Sebuah novel Indonesia bisa ditulis selama tiga tahun, diterbitkan dengan susah payah, lalu terjebak di pasar domestik selamanya — bukan karena kualitasnya buruk, tapi karena tidak ada yang menerjemahkannya.
Pramoedya Ananta Toer, nama yang disebut-sebut layak Nobel, butuh waktu berdekade agar karyanya bisa dibaca dalam 30 bahasa. Itu bukan soal relevansi — Bumi Manusia sudah jelas berbicara kepada manusia di mana pun. Masalahnya selalu soal infrastruktur: penerjemah yang langka, penerbit asing yang tak tahu Indonesia ada di peta sastra dunia, dan biaya alih bahasa yang tidak murah.
Kini, mesin AI bisa menerjemahkan sebuah novel setebal 400 halaman dalam waktu kurang dari satu jam. Dan inilah titik di mana perdebatan paling menarik dalam dunia sastra Indonesia modern dimulai — bukan soal apakah AI bisa menerjemahkan, tapi soal apa yang hilang dalam prosesnya.
Momentum yang Terlambat Datang, tapi Akhirnya Tiba
Juni 2025 menjadi bulan yang cukup bersejarah untuk ekosistem sastra Indonesia. Kementerian Kebudayaan di bawah Menteri Fadli Zon secara resmi membuka Laboratorium Penerjemah Sastra — program pelatihan intensif untuk generasi penerjemah muda Indonesia yang akan membawa karya lokal ke pasar global. (Sumber: VOI.id, Juni 2025)
Dalam pernyataannya, Fadli Zon menyebut bahwa buku dan sastra adalah alat diplomasi budaya yang selama ini "belum dimanfaatkan secara optimal." Sebuah pengakuan yang jujur, sekaligus menyedihkan. Indonesia punya lebih dari 700 bahasa daerah, ribuan penulis berbakat, dan sejarah sastra yang kaya — tapi selama ini semuanya berjalan secara ad hoc, tanpa sistem yang serius.
Yang menarik, program ini masuk bersamaan dengan gelombang besar AI translation. Analis di The New Publishing Standard menyebut bahwa tantangan skala yang dihadapi Indonesia — 700-an bahasa! — justru menjadikan AI sebagai mitra yang tidak bisa diabaikan. (Sumber: The New Publishing Standard, Juni 2025) Untuk menghasilkan draf pertama, memeriksa konsistensi terminologi, bahkan memprioritaskan manuskrip mana yang paling layak diterjemahkan dari arsip — AI bisa menjadi akselerator yang sangat dibutuhkan.
Ini bukan lagi wacana. Ini sedang terjadi.
Ketika AI Tidak Tahu Apa Itu "Lebay"
Tapi ada satu hal yang tidak bisa diselesaikan oleh kecepatan.
Sebuah riset yang dipublikasikan di Cogent Arts & Humanities (Mei 2025) oleh Silvia Rosa dkk. menemukan bahwa integrasi AI dalam sastra Indonesia memang meningkatkan variasi narasi dan distribusi karya, tapi juga "menghadirkan tantangan baru dalam mempertahankan identitas sastra Indonesia." (Sumber: Tandfonline, Mei 2025)
Identitas itu tersimpan di dalam bahasa yang sulit diterjemahkan.
Linguist Anna Wierzbicka menyebutnya sebagai key words — istilah-istilah yang sarat budaya dan menolak substitusi langsung. (Sumber: Language Technology Substack, Juni 2025) Bahasa Indonesia punya banyak sekali. "Jayus" — sesuatu yang lucu justru karena tidak lucu. "Ngelantur" — pikiran yang mengembara tanpa arah. "Baper" — tercampur antara senang dan sedih dan terlalu serius, semua sekaligus. "Susah senang" yang bukan sekadar "joy and sorrow".
Dan kalau kita bicara karya sastra, persoalannya jauh lebih dalam dari kosakata. Dalam novel Dee Lestari, misalnya, ada lapisan spiritualitas, sains, dan bahasa sehari-hari Jakarta yang terjalin begitu rapat. Dee sendiri pernah mengakui bahwa penerjemahan adalah proses yang menantang karena "kualitas terjemahan sangat mempengaruhi keberhasilan karya di pasar internasional." (Sumber: Semilir.co) Ketika AI mengambil alih, siapa yang bertanggung jawab menjaga lapisan-lapisan itu?
Riset di Jurnal Penerjemahan (Vol. 12, 2025) yang mensurvei agen dan penerjemah Indonesia menemukan fenomena yang disebut paradoks: volume proyek terjemahan meningkat berkat AI, tapi tarif per kata turun drastis — beberapa responden menyebut penurunan hingga 50-70% dari rate normal. Sementara yang paling kena dampak adalah penerjemah teks sastra dan kreatif, yang pekerjaannya justru paling membutuhkan kedalaman kultural. (Sumber: Jurnal Penerjemahan, Vol. 12 No. 2, 2025)
Ini adalah ironi yang menyakitkan: AI membuka pintu lebih lebar, tapi sekaligus menghancurkan profesi penjaga kuncinya.
Model Korea dan Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Ada preseden yang bagus untuk dipelajari. Korea Selatan membangun Literature Translation Institute of Korea (LTI Korea) jauh sebelum AI menjadi relevan — dengan satu tujuan sederhana: memastikan sastra Korea tidak hanya dibaca di Korea. Hasilnya kita lihat sendiri: Han Kang menang Nobel 2024 sebagian besar karena karyanya sudah tersedia dalam terjemahan berkualitas tinggi di puluhan bahasa selama bertahun-tahun.
Optika.id mencatat dalam sebuah refleksi akademis (April 2026) bahwa keberhasilan Korea bukan sekadar soal kualitas karya, tapi soal sistem yang mendukungnya — termasuk penerjemahan berkualitas yang dikerjakan secara konsisten dan terlembaga. (Sumber: Optika.id, April 2026)
Indonesia baru memulai sistem itu di 2025. Kita sudah tertinggal, tapi belum terlambat.
Yang membedakan Indonesia dari Korea dalam konteks AI adalah skala tantangan. Korea punya satu bahasa nasional dominan. Indonesia punya ratusan. Ini justru di mana AI bisa menjadi pengungkit yang luar biasa — untuk mendigitalisasi dan membuat accessible khazanah sastra daerah yang selama ini tersimpan di lemari-lemari tua, tak terjangkau siapapun di luar komunitas penuturnya.
Bayangkan puisi-puisi Makassar, prosa Minangkabau, atau naskah-naskah Jawa Kuno yang bisa diformulasikan ulang untuk pembaca internasional dengan bantuan AI sebagai alat draft awal, lalu disempurnakan oleh tangan manusia yang tahu konteksnya. Bukan penggantian — tapi kolaborasi.
Yang Tidak Boleh Kita Relakan
Tapi ada satu hal yang harus diucapkan dengan keras: ada sesuatu dalam sastra yang tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada mesin.
Riset di Frontiers in Computer Science (2024) membuat perbedaan penting antara dua pendekatan terjemahan sastra: pendekatan literalist yang setia pada teks asli, dan pendekatan naturalizing yang menulis ulang seolah pengarang menulis dalam bahasa target. (Sumber: Frontiers, 2024) AI saat ini paling nyaman di ruang tengah — tapi justru di sinilah kualitas sastra sering hilang. Keputusan apakah sebuah metafora perlu dipertahankan atau ditransformasi, apakah ritme kalimat Chairil Anwar yang pendek-pendek itu perlu dijaga atau disesuaikan — itu bukan kalkulasi statistik. Itu keputusan artistik.
Emily Apter, dalam bukunya Against World Literature, berargumen bahwa "gesekan dari yang tidak bisa diterjemahkan" adalah justru yang membuat sastra menarik. Ketika AI meratakan gesekan itu — mengganti yang asing dengan yang familiar, yang khas dengan yang universal — kita mungkin mendapat teks yang lebih mudah dibaca, tapi kehilangan kedalaman yang membuat teks itu berharga sejak awal. (Sumber: Language Technology Substack, Juni 2025)
Dan lebih jauh lagi: siapa yang memiliki hasil terjemahan AI dari sebuah karya sastra? Ini pertanyaan hukum yang belum terjawab di banyak negara. Di China, misalnya, regulasi hak cipta belum diperbarui untuk menjawab apakah terjemahan AI memenuhi syarat sebagai "karya original." (Sumber: Journal of Literature and Art Studies, November 2025) Indonesia belum jauh berbeda dalam hal kejelasan regulasi ini.
Jalan ke Depan: AI sebagai Mitra, Manusia sebagai Penjaga Makna
Perdebatan "AI vs. penerjemah manusia" adalah perdebatan yang salah. Pertanyaan yang benar adalah: bagaimana kita merancang sistem di mana AI mengerjakan yang bisa dikerjakan AI, dan manusia fokus pada yang hanya bisa dikerjakan manusia?
Tiga hal yang perlu dibangun sekarang:
- Kurikulum terjemahan sastra yang memasukkan kompetensi AI — penerjemah muda perlu tahu cara bekerja bersama mesin, bukan takut padanya. Program Laboratorium Penerjemah Sastra Kementerian Kebudayaan 2025 adalah langkah yang tepat, tapi perlu diperluas dan diteruskan secara konsisten.
- Standar editorial untuk terjemahan AI — ada perbedaan besar antara AI yang menghasilkan draf untuk direvisi manusia, dan AI yang langsung diterbitkan tanpa pengawasan. Penerbit dan institusi kebudayaan perlu menegaskan mana yang acceptable.
- Perlindungan hukum yang jelas — hak cipta atas karya terjemahan berbasis AI perlu diatur agar penulis asli tidak dirugikan, dan agar penerjemah manusia yang melakukan post-editing mendapat pengakuan dan kompensasi yang layak.
Sastra Indonesia punya bahan baku yang luar biasa. Novel-novel Eka Kurniawan yang memasukkan realisme magis khas Nusantara. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang menangkap kerinduan manusia dengan cara yang sangat Jawa sekaligus sangat universal. Cerita-cerita pendek Seno Gumira Ajidarma yang menulis di bawah sensor Orde Baru dengn cara sedemikian lihai sampai kalimatnya terasa seperti bunga tapi berbau mesiu.
Semua itu perlu sampai ke pembaca di Buenos Aires, Kairo, dan Seoul. AI bisa mempercepat perjalanannya. Tapi pastikan apa yang tiba di sana masih membawa ruhnya.
Ingat: Menerjemahkan bukan sekadar memindahkan kata. Ini memindahkan dunia.
Referensi & Resources:
- Silvia Rosa dkk., Uncovering the literary landscape: Exploring the impact of artificial intelligence on Indonesian literature, Cogent Arts & Humanities, Vol. 12, 2025. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23311983.2025.2507509
- Navigating Disruption: A Survey of the Impact of Artificial Intelligence on the Indonesian Translation Industry, Jurnal Penerjemahan Vol. 12 No. 2, 2025. https://jurnalpenerjemahan.setneg.go.id/ojp/article/view/166
- Mark Williams, Indonesia's Literary Translation Initiative Needs AI To Truly Boost Potential, The New Publishing Standard, Juni 2025. https://thenewpublishingstandard.com/2025/06/14/indonesias-literary-translation-initiative-needs-ai-to-truly-boost-potential/
- Ministry of Culture Prepares Translator and Sastra Agent for Internationalization of Indonesian Literature, VOI.id, Juni 2025. https://voi.id/en/lifestyle/488260
- How machine translation flattens cultural nuance, Language Technology Substack, Juni 2025. https://languagetechnology.substack.com/p/how-machine-translation-flattens
- In search of a translator: using AI to evaluate what's lost in translation, Frontiers in Computer Science, 2024. https://www.frontiersin.org/journals/computer-science/articles/10.3389/fcomp.2024.1444021/full
- Apakah Sastra Indonesia Bisa Mendunia?, Optika.id, April 2026. https://optika.id/2026/04/28/apakah-sastra-indonesia-bisa-mendunia-refleksi-mahasiswa-dalam-perspektif-apresiasi-sastra/