Tahun 2025, penjualan buku di Amerika Serikat lebih tinggi dari tahun 2019 — tahun sebelum pandemi, sebelum TikTok meledak, sebelum semua orang panik soal "generasi yang tidak bisa membaca." Sebanyak 422 toko buku independen baru dibuka hanya dalam setahun terakhir, menurut laporan New York Times. Bahkan Barnes & Noble, jaringan toko buku raksasa yang sudah lama dinyatakan hampir bangkrut, kini dianggap keren lagi.
Ini bukan data yang kita harapkan jika benar-benar sedang menuju peradaban pasca-literat.
Tapi narasi sebaliknya — bahwa kita sedang dalam krisis baca-tulis yang akut — tetap beredar luas dan terasa sangat meyakinkan. Setiap beberapa bulan, muncul satu esai panjang di media bergengsi yang menyimpulkan: perhatian kita hancur, kemampuan berpikir dalam kita memudar, dan buku sudah hampir punah. Adam Mastroianni, peneliti psikologi dan penulis Experimental History, baru-baru ini memeriksa klaim ini secara cermat — dan hasilnya cukup mengejutkan.
Data yang Tidak Semenyeramkan Kelihatannya
Mastroianni mencatat ada pola yang sangat umum dalam cara kita membahas krisis: standar pembuktian kita jauh lebih rendah untuk kabar buruk dibanding kabar baik. "The mind is primed to believe narratives of decline," tulisnya. Kita tidak butuh bukti yang kuat untuk percaya bahwa sesuatu memburuk, tapi kita butuh bukti yang sangat solid untuk percaya bahwa sesuatu membaik.
Survei Gallup selama tiga dekade menunjukkan bahwa yang benar-benar terjadi hanyalah sebagian pembaca berat (11+ buku per tahun) bergeser menjadi pembaca sedang (1–5 buku per tahun). Tidak ada kolaps besar. Data dari National Endowment for the Arts memang menunjukkan penurunan tipis dalam satu dekade terakhir, dan American Time Use Survey mencatat waktu membaca menurun dari 2003 ke 2023 — tapi penurunan terbesar terjadi antara 2003 dan 2011, bukan di era TikTok. Artinya, musuh terbesar kebiasaan membaca bukan iPhone 5G, melainkan koneksi broadband pertama yang masuk ke rumah kita sekitar 2009.
Mastroianni mengajukan pertanyaan yang menggugah: bagaimana jika grafik yang sama kita gunakan untuk mengukur penurunan kebiasaan merokok, bukan membaca? Apakah kita akan menyebutnya "kolaps"? Kemungkinan besar tidak — kita mungkin akan bilang "lumayan, tapi tidak dramatis." Mengapa standar kita berbeda ketika yang kita ukur adalah hal baik yang menurun?
Kenapa Teks Tidak Bisa Digantikan
Ada argumen yang lebih dalam di sini, melampaui sekadar angka. Mastroianni berpendapat bahwa teks — tulisan — memiliki fungsi epistemologis yang tidak bisa digantikan medium lain mana pun.
Menurut satu teori tentang asal-usul tulisan dari University of Texas, tulisan lahir untuk "memakukkan fakta di tempatnya." Catatan pertama umat manusia bukan puisi atau filsafat — melainkan transaksi: "Hirin berutang empat gantang gandum kepada Mushin." Tapi begitu kita sadar bahwa pengetahuan bisa dipadatkan dan dilestarikan dalam simbol-simbol kecil, seluruh ranah logika dan penalaran terbuka lebar.
Inilah yang tidak bisa dilakukan video atau podcast dengan cara yang sama: memaksa pemikiran untuk bertahan dalam bentuk yang bisa diperiksa ulang. Mastroianni menggunakan analogi yang tajam — menulis ibarat menyemprotkan sabun cair ke ban yang bocor. Gelembung langsung muncul di titik kebocorannya. Pikiran yang bisa bertahan ketika dituliskan rata-rata lebih benar dari pikiran yang hanya berputar di kepala.
Ini bukan sekadar teori. Lihat bagaimana setiap gerakan besar dalam sejarah selalu berakar pada sebuah buku. Tidak ada komunisme tanpa Communist Manifesto, tidak ada gerakan lingkungan modern tanpa Silent Spring karya Rachel Carson, tidak ada revolusi Amerika tanpa Common Sense karya Thomas Paine. Bahkan di 2025, buku Abundance karya Ezra Klein dan Derek Thompson berhasil menginspirasi pembentukan sebuah kaukus baru di Kongres AS — bukan Abundance podcast, bukan serial YouTube-nya, tapi bukunya.
Nafsu yang Tidak Bisa Ditipu
Ada asumsi diam-diam dalam narasi "kematian buku" yang perlu kita tantang: bahwa manusia pada dasarnya lebih suka konten murahan, dan buku hanyalah pengisi waktu sampai TikTok ditemukan.
Mastroianni menolak ini. Dan ada alasan biologis yang kuat di balik penolakannya.
Nafsu manusia itu kompleks dan multidimensional. Itulah mengapa begitu sulit untuk benar-benar memuaskan keinginan dasar kita dengan substitusi buatan. Siapa yang benar-benar puas dengan kue ulang tahun berasa hambar karena dibuat dengan pemanis buatan? Siapa yang lebih memilih solarium dibanding sinar matahari langsung? Meskipun kita bisa melihat foto resolusi tinggi Mona Lisa kapan saja gratis, jutaan orang masih rela terbang ke Paris, antre berjam-jam, hanya untuk melihat lukisan 77 x 53 cm itu dari jarak yang bahkan tidak optimal.
Membaca buku besar — fiksi maupun nonfiksi — menghasilkan perasaan yang tidak ada penggantinya. Mastroianni menggambarkannya dengan cara yang sangat personal: menyelesaikan buku nonfiksi terasa seperti mengangkat barbel dari dada, sementara menyelesaikan novel terasa seperti meninggalkan sebuah bangsa di belakangmu. Video bisa menggelitik, podcast bisa menginformasikan — tapi hanya teks yang bisa meregangkan lipatan otak dan meluaskan jiwa dengan cara seperti itu.
Dan semua orang, bahkan mereka yanng tidak punya gelar humaniora, tahu perbedaan antara kesenangan murahan dan kesenangan dalam. Tidak ada yang bangga memperlihatkan screen time delapan jam. Tidak ada yang membanggakan berapa banyak video mukbang yang sudah mereka tonton. Rasa bersalah yang diam-diam itu adalah sinyal bahwa insting manusia masih bekerja.
Bukan Pasca-Literat, Tapi Lebih-Terekam
Satu kritik Mastroianni yang paling menarik ditujukan pada Walter Ong, pastor Jesuit sekaligus profesor Bahasa Inggris yang menulis Orality and Literacy — buku yang sering jadi tulang punggung argumen tentang kembalinya "budaya oral."
Ong membedakan budaya oral dan budaya literat. Tapi Mastroianni menunjukkan bahwa perbedaan terpenting sebenarnya bukan antara budaya yang berbicara vs menulis — melainkan antara budaya yang merekam vs yang tidak merekam.
Dalam budaya oral murni, satu-satunya cara pengetahuan bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya adalah dengan diingat dan diulang. Ini sangat terbatas. Tradisi oral penuh repetisi, karakter arketipe, dan gagasan intuitif justru karena itulah yang mudah diingat. Fakta-fakta presisi — seperti angka, tanggal, formula — sangat rentan hilang atau terdistorsi.
Tulisan memecahkan masalah penyimpanan itu. Tapi kita kini punya lebih banyak cara lagi. Umat manusia mengambil sekitar 2 triliun foto di 2025, menurut PetaPixel. Dua puluh juta video diunggah ke YouTube setiap harinya. Belum dihitung spreadsheet, kode program, dan database. Setiap format ini menyimpan jenis pengetahuan yang berbeda dan memicu cara berpikir yang berbeda pula.
Artinya: bahkan jika kebiasaan membaca buku turun sedikit, kita tidak sedang bergerak menuju masyarakat pra-literat. Kita bergerak menuju masyarakat yang lebih terekam dari sebelumnya. Bard yang melagukan Iliad di sekitar api unggun bisa saja lupa lirik, mengubah karakter, menyembunyikan bagian yang mungkin menyinggung penontonnya — dan tidak ada yang bisa memverifikasinya. Stream ke-satu-miliar dari sebuah lagu di YouTube identik dengan stream pertamanya.
Teks Masih Raja — dan Ini Bukan Soal Nostalgia
Ada satu hal yang perlu disadari oleh siapa pun yang merasa tidak perlu membaca karena "pengaruh media sosial tidak menyentuh saya": justru itulah posisi paling rentan.
Mastroianni mengingatkan kita pada monolog Meryl Streep dalam The Devil Wears Prada, ketika karakter Andy Sachs menertawakan dua ikat pinggang yang terlihat identik — dan Miranda Priestly menjelaskan bahwa pilihan warna biru-lumpur yang ia kenakan sebenarnya diputuskan oleh orang-orang di industri fashion beberapa tahun lalu, melewati berbagai merek dan akhirnya berakhir di toko diskon tempat Andy membelinya. Ia pikir dirinya bebas dari dunia fashion. Padahal ia sedang memakai produk akhirnya.
Hal yang sama berlaku untuk dunia gagasan. Tidak mengetahui kekuatan-kekuatan yang membentuk masyarakat tidak membebaskanmu dari pengaruhnya — justru menempatkanmu di bawah kekuasaannya tanpa sadar. Mereka yang membaca, berpikir, dan menulis mungkin terlihat lebih lambat dan lebih sepi dari mereka yang ribut di media sosial. Tapi seperti kata Mastroianni: yang ribut itu biasanya cepat bosan dan pergi, sementara para pembangun kembali dan mulai lagi.
Lima ribu tahun setelah orang Sumeria mulai menggores kuneiform di lempung tanah liat, enam ratus tahun setelah Gutenberg menekan blok bertinta di atas kertas — teks masih berkuasa. Bukan karena kita sentimental terhadap buku fisik atau nostalgia terhadap era tertentu, tapi karena tidak ada medium lain yang bisa melakukan apa yang teks lakukan: memaksa sebuah gagasan untuk bertahan, untuk bisa diperiksa, untuk diwariskan utuh.
Pertanyaannya bukan lagi apakah membaca akan bertahan. Pertanyaannya adalah: apakah kamu termasuk orang yang masih melakukannya?
Referensi & Resources:
- Adam Mastroianni, "Text is King", Experimental History (20 Januari 2026): https://www.experimental-history.com/p/text-is-king
- Gallup Survey on American Book Reading Habits: https://news.gallup.com/poll/388541/americans-reading-fewer-books-past.aspx
- National Endowment for the Arts, 2022 Survey of Public Participation in the Arts: https://www.arts.gov/sites/default/files/2022-SPPA-final.pdf
- New York Times, "Book Sales Trends 2025": https://www.nytimes.com/2025/12/30/books/book-sales-trends-2025.html
- Walter J. Ong, Orality and Literacy (1982), Routledge — tersedia di: https://monoskop.org/images/d/db/Ong_Walter_J_Orality_and_Literacy_2nd_ed.pdf
- University of Texas, The Evolution of Writing: https://sites.utexas.edu/dsb/tokens/the-evolution-of-writing/
- PetaPixel, "The Number of Photos Taken in 2025": https://petapixel.com/2025/06/18/the-number-of-photos-taken-in-2025-is-expected-to-exceed-two-trillion/