Februari 2025, Andrej Karpathy — salah satu pendiri OpenAI sekaligus mantan kepala AI di Tesla — memposting sesuatu yang terdengar seperti lelucon di platform X: ia sedang membangun aplikasi iOS dengan cara yang hampir tanpa mengetik satu pun baris kode. Ia berbicara ke AI, menerima semua perubahan kode tanpa membaca, dan hasilnya "mostly works." Ia menyebut metode ini vibe coding.
Respons dunia teknologi? Ledakan. Dalam hitungan minggu setelah istilah itu beredar, 25% startup di batch Y Combinator melaporkan bahwa codebase mereka hampir 95% dihasilkan oleh AI. Vibe coding bukan lagi eksperimen; ia menjadi cara nyata orang membangun software.
Lalu muncul pertanyaan yang segera mengikuti: AI mana yang paling cocok untuk vibe coding? PCMag, salah satu media teknologi paling lama beroperasi, melakukan pengujian langsung dan hasilnya cukup mengejutkan bagi banyak orang — mereka memilih ChatGPT. Tapi ceritanya tidak sesederhana itu.
Apa yang Sebenarnya Dimaksud dengan Vibe Coding?
Sebelum membahas rivalitas dua AI raksasa ini, penting untuk memahami dulu apa yang sedang kita bicarakan. Vibe coding adalah pendekatan pengembangan software di mana pengguna mengekspresikan niatnya menggunakan bahasa natural sehari-hari, dan AI mengubah maksud tersebut menjadi kode yang dapat dijalankan.
Artinya: kamu tidak perlu tahu Python, JavaScript, atau bahasa pemrograman apapun. Kamu cukup berkata, "buatkan saya aplikasi to-do list dengan tampilan bersih dan mode gelap," lalu AI yang mengeksekusi. Karpathy sendiri menggambarkannya sebagai kondisi di mana seseorang "sepenuhnya menyerahkan diri pada vibes, merangkul eksponensial, dan lupa bahwa kode itu bahkan ada."
Tren ini tumbuh dengan cepat. Dalam satu tahun sejak istilah ini pertama kali muncul, pendekatan ini telah digunakan oleh 92% developer Amerika Serikat setiap harinya, dan 41% dari seluruh kode yang ditulis di 2024 diklaim dihasilkan oleh AI — mencapai 256 miliar baris kode.
Ini bukan tren pinggiran. Ini adalah pergeseran besar dalam cara dunia menulis software.
Temuan PCMag: ChatGPT Menang untuk Pengguna Kasual
Kembali ke pertanyaan awal: mana yang lebih baik antara ChatGPT dan Claude untuk vibe coding?
PCMag melakukan pengujian langsung menggunakan keduanya, lalu menyimpulkan bahwa ChatGPT lebih unggul — setidaknya dari perspektif pengalaman pengguna umum. Kesimpulan PCMag: "Saya melakukan vibe coding dengan keduanya, dan yang terakhir (ChatGPT) adalah alat yang lebih baik sekarang. Ia menyebabkan lebih sedikit sakit kepala dan menghasilkan hasil yang lebih dapat diandalkan."
Argumentasi di balik temuan ini bukan semata soal kualitas kode. Mashable, dalam pengujian terpisah menggunakan GPT-5, Claude Opus 4.1, dan Grok 4, menemukan bahwa untuk pemula tanpa latar belakang pemrograman, kemudahan pengalaman menjadi faktor penentu. Premis vibe coding adalah bahwa di masa depan, kamu tidak perlu tahu cara memprogram sama sekali untuk "menciptakan" software — kamu hanya perlu tahu cara mengkomunikasikan ide dalam bahasa Inggris biasa, dan AI akan melakukan semua pemrograman dan debugging untukmu.
Dalam konteks tersebut, ChatGPT memang punya keunggulan yang terasa nyata:
- Antarmuka yang lebih familiar bagi pengguna umum
- Respons yang lebih cepat untuk prototipe sederhana
- Tidak terlalu banyak bertanya balik sebelum menulis kode
- Integrasi image generation langsung di dalam platform yang sama
Untuk seseorang yang ingin membuat halaman web sederhana, script kecil, atau aplikasi satu halaman dalam waktu singkat, ChatGPT memang terasa lebih frictionless.
Tapi Data Riset Bercerita Lain untuk Proyek Kompleks
Di sinilah narasi mulai membelah. Ketika standar penilaiannya bergeser dari "mudah digunakan untuk pemula" ke "paling andal untuk proyek nyata," hasil perbandingannya berubah signifikan.
Claude adalah pilihan terbaik jika kamu membangun sesuatu dengan kompleksitas nyata — dashboard, aplikasi multi-halaman, atau integrasi API. Claude memiliki context window yang jauh lebih besar dibanding ChatGPT pada tier standar. Ini sangat penting dalam vibe coding karena percakapanmu dengan AI adalah codebase itu sendiri. Setiap file yang kamu paste, setiap iterasi yang kamu buat — Claude menyimpan semua itu jauh lebih lama dalam memori.
Ini bukan klaim kosong. Pada SWE-bench Verified — tolok ukur industri untuk mengevaluasi model AI pada tugas rekayasa software dunia nyata — Claude (Opus 4.6) mencapai 80,8%, sementara ChatGPT unggul di tugas multimodal seperti pembuatan gambar dan web search bawaan.
Tom's Guide, dalam pengujian mereka membandingkan ChatGPT-5 dengan Claude Sonnet 4 pada tugas coding, juga menemukan hasil yang berbeda dari PCMag. Mereka menyimpulkan bahwa Claude memberikan respons yang sangat detail dan terstruktur seperti seorang senior data scientist, sementara ChatGPT lebih generic dan basic. Claude memecah masalah menjadi komponen inti paling cepat sekaligus memberikan presentasi keseluruhan terbaik.
Sementara ChatGPT membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan kode, sering berhenti dan memulai ulang dari awal hanya untuk menghasilkan respons biasa-biasa saja, serta kurang kedalaman dan spesifisitas dibanding Claude.
Dua Tool, Dua Use Case yang Berbeda
Gambar yang lebih jujur dari perbandingan ini bukan "siapa yang lebih baik secara absolut," tetapi "siapa yang lebih baik untuk apa."
Alur kerja developer sering menggabungkan keduanya: ChatGPT untuk prototyping cepat dan tugas-tugas terkait UI, lalu Claude untuk reasoning mendalam dan kode siap produksi. Pendekatan ini bekerja sangat baik untuk alur kerja vibe coding di mana kamu membangun aplikasi melalui deskripsi bahasa natural.
Dengan kata lain:
- ChatGPT lebih cocok untuk: prototipe cepat dalam satu sesi, tugas satu kali (one-off script), analisis data sederhana, pengguna yang butuh image generation dalam alur yang sama, dan pemula yang baru pertama kali mencoba vibe coding.
- Claude lebih cocok untuk: proyek multi-halaman, sesi coding panjang yang butuh konsistensi memori, integrasi dengan IDE seperti Cursor atau Windsurf, dan mereka yang ingin menghasilkan kode yang lebih bersih dan mudah diperluas.
Zapier, dalam perbandingan komprehensif terbaru mereka, menyimpulkan: pilih Claude jika kamu menginginkan mitra sparring untuk proyek kreatif — menulis, coding, atau brainstorming. Keunggulan coding Claude semakin sulit diabaikan: Claude Code kini menjadi alat coding agentic paling populer di antara developer profesional dan perusahaan.
Bahaya yang Tidak Banyak Dibicarakan: Keamanan Kode AI
Perdebatan ChatGPT vs Claude untuk vibe coding seringkali melewatkan satu isu yang jauh lebih kritis: terlepas dari siapa pemenangnya, kode yang dihasilkan AI — dari alat mana pun — memiliki masalah keamanan sistemik yang serius.
Veracode menguji lebih dari 100 model bahasa besar pada tugas coding yang sensitif terhadap keamanan dan menemukan bahwa 45% sampel kode yang dihasilkan AI mengandung kerentanan OWASP Top 10 — tingkat kegagalan yang tidak mengalami peningkatan di berbagai siklus pengujian dari 2025 hingga awal 2026.
Angka 45% ini bukan statistik abstrak. Apiiro melaporkan bahwa developer yang dibantu AI mengirimkan kode tiga hingga empat kali lebih cepat — tapi menghasilkan temuan keamanan sekitar 10 kali lebih banyak. Harness melaporkan dalam survei State of Software Delivery 2025 bahwa 67% developer menghabiskan lebih banyak waktu untuk men-debug kode yang dihasilkan AI dibanding sebelum mengadopsi alat AI coding.
Lebih mengkhawatirkan lagi: penelitian dari Carnegie Mellon University menemukan bahwa meskipun 61% kode yang dihasilkan AI berfungsi dengan benar, hanya 10,5% yang lolos review keamanan. Kurang dari 11 dari setiap 100 potongan kode yang dihasilkan AI memenuhi standar keamanan dasar.
Ini adalah realita yang perlu dihadapi oleh siapa pun yang ingin serius dengan vibe coding. Kecepatan membangun tidak otomatis berarti kualitas yang bisa diandalkan.
Apa Artinya Semua Ini Bagi Pengguna Non-Developer?
Bagi sebagian besar pengguna di Indonesia yang mulai tertarik dengan vibe coding — para profesional, pemilik bisnis kecil, atau kreator konten yang ingin membuat tool sederhana untuk kebutuhan mereka — gambaran praktisnya adalah ini:
Mulai dengan ChatGPT jika kamu benar-benar baru. Antarmukanya familiar, responsnya cepat, dan untuk eksperimen awal membuat halaman web atau script sederhana, ia bekerja dengan sangat baik tanpa terlalu banyak friksi.
Beralih ke Claude ketika proyekmu tumbuh. Ketika kamu mulai bekerja dengan beberapa file, ketika percakapanmu dengan AI menjadi panjang, atau ketika kamu butuh kode yang akan kamu gunakan betulan — Claude memberikan konsistensi yang lebih baik dan kode yang lebih terstruktur.
Dan yang paling penting: apapun AI yang kamu gunakan, jangan langsung percaya kode yang dihasilkan tanpa review. Kecepatan adalah hadiah vibe coding; tapi keamanan dan keandalan tetap tanggung jawabmu sendiri.
Pada September 2025, Fast Company menyatakan bahwa "vibe coding hangover" telah tiba, dengan senior engineer mengutip istilah "development hell." Vibe coding yang dimulai sebagai cara untuk prototyping cepat dan proyek personal telah membentur realita ketika digunakan untuk produk yang sebenarnya.
Karpathy sendiri, sang penemu istilah tersebut, belakangan dilaporkan kembali menulis kode secara manual untuk proyek terbarunya. Bahkan pencipta "menyerahkan diri pada vibes" ternyata masih perlu kembali ke keyboard.
Pilih Alat, Bukan Hype
Debat ChatGPT vs Claude untuk vibe coding pada akhirnya bukan tentang siapa yang lebih pintar secara absolut. Keduanya sudah sangat maju. Yang lebih relevan adalah pertanyaan: untuk pekerjaan apa, dan dengan harapan apa?
PCMag benar bahwa ChatGPT menawarkan pengalaman yang lebih mulus untuk banyak kasus penggunaan umum. Tapi "lebih sedikit sakit kepala di awal" tidak selalu berarti "lebih baik secara keseluruhan" ketika proyekmu berkembang.
Yang lebih penting dari memilih AI mana pun adalah memahami apa yang kamu hadapi. Vibe coding adalah demokratisasi nyata dari pembuatan software — tapi ia datang dengan trade-off yang nyata. Kode yang tidak dipahami adalah kode yang tidak bisa diperbaiki.
Ingat: Vibe coding bukan tentang menyerahkan kendali sepenuhnya kepada AI. Ia tentang berkolaborasi lebih cerdas — dan itu tetap membutuhkan manusia yang bertanya pada tempat yang tepat.
Referensi & Resources:
- PCMag: "Want to Vibe Code? Use ChatGPT Instead of Claude" — https://au.pcmag.com/ai/117783/want-to-vibe-code-use-chatgpt-instead-of-claude
- IBM Think: "What is Vibe Coding?" — https://www.ibm.com/think/topics/vibe-coding
- Veracode GenAI Code Security Report 2025 — https://www.baytechconsulting.com/blog/ai-vibe-coding-security-risk-2025
- VibeStack: "Vibe coding with Claude vs ChatGPT" — https://www.vibestack.in/blog/vibe-coding-claude-vs-chatgpt
- Cloud Security Alliance Research Note — https://labs.cloudsecurityalliance.org/research/csa-research-note-ai-generated-code-vulnerability-surge-2026/
- Zapier: "Claude vs. ChatGPT: Which is best? [2026]" — https://zapier.com/blog/claude-vs-chatgpt/
- OX Security: "Vibe Coding Security: Why 62% Of AI-Generated Code Ships With Vulnerabilities" — https://www.ox.security/blog/vibe-coding-security/