratas.

Rata-rata orang Indonesia juga menghabiskan 1 jam 4 menit per hari untuk konten podcast — lebih lama dari rata-rata global. Ini bukan angka kecil. Ini setara dengan menonton satu episode serial dalam sehari, setiap hari.

Lalu muncul fakta yang mengubah gambaran ini secara dramatis: pendengar audio murni di Indonesia berkurang lebih dari setengahnya dibanding tahun 2023. Indah Tanip, VP of Research Populix, menyebut perubahan ini "cukup drastis" dalam Radiodays Asia 2025 di Jakarta (SWA.co.id, September 2025). Dua dari tiga penikmat video podcast bahkan mengaku menonton hingga habis — bukan sekadar putar di latar belakang.

Yang membuat ini menarik: YouTube menjadi platform dominan untuk podcast video di Indonesia, dengan 96% penonton video podcast menggunakan YouTube sebagai platform utama, disusul TikTok dan Instagram Reels (ANTARA News, Agustus 2025). Platform yang lahir untuk video kini juga menjadi raja podcast.

Platform Besar Sudah Memilih: Video Menang

Di level global, keputusan platform-platform raksasa sebenarnya sudah memberi sinyal yang jelas sejak 2024-2025.

YouTube melaporkan 1 miliar penonton podcast bulanan pada awal 2025 — angka yang mustahil diabaikan oleh kreator manapun (Podbean, "The Rise of Video Podcasting: Statistics and Trends 2026", Maret 2026). YouTube kini menjadi platform podcast paling populer di Amerika Serikat dengan market share 33%, menggeser Spotify (26%) dan Apple Podcasts (14%) (PodRewind, Januari 2026).

Spotify tidak tinggal diam. Per Februari 2025, library video podcast mereka mencapai 330.000 judul — naik dari 100.000 di tahun 2023. Lebih dari 270 juta pengguna Spotify sudah menonton setidaknya satu video podcast (Backlinko, Februari 2026).

Yang paling signifikan: Apple Podcasts mulai mendukung video podcast pada awal 2026 — artinya seluruh platform besar kini memperlakukan video sebagai fitur inti, bukan opsional. Ini bukan soal mengikuti tren; ini soal bertahan dalam ekosistem yang berubah.

Konsekuensinya bagi kreator langsung terasa: video podcast kini tumbuh 35% lebih cepat dari podcast audio-only, dan lebih dari separuh show podcast (50,6%) kini memposting konten video penuh di YouTube — naik 130% dari level 2022 (PodRewind, Januari 2026).

Tapi Audio Belum Mati — Justru Ini Kekuatannya

Di tengah tsunami video, ada data yang sering luput dari perhatian: 92% orang masih mendeskripsikan diri mereka sebagai "pendengar" podcast — bukan penonton (The Podcast Host, Januari 2026). Dan di antara mereka yang menonton di YouTube, lebih dari separuh juga mendengarkan show yang sama di platform lain.

Ini mengungkap sesuatu yang penting: video dan audio bukan musuh — keduanya melayani momen yang berbeda.

Audio unggul di situasi multitasking: nyetir, olah raga, masak, kerja. Kita tidak bisa menonton layar sambil lari pagi, tapi kita bisa memasang earphone. Riset Podcast Landscape Study 2025 oleh Sounds Profitable menemukan bahwa hampir separuh pendengar YouTube yang menonton video podcast juga mengonsumsinya dalam format audio di platform lain — dan 8% yang hanya menonton (tanpa pernah mendengarkan) angkanya tidak berubah sejak 2022 (The Podcast Host, 2026).

Artinya: video membuka pintu audiens baru, tapi audio adalah fondasi yang menjaga loyalitas. Orang menemukan podcast lewat klip YouTube, lalu mendengarkan episode penuhnya di Spotify ketika mereka commuting.

Secara global, angka keseluruahn juga masih berpihak pada pertumbuhan: 619 juta orang diproyeksikan mendengarkan podcast di seluruh dunia pada 2026, dengan pasar global diestimasi bernilai $39,63 miliar (Grand View Research via RSS.com, 2025). Audio tetap jadi mesin penggerak industri ini.

Implikasi Nyata: Apa yang Harus Dilakukan Kreator?

Perdebatan video vs audio sebenarnya adalah false dilemma. Pertanyaan yang lebih tepat untuk seorang kreator adalah: "Di mana audiens saya, dan bagaimana saya menjangkau mereka paling efektif?"

Berikut kerangka berpikir yang lebih praktis:

1. Mulai dengan konten, bukan format. Jika obrolan Anda paling kuat lewat suara — emosi, tempo, diksi — audio-first mungkin tetap jadi fondasi yang tepat. Video bisa ditambahkan sebagai lapisan visibilitas, bukan pengganti.

2. Gunakan video untuk discovery, audio untuk loyalitas. Klip pendek dari video podcast (30-90 detik) di TikTok atau Instagram Reels terbukti menjadi driver terbesar akuisisi pendengar baru — diklaim bertanggung jawab atas hingga 60% akuisisi pendengar baru (Marketing LTB, 2026). Tapi pendengar yang loyal biasanya balik lewat feed audio.

3. Video bukan berarti studio mahal. Dua dari tiga penonton video podcast Indonesia menonton hingga akhir — bukan karena produksinya sinematik, tapi karena kontennya engaging (Ingatlah.com, September 2025). Kamera laptop dan pencahayaan natural sudah cukup untuk memulai.

4. Konsistensi mengalahkan format. Data global menunjukkan bahwa podcast yang posting secara konsisten tumbuh tiga kali lebih cepat dari yang tidak teratur — regardless formatnya. Rata-rata podcast berhenti setelah 21 episode; yang bertahan itulah yang kemudian punya pilihan soal format (RSS.com, 2025).

Siapa yang Menang? Pertanyaan yang Salah

Kembali ke pertanyaan awal: siapa yang menang, video atau audio?

Jawabannya: keduanya menang, tapi di arena berbeda. Video menang di discovery, di engagement visual, di monetisasi melalui iklan yang lebih terverifikasi, dan di loyalitas platform seperti YouTube yang algoritmanya kini sepenuhnya berpihak pada format ini.

Audio menang di kesetiaan, di multitasking, di keintiman — momen-momen ketika pendengar benar-benar hadir dengan sebuah suara tanpa distraksi visual. Iklan belanja podcast di Indonesia naik 28% pada semester pertama 2025 (SWA.co.id, September 2025) — dan itu angka industri yang meliputi keuda format.

Yang benar-benar kalah di 2026 adalah kreator yang masih memandang dua format ini sebagai pilihan biner. Dunia konsumsi konten sudah bergerak — dan seperti yang terjadi di Indonesia, bergerak sangat cepat.

Teman yang punya podcast audio itu akhirnya beralih ke video. Pendengar yang dulu protes? Tiga bulan kemudian, separuh dari mereka malah meninggalkan komentar di kolom YouTube-nya.

Kuncinya bukan medianya. Kuncinya adalah: apakah kamu masih berbicara ke orang yang tepat, dengan cara yang tepat?


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Budaya & Hiburan: