Tradwife dan Feminine Energy - Pilihan Bebas atau Jebakan Algoritma?

Konten estetik ibu rumah tangga ideal meledak di TikTok. Tapi siapa yang diuntungkan — perempuan, atau platform yang mengontrolnya?

#tradwife #feminineenergy #gender #medsos

Kreator Moco
8 menit baca

Scroll TikTok selama sepuluh menit hari ini, dan hampir pasti muncul: seorang perempuan cantik, berpakaian apron rapi, menyiapkan sarapan pagi yang estetik sambil tersenyum tenang. Narasi yang mengikutinya selalu mirip — "sejak berhenti bekerja dan kembali ke rumah, saya jauh lebih bahagia." Videonya dapat jutaan views. Komentarnya penuh perempuan lain yang berkata, "aku ingin hidup seperti ini."

Tapi ada yang janggal. Perempuan yang membuat konten itu, seperti dikritisi oleh Fitri Melaya Sari, dosen Universitas Airlangga dalam tulisannya di The Conversation Indonesia (Juni 2026), sebenarnya sedang bekerja penuh waktu. Mereka memahami algoritma, mengelola audiens, menegosiasikan kontrak merek, dan mengubah kehidupan domestik menjadi komoditas visual yang sangat kompetitif. Domestifikasi yang mereka jual sebagai "ketenangan" adalah produk dari kerja keras yang sama intensnya dengan karier kantoran mana pun.

Inilah paradoks besar yang perlu kita bicarakan.

Apa Itu Tradwife, Sebenarnya?

Tradwife — kependekan dari traditional wife — adalah tren yang mengidealkan peran perempuan sebagai istri dan ibu rumah tangga yang sepenuhnya mendedikasikan diri untuk keluarga. Konten tradwife umumnya menampilkan perempuan yang bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk keluarga, mengurus rumah dengan tenang, hingga menyambut suami sepulang kerja, dengan narasi yang menekankan bahwa perempuan akan lebih bahagia jika meninggalkan tekanan dunia kerja.

Di Indonesia, tren ini berjalan beriringan dengan narasi feminine energy — gagasan bahwa perempuan harus memanifestasikan "energi feminin" berupa kelembutan, kepasifan, dan kebergantungan pada pasangan. Komodifikasi feminine energy membuka jalan bagi tren tradwife, dan keduanya berangkat dari gagasan bahwa kodrat perempuan berbeda dari laki-laki, sehingga mesti fokus pada peran domestik dan mendukung kepemimpinan laki-laki.

Jika mengacu pada data Google Trends, kata kunci tradwife mulai naik sekitar tahun 2016 dan terus menguat hingga sekarang (Mubadalah.id, 2023). Di Amerika Serikat, sebuah studi EduBirdie menemukan bahwa 47% perempuan Gen Z memilih kehidupan tradisional yang stabil dibandingkan kemewahan, uang, dan ketenaran. Angka ini tidak bisa diabaikan — ia mencerminkan kelelahan nyata terhadap kultur hustle yang selama satu dekade terakhir dipuja.

Pertanyaannya: apakah ini respons yang tepat, atau justru pelarian yang menjebak?

Ironi Terbesar: Si Pembuat Konten Itu Sendiri Tidak "Tradwife"

Influencer kaya di TikTok dan Instagram mempresentasikan pekerjaan rumah tangga, membesarkan anak, dan kepatuhan pada otoritas laki-laki sebagai gaya hidup yang aspirasional. Tapi realitanya jauh lebih kompleks dari yang ditampilkan di layar.

Peneliti Isabel Sykes dari Brunel University dalam jurnal European Journal of Cultural Studies (2025) menganalisis tren serupa — #stayathomegirlfriend — dan menemukan bahwa para perempuan ini justru terjebak dalam apa yang ia sebut double shift: mereka mengklaim menolak feminisme girlboss dan mengadopsi ideologi tradwife, tetapi pada kenyataannya mereka tetap menjalankan dua beban — pekerjaan domestik dan pekerjaan digital — sambil menyangkal nilai dari kerja mereka sendiri.

Singkatnya: mereka menjual imaji istirahat dari kerja keras, sambil bekerja sangat keras untuk menjualnya.

Bahkan kalangan konservatif sendiri mulai memperhatikan bahwa influencer "anti-feminis" ini sering memiliki pekerjaan — sebagai influencer — dan menghasilkan banyak uang dari itu. Kontradiksi ini bukan kebetulan. Ia adalah produk dari sistem yang memang dirancang demikian.

Algoritma yang Diam-Diam Membentuk Standar

Di sinilah masalah sesungguhnya bermula. Bukan pada pilihan individu perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga — itu pilihan yang sah dan patut dihormati. Masalah muncul ketika algoritma digital mulai memberi penghargaan pada femininitas tertentu sambil secara halus tidak mengakui perempuan yang terlalu ambisius, asertif, atau berorientasi karier.

Algoritma media sosial bekerja dengan cara mempelajari interaksi pengguna, sehingga konten yang muncul sering kali memperkuat apa yang sudah pernah dilihat atau disukai sebelumnya — membuat pengguna semakin sering terpapar konten bernada tertentu tanpa disadari.

Artinya: jika seseorang sekali menonton video tradwife, maka algoritma akan terus menyuguhkan konten serupa, menciptakan echo chamber yang membuat narasi domestifikasi terasa seperti "kebenaran universal", bukan sekadar satu pilihan di antara banyak pilihan.

Di TikTok, banyak konten yang dibalut dengan kata self-love, namun pada kenyataannya mendorong perempuan untuk kembali ke peran gender tradisional dan membatasi ruang gerak mereka untuk menjadi diri sendiri. Label "pemberdayaan" digunakan, tapi yang diperkuat justru keterbatasan.

Double Bind: Serba Salah Menjadi Perempuan

Ada konsep dalam kajian gender yang menjelaskan situasi ini dengan tepat — double bind, atau jebakan ganda. Dalam kajian gender, double bind adalah situasi ketika perempuan menghadapi dua tuntutan yang saling bertentangan: di satu sisi mereka dituntut kompeten, tegas, dan mampu memimpin, tetapi di sisi lain harus tetap terlihat lembut, hangat, dan tidak mengintimidasi.

Konsekuensinya terasa di kehidupan sehari-hari. Kata "ambis" (ambisi) sering digunakan sebagai kata negatif, terutama kepada perempuan. Padahal, ambisi adalah dorongan untuk mencapai prestasi atau mengembangkan potensi diri — berbeda dari keserakahan atau obsesi kekuasaan. Namun pada perempuan, ambisi sering diasosiasikan dengan egoisme, agresivitas, atau sifat "terlalu maskulin".

Perbedaanya dengan masa lalu: jika dahulu kontrol dilakukan melalui kebijakan negara, kini pengaruh tersebut hadir melalui algoritma media sosial dan influencer. Wajah kontrolnya berbeda, tapi substansinya sama — membatasi ruang gerak perempuan dengan menyematkan label "kodrat" atau "energi feminin" pada pembatasan tersebut.

Tidak ada yang salah dengan menjadi ibu rumah tangga. Yang perlu dipertanyakan adalah: apakah keputusan itu benar-benar bebas, atau sudah dibentuk lebih dulu oleh ribuan jam konten yang dipersonalisasi oleh mesin?

Apa yang Sebenarnya Diinginkan Perempuan?

Data menunjukkan bahwa persoalannya lebih nuansir dari sekadar dikotomi tradwife vs. girlboss. Sebuah laporan Institute for Family Studies (November 2025) menemukan bahwa hanya 39% ibu yang menikah dengan anak di bawah usia lima tahun menganggap kerja penuh waktu sebagai pilihan ideal mereka. Sebanyak 40% lebih memilih kerja paruh waktu, dan 20% lebih memilih tidak bekerja untuk upah sama sekali.

Angka itu tidak mendukung narasi tradwife secara mutlak, tapi juga tidak mendukung narasi girlboss yang memaksakan ambisi karier. Yang sesungguhnya diinginkan adalah fleksibilitas. Jutaan perempuan ingin bisa memilih — bukan dipaksa masuk ke dalam salah satu kotak yang disediakan oleh tren media sosial.

Perempuan seharusnya memiliki kebebasan menentukan pilihan hidupnya sendiri, baik sebagai ibu rumah tangga maupun perempuan karier, tanpa tekanan sosial dan tanpa rasa bersalah.

Tapi kebebasan memilih itu sulit terwujud ketika algoritmanya sendiri sudah lebih dahulu menentukan pilihan mana yang mendapat tepuk tangan dan mana yang dihukum dengan sepi dari engagement.

Bersikap Kritis Tanpa Menghakimi

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan secara konkret sebagai konsumen media sosial:

  • Kenali pola algoritmamu. Jika feed-mu didominasi satu jenis narasi tentang peran gender, itu bukan cermin realitas — itu adalah produk dari sistem rekomendasi. Secara aktif cari konten dengan perspektif berbeda.
  • Bedakan pilihan dari tekanan. Menjadi ibu rumah tangga karena benar-benar diinginkan adalah valid. Menjadi ibu rumah tangga karena merasa bersalah saat berambisi adalah sesuatu yang perlu dieksplorasi lebih dalam.
  • Pertanyakan framing "kodrat". Setiap kali sebuah narasi mengklaim bahwa sesuatu adalah "kodrat" atau "energi alami" perempuan, tanyakan: siapa yang mendapat keuntungan dari narasi ini? Apakah ini didukung oleh riset, atau hanya estetika yang dikemas menjadi ideologi?
  • Dukung perempuan di pilihan mana pun. Mengkritik sistem bukan berarti mengkritik individu yang memilih kehidupan domestik. Kritik harus diarahkan pada struktur, bukan pada pilihan personal.

Ketika Estetika Menjadi Ideologi

Tren tidak selalu berbahaya. Tapi tren yang diam-diam menyematkan batas pada ambisi seseorang, lalu menyebutnya sebagai "pilihan bebas", perlu diperiksa dengan lebih hati-hati.

Tradwife dan feminine energy mungkin dimulai sebagai ekspresi autentik sebagian perempuan yang lelah dengan tekanan hustle culture. Kelelahan itu nyata. Keinginan untuk hidup lebih lambat dan lebih bermakna adalah sah. Tapi ketika respons terhadap kelelahan itu diproduksi massal oleh algoritma, dimonetisasi oleh influencer, dan kemudian disuntikkan kembali sebagai standar baru femininitas — ia berhenti menjadi pilihan dan mulai menjadi tekanan dalam kemasan yang lebih halus.

Masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi berbagai tren di media sosial, terutama yang secara tidak langsung dapat membatasi pilihan dan ruang gerak perempuan dalam kehidupan sosial maupun profesional (Telisik.id, 2026).

Ingat: Kebebasan yang sesungguhnya bukan tentang memilih antara dapur dan kantor. Ia tentang tidak ada satu pun yang memaksamu untuk memilih salah satunya.


Referensi & Sumber:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Politik & Sosial: