Bayangkan kamu hidup di Jawa abad ke-15. Seorang guru datang, mengajarkan bahwa Tuhan tidak jauh di langit ketujuh — Tuhan ada di dalam dirimu sendiri. Bahwa apa yang kita sebut "hidup" di dunia ini sebenarnya adalah kematian, dan kematian sejati justru adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya.
Sebuah ajaran yang terdengar puitis. Tapi juga, bagi sebagian orang saat itu, sangat berbahaya.
Nama guru itu adalah Syekh Siti Jenar. Dan lebih dari 500 tahun setelah ia wafat, namanya masih memantik perdebatan — di pesantren, di kampus, bahkan di kolom komentar media sosial. Ia bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah cermin dari pertanyaan yang tidak pernah berhenti relevan: di mana batas antara pencarian spiritual yang sah dan yang dianggap menyimpang? Dan siapa yang berhak menetapkan batas itu?
Siapa Sebenarnya Syekh Siti Jenar?
Sebelum membahas kontroversinya, kita perlu jujur tentang satu hal: sejarah Syekh Siti Jenar penuh kabut. Tidak ada satu pun sumber primer yang benar-benar tunggal dan tak terbantahkan.
Menurut buku Biografi Lengkap Syekh Siti Jenar karya Sartono Hadisuwarno, Syekh Siti Jenar lahir di Cirebon sekitar tahun 829 H/1426 M dengan nama kecil Sayyid Hasan Ali al-Husain. Ayahnya, Syekh Datuk Shaleh, adalah seorang ulama asal Malaka. Jika ditelusuri, silsilahnya memiliki hubungan nasab dengan Nabi Muhammad SAW melalui jalur Fatimah dan Ali bin Abi Thalib (Hadisuwarno, 2018).
Nama "Siti Jenar" sendiri berasal dari bahasa Jawa: siti berarti tanah, jenar berarti kuning (ada juga yang menyebut merah). Ia dikenal dengan banyak julukan — Syekh Lemah Abang, Syekh Abdul Jalil, hingga Prabu Satmata. Banyaknya julukan ini bukan tanpa makna: ia adalah tokoh yang dilihat dari banyak sudut, oleh banyak kelompok, dengan kepentingan yang berbeda-beda.
Ia tumbuh di pesantren Giri Amparan Jati, dan diketahui telah hafal Al-Qur'an pada usia delapan tahun. Setelah dewasa, ia mendalami ilmu kemakrifatan (ilmu mengenal Allah melalui laku batin) — kemungkinan besar dipengaruhi tradisi tasawuf dari Baghdad dan jalur guru-murid yang terhubung dengan Syekh Ahmad di sana (Sujadi, 2018). Dari sinilah lahir pemikiran yang kemudian menjadi tanda tangannya.
Manunggaling Kawula Gusti: Menyatu dengan Tuhan, Bukan Mengaku Jadi Tuhan
Inti ajaran Syekh Siti Jenar sering diringkas dalam satu frasa Jawa: Manunggaling Kawula Gusti — bersatunya hamba (kawula) dengan Tuhan (Gusti).
Dan inilah yang paling sering disalahpahami.
Para pendukungnya menegaskan bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Seperti yang dicatat dalam kajian Konsep Ketuhanan Syekh Siti Jenar (dikutip dalam Jakartamu.com, 2025), pemahamannya lebih dekat pada interpretasi mistik internal — sebuah penghayatan batin tentang kedekatan dengan Tuhan yang sulit dijabarkan dalam dikotomi teologis formal.
Dalam tradisi tasawuf, konsep ini bukan barang baru. Pemikiran Syekh Siti Jenar tidak jauh dari doktrin Ibnu Arabi, yaitu paham Wahdat al-Wujūd — di mana terdapat relasi mendalam antara makhluk dan Penciptanya. Konsep serupa juga ada pada al-Hallaj (dengan konsep hulul-nya), Abu Yazid al-Busthami, dan Hamzah Fansuri di Nusantara.
Yang membedakan Syekh Siti Jenar bukan hanya ajarannya, tapi caranya menyampaikan. Menurut penelitian Strategi dan Ajaran Tokoh Syekh Siti Jenar dalam Menyebarkan Islam, ia menggunakan simbol budaya lokal — wayang, gamelan, dan bahasa Jawa — sebagai sarana dakwah agar ajarannya lebih mudah diterima masyarakat setempat. Ia merangkul, bukan membentengi diri dari budaya Jawa.
Konkretnya, ajaran Manunggaling Kawula Gusti dalam Serat Syekh Siti Jenar digambarkan begini: ketika manusia berdzikir dengan sepenuh hati hingga sifat-sifat buruknya hancur (fana), maka ruh manusia akan menyatu dengan sifat-sifat Tuhan. Bukan percampuran dzat, tapi penyatuan kesadaran (Nugraha, 2019). Dalam bahasa modern, ini bisa disebut sebagai peak experience spiritualitas — momen di mana ego sirna dan manusia merasakan kehadiran Ilahi yang penuh.
Syekh Siti Jenar juga memandang manusia sebagai al-insān al-kāmil — manusia sempurna yang diciptakan Tuhan sebagai wakil-Nya di bumi. Jiwa, menurutnya, adalah suara hati nurani yang menjadi ekspresi dari zat Tuhan.
Bukan Sekadar Sengketa Teologi — Ada Dimensi Politik
Di sinilah narasi Syekh Siti Jenar menjadi jauh lebih kompleks dari sekadar debat tasawuf vs. syariat.
Kontroversi Syekh Siti Jenar tidak lepas dari pergolakan politik pada masa Kesultanan Demak. Ki Ageng Pengging, yang dikenal sebagai murid Syekh Siti Jenar, menolak tunduk pada kekuasaan Demak. Ia menganggap Kesultanan Demak tidak memiliki legitimasi karena didirikan di atas keruntuhan Majapahit.
Ini penting. Ketika seorang guru spiritual memiliki murid-murid yang melawan kekuasaan politik, guru itu menjadi ancaman — bukan hanya teologis, tapi juga politis. Pemikiran Syekh Siti Jenar dianggap sangat liberal dan kontroversial. Ia dipandang menentang arus utama keagamaan yang dibangun melalui kolaborasi kekuasaan Kerajaan Demak Bintara di bawah Raden Fatah dan para agamawan dari Wali Songo (Mulyani, 2006).
Ada juga dimensi lain yang menarik: sebuah teori menjelaskan bahwa dalam ajaran Jawa, raja memiliki kedudukan sangat tinggi, bahkan dianggap sebagai titisan Tuhan. Ajaran Syekh Siti Jenar yang menyatakan Tuhan ada dalam setiap manusia jelas bertentangan dengan struktur kekuasaan semacam itu. Jika setiap orang bisa "manunggal" dengan Tuhan, maka raja tidak lagi punya monopoli atas kesucian — dan itu subversif secara politik.
Gerakan yang dilakukan Syekh Siti Jenar bersumbu pada pembebasan kultural, yang meliputi pembebasan kemanusiaan dari kungkungan struktur politik yang berdalih agama, sekaligus pembebasan dari pasungan keagamaan yang formalistik.
Tujuh Versi Kematian, Satu Misteri Besar
Tidak ada bagian dari kisah Syekh Siti Jenar yang lebih kontroversial dari kematiannya. Dan di sinilah sejarah benar-benar memperlihatkan wajah aslinya: penuh versi, penuh kepentingan, penuh ketidakpastian.
Setidaknya ada tujuh versi yang beredar dalam literatur Jawa:
- Versi 1 (mengacu pada Serat Syeikh Siti Jenar karya Ki Sosrowidjojo): dihukum mati oleh Sultan Demak Raden Fatah atas persetujuan Wali Songo, dengan algojo Sunan Kalijaga di alun-alun Demak.
- Versi 2 (dari Wawacan Sunan Gunung Jati terbitan Emon Suryaatmana & T.D. Sudjana, 1994): dieksekusi oleh Sunan Gunung Jati di Masjid Ciptarasa Cirebon, lalu dimakamkan di Pasarean Kemlaten.
- Versi 3 & 4: divonis oleh Sunan Giri, dengan algojo berbeda.
- Versi 5 (dari Serat Negara Kertabumi suntingan Rahman Selendraningrat): dihukum atas perintah Sunan Gunung Jati, dieksekusi oleh Sunan Kudus.
- Versi 6: Wali Songo datang untuk mengeksekusi, tapi Syekh Siti Jenar memilih menemui ajalnya sendiri dengan memohon kepada Allah — tanpa campur tangan manusia.
- Versi 7: yang dieksekusi bukan Syekh Siti Jenar asli, melainkan dua orang yang mengaku sebagai dirinya. Syekh Siti Jenar yang sesungguhnya mengasingkan diri dan meninggal secara wajar.
Versi eksekusi mati ini dibantah oleh sejarawan Agus Sunyoto yang meneliti sejarah Syekh Siti Jenar dari sekitar 300 pustaka kuno. Menurutnya, persepsi yang selama ini berkembang tentang Syekh Siti Jenar tidak benar, dan wali kontroversial itu tidak meninggal karena dieksekusi.
Dari sekian banyak versi ini, ada satu benang merah yang penting: tidak ada satu pun narasi yang bisa diklaim sebagai kebenaran mutlak. Yang ada adalah lapisan-lapisan tafsir, masing-masing dengan motif tersendiri — politik, spiritual, atau kultural.
Warisan yang Hidup Hingga Hari Ini
Lima abad berlalu. Tapi nama Syekh Siti Jenar tidak menghilang.
Kajian Ajaran Tarekat Syekh Siti Jenar (F. Sihombing, 2023) mencatat bahwa sebagian pengikut hingga kini menolak adanya mursyid formal. Mereka memahami dzikr sebagai medan pribadi, bukan diktat guru. Sebuah tradisi spiritualitas yang egaliter — tidak membutuhkan hierarki untuk mendekat kepada Tuhan.
Warisan Syekh Siti Jenar juga hidup dalam tradisi sastra Jawa. Ia menciptakan naskah klasik berjudul Serat Syekh Siti Jenar yang terdiri dari 15 pupuh (bagian) dalam tembang berbahasa Jawa, berisi pandangan-pandangannya tentang hakikat manusia dan kiamat.
Yang lebih menarik: kisahnya terus-menerus di-reinterpretasi oleh setiap generasi sesuai kebutuhan zamannya. Bagi aktivis yang hidup di bawah rezim otoriter, Siti Jenar adalah simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas atas nama agama. Bagi para pencari spiritual yang jenuh dengan formalisme ritual, ia adalah teladan bahwa Tuhan bisa ditemukan tanpa perantara institusional. Bagi akademisi, ia adalah lahan riset yang tidak ada habisnya.
Dalam jejaknya, kita menemukan bahwa Islam di Nusantara bukan hanya soal ritual dan hukum — tapi juga pencarian batin, pengalaman mistik, dan relasi dengan budaya lokal.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Seorang Siti Jenar?
Kisah Syekh Siti Jenar bukan undangan untuk meniru ajarannya secara mentah-mentah, dan bukan pula ajakan untuk mengutuk atau mengagung-agungkannya. Ada tiga hal yang lebih berharga untuk diambil:
Pertama, berpikir kritis tentang narasi sejarah. Ketika ada kisah yang sudah terlanjur "mapan" — terutama yang menyangkut tokoh agama — pertanyaan yang perlu diajukan adalah: siapa yang menulis kisah ini? Apa kepentingannya? Apa yang tidak diceritakan? Tujuh versi kematian Siti Jenar adalah pengingat bahwa sejarah tidak pernah netral.
Kedua, memahami bahwa debat antara syariat dan hakikat bukan sesuatu yang baru. Ketegangan ini sudah ada sejak al-Hallaj dieksekusi di Baghdad pada tahun 922 M. Ia bukan krisis, melainkan dinamika alamiah dalam tradisi Islam yang kaya. Yang penting bukan memilih kubu, tapi memahami masing-masing posisi dengan jujur dan mendalam.
Ketiga, menghargai keberanian intelektual. Apapun penilaian kita tentang substansi ajarannya, Syekh Siti Jenar hidup dan berbicara di era ketika berbeda pendapat bisa berarti nyawa. Di saat banyak orang memilih diam, ia memilih untuk terus berbicara. Itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.
Tanah Kuning yang Tidak Pernah Diam
Nama siti jenar berarti tanah kuning. Tanah yang diam, tapi menyimpan banyak hal di bawahnya.
Lima ratus tahun setelah ia pergi — entah dihukum mati, entah meninggal dalam kesunyian — Syekh Siti Jenar masih terus "berbicara" melalui setiap orang yang membaca suluk-nya, mendebatkan ajarannya, atau sekadar penasaran dengan namanya. Mungkin itulah yang paling relevan: di zaman di mana kedalaman sering kalah dengan keramaian, kita masih punya tokoh yang mengingatkan bahwa pencarian makna — sekali pun menakutkan, sekali pun kontroversial — adalah bagian yang tak terhindarkan dari menjadi manusia.
Ingat: Kebenaran yang paling sulit bukan yang tersimpan dalam teks kuno, melainkan yang kita hadapi ketika bertanya pada diri sendiri: seberapa dalam kita benar-benar mengenal Tuhan yang kita sembah?
Referensi & Sumber:
- Hadisuwarno, Sartono. (2018). Biografi Lengkap Syekh Siti Jenar. Laksana. — [Tersedia di toko buku]
- Mulkhan, Abdul Munir. (2006). Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
- Sholikhin, Muhammad. (2011). Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo. Jakarta: Erlangga.
- Sihombing, F. (2023). Ajaran Tarekat Syekh Siti Jenar. Penelitian tasawuf, dipublikasikan secara akademik.
- Nugraha, F. I. (2019). Analisis Serat Suluk Syekh Siti Jenar. Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 14(1). — https://journal.uniku.ac.id/index.php/FON/article/view/2095
- Sujadi, A. (2018). Moralitas Asketisme Syekh Siti Jenar: Studi Trilogi Syekh Siti Jenar Karya Agus Sunyoto. Prasasti: Journal of Linguistics, 3(2), 151–159. — https://jurnal.uns.ac.id/prasasti/article/view/20181
- Jakartamu.com. (2025). Syekh Siti Jenar: Wali yang Melampaui Batas. — https://www.jakartamu.com/syekh-siti-jenar-wali-yang-melampaui-batas-21394
- Tebuireng Online. (2022). Alam Semesta dalam Pandangan Syekh Siti Jenar. — https://tebuireng.online/alam-semesta-dalam-pandangan-syekh-siti-jenar/
- Liputan6.com. (2018). 7 Versi Kematian Syekh Siti Jenar. — https://www.liputan6.com/regional/read/3611016/7-versi-kematian-syekh-siti-jenar
- Wikipedia Indonesia. Raden Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar). — https://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Abdul_Jalil
- FKIP UNS Pendidikan Sejarah. (2025). Manunggaling Kawula Gusti: Sufisme Syekh Siti Jenar. — https://sejarah.fkip.uns.ac.id/2025/01/02/manunggaling-kawula-gusti-sufisme-syekh-siti-jenar/