Ada seorang teman lama yang bertahun-tahun saya kagumi karena kesederhanaannya. Bukan karena dia miskin — dia tidak miskin. Tapi karena ketika dia mendapat promosi jabatan, topik pertama yang dia angkat di meja makan keluarganya bukan tentang kenaikan gaji. Melainkan: "Apakah pekerjaan ini masih memberi saya waktu untuk merawat ibu?"
Saya baru sadar betapa langkanya lingkungan seperti itu.
Sebagian besar dari kita tumbuh — atau hidup sekarang — di lingkungan yang mengukur keberhasilan seseorang dari apa yang dimilikinya. Berapa gaji, naik apa, tinggal di mana, dan tas apa yang dibawa ke kantor. Standar ini begitu meresap sehingga kita sering tidak menyadarinya. Tapi dampaknya, kata para peneliti psikologi, jauh lebih serius dari sekadar rasa tidak nyaman.
Ketika Harta Jadi Tolok Ukur: Apa yang Terjadi di Kepala Kita
Psikolog Tim Kasser dari Knox College telah menghabiskan lebih dari dua puluh tahun meneliti hubungan antara nilai-nilai materialistik dan kebahagiaan manusia. Kesimpulannya konsisten dan cukup mencengangkan: orang yang menempatkan kekayaan dan kepemilikan materi sebagai pusat definisi "sukses" dalam hidupnya, menurut Kasser dalam bukunya The High Price of Materialism (MIT Press, 2002), menghadapi risiko lebih tinggi terhadap kecemasan, depresi, harga diri rendah, dan kesulitan membangun hubungan yang bermakna — tanpa memandang seberapa besar penghasilan mereka.
Yang menarik, hasil ini berlaku lintas budaya. Meta-analisis yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology menemukan pola serupa di Amerika Utara, Eropa Barat, negara-negara bekas blok Soviet, Timur Tengah, hingga Asia — termasuk populasi yang setara dengan konteks kita di Indonesia.
Mekanismenya bekerja lewat apa yang psikolog Leon Festinger sebut sebagai social comparison — perbandingan sosial. Teori yang dicetuskan Festinger pada 1954 ini menjelaskan bahwa manusia secara alami mengevaluasi diri sendiri dengan cara membandingkan diri kepada orang lain (Kumparan, 2024). Ketika standar perbandingan itu adalah harta, maka persaingan tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada orang yang rumahnya lebih besar, mobilnya lebih baru, liburannya lebih jauh.
Di lingkungan yang materialistik, kita tidak pernah cukup — secara struktural.
Jebakan Treadmill yang Tidak Pernah Berhenti
Ada konsep dalam psikologi yang disebut hedonic treadmill — pertama kali diperkenalkan oleh Philip Brickman dan Donald T. Campbell pada 1971. Konsep ini menggambarkan kenyataan bahwa setelah seseorang mendapatkan promosi kerja, membeli rumah impian, atau naik kelas ekonomi, rasa bahagia memang muncul — tapi hanya sementara. Setelah beberapa waktu, individu akan kembali ke tingkat kebahagiaan sebelumnya, seolah berlari di atas treadmill: terus bergerak, tapi tidak benar-benar maju (Invesnesia, 2025).
Ini bukan kelemahan moral. Ini adalah cara kerja otak manusia.
Kebahagiaan yang diperoleh melalui kepemilikan benda material hanya bersifat sementara dan tidak memberikan kebahagiaan yang tahan lama, karena manusia cenderung beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan pengalaman — termasuk keadaan kekayaan (Psychospiritual Journal, 2023). Barang baru kehilangan kebaruannya. Gaji baru menjadi standar baru. Lalu kita butuh lebih, lagi, dan lagi.
Yang berbahaya bukan kenyataan psikologis itu sendiri. Yang berbahaya adalah ketika lingkungan sosial kita memperkuat siklus ini — ketika komunitas, keluarga, atau tempat kerja kita secara aktif mengukur nilai seseorang dari seberapa jauh dia berlari di atas treadmill itu.
Dari sini muncul pertanyaan yang penting: kalau lingkungan yang materialistik itu sendiri memperparah siklus hedonic treadmill, maka apa yang terjadi pada orang yang tumbuh di lingkungan yang berbeda?
Apa yang Sebenarnya Kita Dapatkan dari Lingkungan yang Tidak Materialistik
Bayangkan — atau mungkin Anda memang punya pengalaman ini — tumbuh di lingkungan di mana pertanyaan yang sering muncul bukan "kamu kerja di perusahaan apa?" melainkan "kamu baik-baik saja?" Di mana keberhasilan diukur dari seberapa baik seseorang menjaga hubungan, bukan seberapa besar tabungannya.
Lingkungan semacam ini memberikan beberapa hal yang secara psikologis sangat berharga:
Pertama, standar perbandingan yang berbeda. Ketika orang-orang di sekitar kita tidak berlomba menunjukkan kekayaan, kita secara otomatis terbebas dari tekanan perbandingan sosial yang paling merusak. Kita tidak perlu "menang" dalam perlombaan yang tidak pernah ada ujungnya.
Kedua, ruang untuk mendefinisikan sukses secara personal. Penelitian Tim Kasser menunjukkan bahwa ketika seseorang mengejar tujuan intrinsik — hubungan bermakna, pertumbuhan personal, kontribusi kepada komunitas — mereka melaporkan tingkat kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang mengejar tujuan ekstrinsik seperti kekayaan dan status (Behavioral Scientist, 2020).
Ketiga, perlindungan dari impulsivitas finansial. Penelitian dari Sari & Prianthara (2024) menemukan bahwa nilai-nilai materialistik berperan signifikan dalam mendorong pembelian impulsif — terutama pada kelompok usia muda yang aktif di lingkungan digital. Orang yang tumbuh di lingkungan non-materialistik secara alamiah memiliki filter yang lebih kuat terhadap tekanan konsumsi ini (JOECY Journal, 2025).
Syukur Bukan Sekadar Sikap — Ini Perlindungan
Saya ingin berhati-hati di sini. Artikel ini bukan glorifikasi kemiskinan, bukan juga ajakan untuk tidak bercita-cita tinggi secara finansial. Kecukupan materi adalah kebutuhan nyata, dan mengabaikannya adalah naif.
Yang sedang kita bicarakan adalah sesuatu yang berbeda: standar penilaian yang digunakan lingkungan sosial kita untuk mengukur nilai seorang manusia.
Ada perbedaan besar antara ingin sejahtera dan menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan seseorang.
Dalam tradisi Islam, ada konsep qana'ah — merasa cukup dengan apa yang dimiliki, tanpa harus merasa inferior atau superior atas dasar harta. Ini bukan pasivitas. Ini adalah keadaan psikologis aktif di mana seseorang tetap berusaha, tapi tidak membiarkan hasil material mendefinisikan harga dirinya. Kebahagiaan dari harta hanya bersifat sementara; rasa syukur justru melahirkan rasa kecukupan yang lebih stabil (Pondok Islami, 2019).
Kalau Anda lahir dan dibesarkan di keluarga yang ketika berkumpul lebih banyak membicarakan nilai-nilai, hubungan, dan makna daripada harga properti dan merek kendaraan — itu bukan keberuntungan kecil. Itu warisan mental yang tidak ternilai. Warisan yang, menurut dekade riset psikologi, secara harfiah melindungi kesehatan jiwa Anda.
Bersyukurlah. Sungguh-sungguh.
Bagaimana Kalau Lingkungan Kita Justru Sebaliknya?
Tidak semua orang beruntung mendapat lingkungan seperti itu. Banyak dari kita tumbuh — atau hidup sekarang — di tengah tekanan sosial yang sangat materialistik. Lalu apa yang bisa dilakukan?
Beberapa langkah konkret yang bisa dimulai:
Audit lingkaran sosial terdekat. Perhatikan: topik apa yang paling sering muncul dalam obrolan? Kalau lebih dari separuh percakapan berkisar pada apa yang dimiliki orang, itu sinyal bahwa lingkungan Anda sedang membentuk standar perbandingan yang tidak sehat.
Ciptakan ritual penghargaan yang non-materialistik dalam keluarga. Rayakan pencapaian yang tidak bisa dibeli — ketabahan seseorang saat sakit, kesetiaan dalam pertemanan, keberanian mengakui kesalahan. Ini bukan sentimentalisme murahan; ini sedang membangun standar sosial yang berbeda.
Latih mindful consumption. Setiap kali ingin membeli sesuatu, tanyakan: apakah ini kebutuhan, atau apakah ini adalah respons terhadap tekanan perbandingan sosial? Penelitian menunjukkan bahwa self-control adalah moderator kuat yang mampu menekan dampak negatif nilai-nilai materialistik terhadap perilaku konsumsi (JOECY Journal, 2025).
Secara aktif cari komunitas dengan nilai yang berbeda. Tidak harus meninggalkan lingkungan lama, tapi memperluas lingkaran sosial ke komunitas yang mengukur prestasi dari kontribusi, pertumbuhan, atau karakter — bukan properti.
Yang Tidak Akan Pernah Bisa Dibeli
Teman saya tadi akhirnya memilih untuk menunda promosinya selama setahun — demi merawat ibunya yang sakit. Keputusan yang, di banyak lingkungan materialistik, akan dianggap bodoh atau tidak ambisius.
Tapi tiga tahun kemudian, saat ibunya sudah meninggal, dia berkata sesuatu yang saya ingat sampai sekarang: "Saya tidak pernah sekali pun menyesal atas keputusan itu."
Kita hidup di era di mana algoritma media sosial secara aktif menampilkan kekayaan orang lain ke hadapan kita setiap hari. Di mana standar "sukses" dikonstruksi oleh industri yang keuntungannya bergantung pada ketidakpuasan kita. Dalam konteks seperti itu, punya lingkungan — keluarga, komunitas, sahabat — yang tidak mengukur Anda dari harta adalah salah satu bentuk perlindungan jiwa yang paling langka dan paling berharga.
Itu bukan privilege yang kecil. Itu adalah kondisi yang oleh sains, filsafat, dan tradisi keagamaan secara konsisten diidentifikasi sebagai fondasi dari kebahagiaan yang tahan lama.
Kalau Anda memilikinya — jaga. Kalau belum — mulailah membangunnya, satu percakapan pada satu waktu.
Referensi & Resources:
- Tim Kasser, The High Price of Materialism, MIT Press, 2002 — https://mitpress.mit.edu/9780262611978/the-high-price-of-materialism/
- Behavioral Scientist: Q&A with Tim Kasser tentang materialisme dan well-being — https://behavioralscientist.org/materially-false-qa-tim-kasser-pursuit-good-goods/
- Invesnesia: Hedonic Treadmill — Mengapa Kebahagiaan Tak Pernah Bertahan Lama (2025) — https://www.invesnesia.com/psikologi/hedonic-treadmill/
- Psychospiritual Journal UIN Jember: Analisis Faktor Kebahagiaan pada Mahasiswa Generasi Z (2023) — https://psychospiritual.uinkhas.ac.id/index.php/psycho/article/download/14/14/74
- JOECY Journal: Dinamika Materialisme, Kontrol Diri, dan Pembelian Impulsif (2025) — https://joecy.org/index.php/joecy/article/download/5902/4616
- Kumparan: Manusia dan Kebiasaan Membandingkan Diri — Social Comparison Theory (2024) — https://kumparan.com/nayla-tazkia-bahri/manusia-dan-kebiasaan-membandingkan-diri-menelusuri-social-comparison-theory-22zjb5ocFmf
- Pondok Islami: Fenomena Hedonic Treadmill dalam Mencari Kebahagiaan — https://pondokislami.com/fenomena-hedonic-treadmill-dalam-mencari-kebahagiaan.html