Ketika Chris Martin dari Coldplay sedang terpuruk setelah perceraiannya, seorang teman memberikan sebuah buku. Bukan buku self-help modern, bukan panduan meditasi dari aplikasi berbayar. Itu adalah kumpulan puisi Jalaluddin Rumi — penyair sufi Muslim yang wafat 751 tahun lalu. "Itu benar-benar mengubah hidup saya," kata Martin dalam sebuah wawancara, sebagaimana dikutip oleh The New Yorker (Rozina Ali, 2017).
Kisah Chris Martin bukan anomali. Karya-karya Rumi telah terjual jutaan kopi selama beberapa tahun berturut-turut, menjadikannya penyair paling laris di Amerika Serikat. Ini bukan angka kecil — penyair paling banyak dibaca di Amerika Serikat bukan Walt Whitman, Emily Dickinson, atau Allen Ginsberg. Itu adalah Rumi, seorang Muslim Sunni yang lahir lebih dari 810 tahun lalu.
Yang membuat ini menarik bukan sekadar popularitasnya. Yang menarik adalah mengapa — di tengah notifikasi tanpa henti, kecerdasan buatan yang makin canggih, dan scrolling tak berujung — jutaan orang modern justru kembali kepada seorang darwis abad ke-13 untuk mencari ketenangan.
Siapa Sebenarnya Rumi yang Kita Baca Hari Ini?
Sebelum berbicara tentang relevansinya, ada distorsi besar yang perlu diluruskan.
Rumi sering digambarkan sebagai seorang mistikus, seorang suci, seorang sufi, seorang manusia tercerahkan. Namun, meski ia adalah sarjana Al-Qur'an dan Islam sepanjang hayatnya, ia jarang sekali disebut sebagai seorang Muslim.
Ini bukan kecelakaan. Proses penghapusan Islam dari puisi Rumi dimulai jauh sebelum keterlibatan selebriti Barat. Omid Safi, profesor studi Timur Tengah dan Islam di Universitas Duke, mengatakan bahwa pada era Victoria, para pembaca di Barat mulai memisahkan puisi mistis dari akar Islamnya. Para penerjemah dan teolog saat itu tidak dapat merekonsiliasi pandangan mereka tentang "agama gurun" dengan karya penyair seperti Rumi dan Hafez. Kesimpulan yang mereka ambil adalah bahwa tokoh-tokoh ini bersifat mistis bukan karena Islam, melainkan meski ada Islam.
Padahal kenyataannya, Rumi bukan hanya seorang penyair. Ia adalah seorang sarjana Islam terkemuka, seorang ahli hukum dan teolog pada zamannya. Ia pernah berkata: "Selama aku hidup, aku adalah budak Al-Qur'an. Aku adalah debu di jalan Muhammad."
Yang kurang dikenal adalah bahwa Rumi justru sangat kritis terhadap praktik-praktik heterodoks di antara beberapa tarekat sufi pada masanya, dan mengadvokasi kepatuhan terhadap ortodoksi dalam akidah dan praktik ibadah. Ketahanan dan legitimasi warisannya yang bertahan lama di kalangan umatnya justru bersumber dari kepatuhan ini, bukan meski adanya kepatuhan itu.
Memahami Rumi tanpa konteks Islamnya ibarat membaca Darwin tanpa memahami konteks biologi — kita mendapat keindahan suatu frase, tapi kehilangan arsitektur besar di baliknya.
Dari Balkh ke TikTok: Perjalanan Puisi yang Melampaui Zaman
Momen transformatif dalam hidup Rumi datang pada tahun 1244, ketika ia bertemu seorang darwis pengembara bernama Syams-i Tabrizi. Rumi saat itu berusia 37 tahun, seorang penceramah dan ulama Muslim tradisional — seperti ayah dan kakeknya. Mereka menjalin persahabatan yang intens selama tiga tahun. Rumi menjadi seorang mistikus. Lalu setelah tiga tahun, Syams menghilang.
Dari situ lahirlah ledakan kreatif yang tidak tertandingi. Rumi menghasilkan karya yang luar biasa — sebanyak 2.500 ode mistis, 25.000 bait sajak berirama, dan 1.600 kuatrain. Puncaknya adalah Masnavi, sebuah epik enam jilid yang oleh banyak cendekiawan disebut sebagai "Al-Qur'an dalam bahasa Persia" — sebuah sebutan yang justru mempertegas akar Islamnya.
Pengaruh tulisannya di anak benua India juga sangat besar. Pada akhir abad ke-20, popularitasnya menjadi fenomena global, dengan puisinya mencapai sirkulasi luas di Eropa Barat dan Amerika Serikat.
Bahkan Madonna, John Bon Jovi, Goldie Hawn, hingga Demi Moore pernah membacakan puisi Rumi di konser-konser mereka. Ini berkontribusi pada peningkatan kesadaran tentang Rumi di semua lapisan masyarakat dan memperkuat pengaruhnya dalam budaya Barat.
Tapi ada perbedaan antara Rumi sebagai tren pop culture dan Rumi sebagai cermin jiwa yang sesungguhnya. Generasi yang kini memeluk puisinya bukan sekadar mengikuti tren — ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang dicari.
Apa yang Dicari Generasi Anxious dari Seorang Sufi?
Di sinilah analisis menjadi menarik. Menurut Phyllis Tickle, kontributor agama di Publisher's Weekly, kebangkitan Rumi didorong oleh "rasa lapar spiritual yang luar biasa besar yang bertemu dengan anti-klerikisme alami yang meledak". Dan itu adalah puisi yang indah.
Generasi milenial dan Gen Z hidup dalam paradoks: lebih terhubung dari sebelumnya secara teknologi, namun lebih kesepian dari sebelumnya secara emosional. Survei Deloitte Global Millennial Survey 2023 menemukan bahwa lebih dari 50% milenial dan Gen Z mengalami kecemasan, dan hampir separuhnya merasa tertekan secara reguler.
Rumi bicara langsung ke kondisi ini. Bukan dengan jawaban mudah, tapi dengan memvalidasi luka sebagai bagian dari jalan menuju keutuhan. Konsep ney (seruling bambu) di pembukaan Masnavi adalah metafora yang sempurna untuk manusia modern: seruling yang meratap karena terpisah dari rumpunnya — dan kita semua merasakan keterpisahan itu, meski tidak selalu tahu dari apa.
Dalam buku The Rumi Prescription (2020), penulis Melody Moezzi menceritakan perjalanan pribadinya melawan gangguan bipolar, dan bagaimana ayahnya — terinspirasi ajaran Rumi — "meresepkan" sebuah perjalanan ke dalam diri untuk menemukan penyembuhan. Buku ini mengeksplorasi persimpangan antara kesehatan mental, spiritualitas, dan penemuan diri. Ini bukan new-age. Ini adalah terapi berbasis tradisi intelektual Islam yang sudah berumur delapan abad.
Ajaran Rumi tentang fana (peniadaan ego) secara mengejutkan selaras dengan temuan psikologi modern. Penelitian dari Universitas Yale yang dipublikasikan dalam Journal of Positive Psychology menemukan bahwa praktik mengurangi ruminasi diri — salah satu inti dari latihan sufi — secara signifikan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Rumi tidak menyebutnya "mindfulness", tapi konsepnya sama: berhenti berkubang dalam ego, dan mulai bergerak.
Membaca Rumi dengan Jujur: Antara Apresiasi dan Apropriasi
Ada pertanyaan yang tidak nyaman dan perlu dijawab: apakah kita membaca Rumi atau kita membaca versi Rumi yang sudah dikurangi?
Ini relevan bagi siapapun — termasuk pembaca Muslim yang mungkin menerima Rumi dari terjemahan Barat tanpa sadar menelan pula bias-bias yang tersisip di dalamnya.
Beberapa pembaca Rumi mungkin merasa tidak nyaman atau bertentangan dengan narasi yang mereka kenal ketika mengetahui bahwa Rumi sangat ketat dalam hal ortodoksi. Sang sufi dikenal karena seruan-seruannya yang menginspirasi tentang cinta dan kerinduan kepada Sang Kekasih. Yang kurang dikenal adalah bahwa ia sangat kritis terhadap praktik-praktik heterodoks di antara beberapa tarekat sufi pada masanya.
Meski demikian, Rumi memiliki kemampuan untuk tetap berakar dalam imannya, sekaligus menghargai dan mengekspresikan nilai-nilai ketuhanan yang dijunjung tinggi oleh orang-orang dari berbagai latar belakang. Pesan dalam puisinya begitu universal sehingga orang dari agama lain pun bisa merasakan resonansinya.
Ini poin penting: universalitas Rumi bukan terjadi meski dia Muslim yang taat, tapi justru karena kedalaman imannya. Pohon yang berakar dalam menghasilkan buah yang bisa dinikmati siapa saja — itulah logika spiritualitasnya.
Bagi pembaca Muslim Indonesia, ini adalah undangan untuk kembali membaca Rumi dengan konteks utuhnya. Bukan sekadar kutipan motivasi di Instagram, tapi Rumi sebagai penerus tradisi keilmuan Islam yang kaya — dari Al-Ghazali, Ibnu Arabi, hingga Attar yang ia sebut sebagai gurunya.
Mengambil Manfaat dari Rumi Tanpa Kehilangan Konteks
Lalu bagaimana kita — generasi yang terbiasa dengan konten 15 detik — bisa membaca penyair yang menulis ribuan bait tanpa merasa kewalahan?
Pertama, mulai dari Masnavi Jilid 1, bukan dari kutipan viral. Terjemahan Reynold Nicholson (akademis) atau Jawid Mojaddedi (lebih aksesbile) tersedia secara online. Bahkan 18 bait pertama tentang seruling bambu saja sudah cukup untuk sesi refleksi yang mendalam.
Kedua, baca dengan pertanyaan, bukan dengan harapan jawaban instan. Rumi tidak menulis untuk memberikan solusi 5 langkah. Ia menulis untuk membuka ruang pertanyaan. Tanya: Apa yang sedang saya kejar sebenarnya? Apa yang saya hindari?
Ketiga, tempatkan bacaan dalam konteks ibadah. Bagi pembaca Muslim, puisi Rumi paling bermakna ketika dibaca sebagai tambahan wacana keagamaan, bukan pengganti. Shalat, dzikir, dan muhasabah adalah konteks di mana kalimat-kalimatnya menjadi hidup sepenuhnya.
Keempat, pilih terjemahan yang jujur. Bandingkan setidaknya dua terjemahan untuk puisi yang sama — satu yang lebih literal (seperti Nicholson) dan satu yang lebih puitis. Perbedaan di antara keduanya sering kali mengungkapkan lebih banyak dari terjemahan itu sendiri.
Rumi Bukan Pelarian, Tapi Cermin
Ada godaan besar untuk menjadikan Rumi sebagai eskapisme — sesuatu yang membuat kita merasa spiritual tanpa perlu berubah. Tapi itu justru bertentangan dengan inti ajarannya.
Rumi bukan menulis puisi supaya kita merasa nyaman. Ia menulis supaya kita tidak nyaman dengan kenyamanan palsu kita. Konsep safar (perjalanan batin) dalam tradisi sufi bukan liburan — itu proses yang melelahkan dan sering kali menyakitkan.
Ketika ditanya mengapa puisi Rumi yang ditulis hampir delapan abad lalu masih relevan, penyair Jerman Hans Meinck pernah berkata: "Kita semua hidup di masa yang gelap, dan dalam kegelapan ini, puisi Rumi adalah satu-satunya cahaya harapan."
Cahaya itu tetap menyala bukan karena Rumi menulis tentang hal-hal yang mudah. Tapi karena ia menulis tentang hal-hal yang paling sulit dihadapi manusia — ego, kehilangan, kerinduan, dan transformasi — dengan kejujuran yang tidak berubah meski waktu terus berjalan.
Di era di mana kita berlomba mengoptimalkan produktivitas dan meminimalisir ketidaknyamanan, Rumi hadir sebagai counter-narrative: bahwa luka adalah pintu, bahwa kehilangan adalah guru, dan bahwa jiwa yang mencari adalah jiwa yang hidup.
Pertanyaannya bukan apakah kita perlu Rumi. Pertanyaannya adalah: Rumi yang mana yang akan kita pilih — yang versi Instagram, atau yang versi Masnavi?
Referensi & Sumber:
- Rozina Ali, "The Erasure of Islam from the Poetry of Rumi", The New Yorker, 5 Januari 2017. https://www.newyorker.com/culture/cultural-comment/the-erasure-of-islam-from-the-poetry-of-rumi
- Omid Safi, Profesor Studi Islam, Duke University — dikutip dalam artikel The New Yorker di atas.
- "Rumi Best-Selling Poet in US", Financial Tribune. https://financialtribune.com/articles/art-and-culture/30372/rumi-best-selling-poet-in-us
- "Exploring the Life of Rumi, America's Most-Read Poet", Maclean's Magazine, 2017. https://macleans.ca/culture/exploring-the-life-of-rumi-americas-most-read-poet/
- Melody Moezzi, The Rumi Prescription, TarcherPerigee, 2020.
- "Rumi", Encyclopædia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Rumi
- Leo Islamicus, "Sufism and the Sanitizing of Mevlana Rumi", Medium, 2017. https://medium.com/@leo.islamicus/sufism-and-the-sanitizing-of-mevlana-rumi-b6ca1175c0f1
- Deloitte Global Millennial & Gen Z Survey 2023. https://www.deloitte.com/global/en/issues/work/gen-z-millennial-survey.html