Susah Bilang Tidak? Ini Bukan Soal Sopan Santun

48% orang dewasa mengaku diri sendiri people-pleaser — tapi penyebabnya jauh lebih dalam dari sekadar tidak enakan.

#kesehatanmental #peoplepleaser #selfworth #boundaries

Kreator Moco
7 menit baca

Atasan kamu minta laporan tambahan di hari Jumat sore. Kamu tahu kamu sudah kelelahan. Kamu tahu itu bukan tugasmu. Tapi yang keluar dari mulutmu adalah: "Oke, siap."

Lalu malamnya kamu berbaring di tempat tidur, memikirkan kenapa kamu tidak bisa bilang tidak. Lagi. Untuk kesekian kalinya.

Kalau kamu pernah di posisi itu, kamu tidak sendirian. Survei YouGov pada 2024 menemukan bahwa hampir 48% orang dewasa mengidentifikasi diri mereka sebagai people-pleaser — orang yang cenderung mengiyakan permintaan orang lain meski bertentangan dengan kebutuhan diri sendiri (YouGov, 2024). Yang lebih mengejutkan: 92% responden mengaku melakukan setidaknya satu perilaku people-pleasing secara rutin.

Tapi ini bukan soal kamu terlalu baik atau terlalu sopan. Ini soal sesuatu yang jauh lebih dalam — dan memahaminya bisa mengubah cara kamu melihat dirimu sendiri.

Kenapa "Tidak Enakan" Itu Bukan Kelemahan Karakter

Ada asumsi yang sudah terlanjur melekat: orang yang susah menolak itu lemah, tidak tegas, atau tidak punya pendirian. Asumsi ini tidak hanya salah, tapi juga tidak adil.

Psikolog dan terapis Pete Walker, dalam bukunya Complex PTSD: From Surviving to Thriving (2013), memperkenalkan konsep yang kini dikenal luas di dunia psikologi trauma: fawn response. Ini adalah respons keempat terhadap ancaman — selain fight, flight, dan freeze. Ketika fight terlalu berbahaya, flight tidak mungkin dilakukan, dan freeze tidak cukup, otak belajar satu strategi lain: berdamai dengan ancaman lewat kepatuhan.

Individu yang merespons dengan fawning cenderung mencari keamanan dengan melebur ke dalam keinginan, kebutuhan, dan tuntutan orang lain. Mereka bukan tidak punya pendirian. Mereka hanya pernah belajar — biasanya sejak kecil — bahwa mengatakan "ya" lebih aman daripada mengatakan "tidak."

Fawn response adalah mekanisme survival yang digerakkan secara neurologis, mengaktifkan bagian otak yang menghitung bahwa "menyenangkan orang lain" adalah jalan paling aman dari ancaman — bukan tanda kelemahan, melainkan strategi bertahan hidup yang diprogram oleh sistem saraf otonom.

Lima Akar Masalah yang Jarang Disadari

Beautynesia dalam artikel terbarunya menguraikan lima alasan psikologis di balik kebiasaan sulit menolak (Beautynesia, Mei 2026). Kelima alasan ini bukan daftar acak — mereka saling terhubung dalam satu narasi yang lebih besar tentang bagaimana luka emosional membentuk perilaku sosial kita.

Pertama: Terlalu ingin menyenangkan orang lain. People-pleasing bukan sekadar sifat ramah. Ini adalah kondisi di mana kebutuhan orang lain secara konsisten diprioritaskan di atas kebutuhan diri sendiri — bukan karena kamu mau, tapi karena kamu merasa harus. Dalam survei YouGov 2022, 49% orang dewasa mengidentifikasi dirinya sebagai people-pleaser, dan di era yang semakin terhubung secara digital, obsesi terhadap validasi dan penerimaan sosial terus tumbuh.

Kedua: Tidak enak dengan figur otoritas. Ada yang merasanya saat menghadapi atasan. Ada yang saat berhadapan dengan orang tua, guru, atau siapapun yang membawa "status". Perasaan canggung ini sering bukan lahir hari ini — ia berakar dari pengalaman masa kecil ketika menentang figur otoritas berarti dimarahi, dikucilkan, atau diabaikan. Respons itu kemudian terkondisi dan muncul kembali di masa dewasa, bahkan dalam situasi yang sebenarnya jauh lebih aman.

Ketiga: Takut dianggap tidak mampu. Paradoks yang menarik: justru ketika seseorang sudah kelelahan, mereka malah semakin sulit menolak tugas tambahan. Penelitian menunjukkan bahwa trauma masa kecil yang belum terselesaikan dapat menyebabkan kesulitan regulasi emosi, konsep diri yang rapuh, dan gangguan fungsi interpersonal di masa dewasa — termasuk keharusan membuktikan diri lewat iya yang terus-menerus.

Keempat: Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi di masa kecil. Penelitian 2019 menunjukkan bahwa mereka dengan ketergantungan emosional cenderung takut dan menghindari kesendirian, terlibat dalam perilaku menyenangkan orang lain, dan mencari eksklusivitas dalam hubungan — pola yang bermula dari kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi sejak awal. Saat lingkungan keluarga tidak memberikan rasa aman yang cukup, "menyenangkan orang lain" menjadi cara bertahan — dan kebiasaan itu tidak otomatis hilang ketika kamu dewasa.

Kelima: Tidak punya batasan diri yang jelas. Boundaries bukan tentang jadi orang yang dingin atau egois. Ini tentang mengetahui di mana kamu berakhir dan orang lain dimulai. Tanpa itu, permintaan orang lain akan terus mengalir masuk tanpa filter — dan kamu akan terus kelelahan tanpa pernah benar-benar tahu kenapa.

Data yang Membuat Kita Perlu Berhenti Sejenak

Sebuah studi tahun 2010 menemukan bahwa 54% perempuan mengalami dampak negatif terhadap kesehatan mental dan fisik akibat perilaku people-pleasing, dibandingkan 40% pada laki-laki. Ini bukan angka kecil. Ini setara dengan lebih dari separuh perempuan di sekitar kita.

Dalam survei YouGov, dua pertiga warga Amerika — termasuk 70% perempuan dan 63% laki-laki — mengaku sering bersusah payah menghindari konflik. Angka yang hampir sebanding (64%) mengaku sering mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri.

Yang paling mengkhawatirkan: mayoritas dari mereka tidak mengenalinya sebagai masalah. Mereka menyebutnya "sifat", bukan pola yang bisa diubah.

Orang yang habituellement melakukan fawning berpotensi terjebak dalam hubungan yang toksik atau satu arah, mengalami burnout profesional, bahkan masalah kesehatan fisik akibat stres kronis — serta dalam jangka panjang, kehilangan identitas diri.

Dari Mengenali ke Mengubah: Langkah yang Bisa Dimulai Hari Ini

Memahami bahwa "susah bilang tidak" punya akar psikologis yang dalam adalah titik awal yang penting. Tapi pemahaman saja tidak cukup. Ini tiga langkah konkret yang bisa dimulai:

1. Beri jeda sebelum menjawab. Saat ada permintaan masuk, latih kebiasaan untuk tidak langsung menjawab. Katakan: "Boleh aku konfirmasi dulu nanti ya?" Ini memberi ruang untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku benar-benar mau melakukan ini, atau aku hanya takut?

2. Identifikasi pattern-mu. Ketika kamu menyadari pola fawning mulai muncul, tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku melakukan atau mengatakan ini untuk menyenangkan orang lain? Apakah ini mengorbankan diriku sendiri? Kesadaran adalah langkah awal untuk mengubah respons otomatis menjadi pilihan yang sadar.

3. Latih penolakan yang kecil terlebih dahulu. Kamu tidak harus langsung menolak atasan atau orang tua. Mulai dari hal-hal kecil dan berisiko rendah: menolak ajakan makan siang yang tidak kamu inginkan, atau meminta perpanjangan waktu untuk tugas yang tidak mendesak. Otot "tidak" perlu dilatih secara bertahap.

Kalau polanya sudah sangat dalam dan mengganggu kehidupan sehari-hari — hubungan, pekerjaan, kesehatan — mempertimbangkan bantuan profesional seperti terapis atau psikolog bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya.

Bilang "Tidak" Adalah Bentuk Menghormati Diri Sendiri

Ada satu hal yang sering terlewat dalam diskusi tentang people-pleasing: bahwa menolak permintaan yang tidak bisa kamu penuhi — dengan jujur dan baik-baik — sebenarnya jauh lebih menghormati orang lain daripada mengatakan "iya" lalu mengerjakan setengah hati, atau iya lalu memendam kemarahan diam-diam.

"Tidak" yang jujur lebih sehat dari "iya" yang dusta.

Kamu tidak harus selalu tersedia untuk semua orang. Kamu tidak harus selalu menyenangkan semua pihak. Dan kamu tidak harus merasa bersalah karena punya kapasitas yang terbatas — karena itu justru manusiawi.

Membangun batasan bukan berarti kamu berhenti peduli pada orang lain. Artinya kamu juga mulai peduli pada dirimu sendiri. Dan itu bukan keegoisaan — itu adalah syarat minimal untuk bisa benar-benar hadir untuk orang yang kamu cintai.

Ingat: Kamu tidak bisa menuangkan air dari gelas yang kosong.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kesehatan: