Februari 2025. Andrej Karpathy — mantan direktur AI di Tesla dan salah satu pendiri OpenAI — menulis sebuah post pendek di X yang kemudian dilihat lebih dari 4,5 juta kali. Isinya: ada cara baru dalam membuat software, yang ia sebut vibe coding. "Fully give in to the vibes, embrace exponentials, and forget that the code even exists," tulisnya (Klover.ai, 2025).
Satu post. Empat juta lebih views. Dan tiba-tiba semua orang ingin jadi developer tanpa belajar coding.
Delapan bulan kemudian, Collins Dictionary menetapkan "vibe coding" sebagai Word of the Year 2025 (News on Air, 2025). Di media sosial, klaim penghasilan dari vibe coding bertebaran — ada yang mengaku $600 per bulan, ada yang mengklaim sudah membangun micro-SaaS dengan monthly recurring revenue ribuan dolar. Konten-konten ini ratusan ribu kali ditonton.
Pertanyaannya bukan lagi "apa itu vibe coding?" — pertanyaannya adalah: siapa yang sebenarnya bisa menghasilkan uang dari ini, dan siapa yang sekadar menonton konten motivasi di tengah malam sambil berharap satu prompt bisa mengubah nasib?
Vibe Coding Bukan Sulap — Tapi Bukan Juga Bohong
Konsepnya sederhana secara teori: kamu mendeskripsikan apa yang ingin kamu buat dalam bahasa Inggris biasa, lalu AI — Cursor, Claude, Lovable, Bolt.new, atau sejenisnya — yang menulis kodenya. Kamu tidak perlu tahu sintaks Python atau memahami arsitektur backend. Kamu cukup mengarahkan, memeriksa hasil, dan mengulang prosesnya.
Dan ini bukan sekadar klaim. Pencarian untuk istilah "vibe coding" meledak 6.700% sepanjang 2025, dan sekitar 25% dari batch terbaru Y Combinator menggunakan AI untuk menghasilkan lebih dari 95% kode mereka. Ini bukan eksperimen pinggiran — ini sudah jadi cara nyata startup membangun produk.
Priscilla Tina, seorang product manager berusia 28 tahun di San Francisco, membuktikannya. Ia membangun prototipe aplikasi kartu pos bernama "Postcard Press" dalam empat jam menggunakan Claude, lalu meluncurkannya secara online pada akhir 2025 dengan harga $2 per kartu pos yang dikirim. Dalam tiga bulan pertama, sekitar 100 orang telah menggunakannya, dan reel Instagram-nya tentang aplikasi itu ditonton lebih dari 80.000 kali.
Justine Chang, yang meninggalkan karir software engineering untuk membangun bisnis bimbingan belajar bersama istrinya di Singapura, membangun alat internal menggunakan AI yang kini menangani invoice, komunikasi dengan orang tua murid, hingga umpan balik siswa. "Tidak ada yang ingin membakar SG$1.000 setiap bulan untuk token AI. Tapi saya pikir sangat penting untuk merasakan bagaimana AI bekerja dan bagaimana AI berpikir," katanya.
Kisah-kisah seperti ini nyata. Tapi kisah yang tidak sepopuler itu juga nyata.
Ketika "Berhasil" Tidak Sama dengan "Aman"
Di sinilah masalahnya: vibe coding itu nyata. Tapi fantasi di sekelilingnya adalah bagian yang bermasalah. Internet mengambil sesuatu yang berguna, menempelkan janji neon di atasnya, membuang bagian-bagian menjengkelkan seperti testing, pemeliharaan, dukungan, dan distribusi, lalu menjual jalan pintasnya kembali kepada orang-orang yang lelah, bergaji rendah, dan sejujurnya hanya berharap satu ide bagus bisa membantu mereka bernapas sedikit lebih lega.
Data keamanan yang muncul belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Sebuah analisis CodeRabbit pada Desember 2025 terhadap 470 pull request open-source di GitHub menemukan bahwa kode yang ditulis bersama AI mengandung sekitar 1,7 kali lebih banyak isu "major" dibandingkan kode yang ditulis manusia.
Lebih jauh lagi, sebuah firma keamanan bernama Tenzai membangun 15 aplikasi identik menggunakan lima alat vibe coding populer — Claude Code, OpenAI Codex, Cursor, Replit, dan Devin. Hasilnya: 69 kerentanan di seluruh aplikasi tersebut, enam di antaranya bersifat kritis.
Ini bukan soal code yang jelek secara estetika. Ini soal database yang bisa diakses publik, API key yang tertanam langsung di source code, dan logika autentikasi yang lolos di semua testing tapi gagal ketika seseorang dengan niat buruk mulai mencari celah.
Aplikasi Quittr — yang pernah menerima sebutan dari Oprah dan mengklaim pendapatan $1 juta — ternyata memiliki database Firebase yang bisa dibaca publik. Kerentanannya tidak terlihat dari luar. Ia bekerja dengan baik. Kodenya terlihat bersih. Tapi fondasi keamanannya berlubang.
Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Engineer senior — orang-orang yang sebenarnya bisa mengevaluasi apa yang AI hasilkan — melaporkan peningkatan produktivitas hingga 81%. Ini angka yang luar biasa. Tapi perhatikan kata kuncinya: mengevaluasi.
Menurut Stack Overflow Developer Survey 2025, 84% responden menggunakan atau berencana menggunakan alat AI dalam proses pengembangan mereka, naik dari 76% tahun sebelumnya. Dan 51% developer profesional menggunakan alat AI setiap hari. Tapi di survei yang sama, keluhan terbesar yang dikutip oleh 66% developer adalah berurusan dengan "solusi AI yang hampir benar, tapi tidak sepenuhnya." Ini berujung pada frustrasi kedua terbesar: debugging kode yang dihasilkan AI terasa lebih memakan waktu bagi 45% developer.
Artinya: bahkan di tangan programmer berpengalaman, vibe coding bukan jalan tanpa hambatan. Ia adalah leverage yang bekerja proporsional dengan kemampuan aslinya untuk mengevaluasi output.
Bagi non-developer yang ingin membangun side hustle, ini penting untuk dipahami. Pricing yang umum untuk landing page yang dibangun secara vibe coding berada di kisaran $300–$800 untuk freelancer baru. Karena AI mempercepat proses pembuatan, effective hourly rate jauh lebih tinggi dari yang terlihat di atas kertas. Tapi nilai sesungguhnya ada pada pemahaman tentang konversi, pesan, dan audiens klien — bukan hanya kemampuan membangun secara teknis.
Dengan kata lain: yang menghasilkan uang bukan yang paling cepat membuat aplikasi, tapi yang paling paham masalah apa yang perlu dipecahkan dan untuk siapa.
Agentic Engineering: Vibe Coding Sudah Ketinggalan Zaman?
Menariknya, Karpathy sendiri sudah bergerak melampaui istilah yang ia ciptakan. Pada Februari 2026, tepat setahun setelah menciptakan istilah "vibe coding", Karpathy menulis bahwa LLM sudah jauh lebih cerdas, sehingga vibe coding kini sudah usang. "Pemrograman melalui agen LLM semakin menjadi alur kerja default bagi para profesional, dengan pengawasan dan pemeriksaan yang lebih ketat," tulisnya. Ia menyebut istilah barunya: 'agentic engineering' — 'agentic' karena 99% waktu kamu tidak menulis kode secara langsung, tapi mengatur agen yang melakukannya sambil bertindak sebagai pengawas.
Ini pergeseran yang signifikan secara filosofis. Dari "lupakan bahwa kode itu ada" menjadi "kamu harus memahami cukup untuk mengawasi agen yang membuatnya." Dari menyerah pada vibes ke engineering yang sesungguhnya — hanya dengan tools yang berbeda.
Ini relevan bagi siapa pun yang ingin masuk ke ekosistem ini secara serius. Jika tujuannya hanya membangun prototipe untuk demo atau kebutuhan internal yang sederhana, vibe coding bekerja dengan baik. Tapi jika tujuannya adalah membangun produk yang dibayar orang lain, yang bertahan dalam jangka panjang, dan yang tidak menjadi berita buruk keamanan — maka pemahaman teknis yang cukup tetap diperlukan.
Cara Masuk yang Realistis
Lantas, bagaimana cara masuk yang tidak naif tapi juga tidak terlalu pesimis?
Pertama, mulai dari masalah yang kamu sendiri alami. Micro-SaaS yang berhasil bukan dibangun oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang industrinya — ia dibangun oleh seseorang yang frustasi dengan problem nyata dan memiliki akses ke solusinya. Contoh konkret: vibe coder yang membangun sistem pemesanan appointment untuk klinik gigi mengenakan biaya $3.000 per setup plus $300 per bulan. Dengan delapan klien, itu berarti $2.400 per bulan recurring ditambah $24.000 dalam setup fee di tahun pertama. Ia bisa melakukan ini bukan karena ia programmer andal, tapi karena ia paham kebutuhan industri tersebut.
Kedua, jangan skip testing dan keamanan dasar. Ini bukan urusan developer saja. Jika kamu ingin menjual produk kepada orang lain dan mengambil data mereka, kamu punya tanggung jawab hukum dan etis. Setidaknya pelajari: bagaimana menyimpan variabel lingkungan dengan benar, bagaimana sistem autentikasi bekerja, dan bagaimana cara me-review kode AI sebelum deploy.
Ketiga, anggap AI sebagai junior developer, bukan bos. Vibe coding tools bisa membangun demo dalam hitungan menit. Masalah muncul ketika kamu mencoba mengirimkan kode itu ke pengguna nyata, memeliharanya selama berbulan-bulan, atau menskalakan ke tim yang lebih besar. Kamu tetap perlu menjadi manajer yang tahu apa yang sedang dikerjakan dan bagaimana mengevaluasinya.
Ini Bukan Tentang Coding — Ini Tentang Problem-Solving
Pada akhirnya, vibe coding adalah alat demokratisasi yang nyata dan signifikan. Ia benar-benar menurunkan barrier untuk membuat software. Tapi barrier yang diturunkan bukan barrier kompetensi — ia adalah barrier teknis dalam menuliskan sintaks.
Kompetensi yang sesungguhnya — memahami masalah pengguna, merancang solusi yang bisa dipercaya, membangun kepercayaan pasar — itu tidak bisa di-prompt ke AI.
AI membuat pembuatan ide menjadi lebih murah. Tapi ia tidak membuat kepercayaan menjadi otomatis. Ia tidak membuat pengguna menjadi setia. Dan ia tidak membuat sebuah tool yang membosankan menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Yang berhasil dalam ekosistem ini bukan yang paling cepat belajar prompt engineering. Yang berhasil adalah yang sudah punya masalah untuk dipecahkan, audiens yang sudah mereka pahami, dan cukup kesabaran untuk membangun sesuatu yang benar-benar berguna — bukan sekadar viral untuk tiga minggu.
Ingat: Tools berubah setiap kuartal. Problem manusia tidak.
Referensi & Resources:
- Stack Overflow Developer Survey 2025: https://survey.stackoverflow.co/2025/ai/
- Andrej Karpathy — Asal Usul Vibe Coding: https://www.klover.ai/andrej-karpathy-vibe-coding/
- Collins Dictionary Word of the Year 2025: https://www.newsonair.gov.in/vibe-coding-named-collins-dictionarys-word-of-the-year-2025/
- Karpathy: "Vibe Coding is Passé" — The New Stack (Feb 2026): https://thenewstack.io/vibe-coding-is-passe/
- Risiko Keamanan Vibe Coding — Medium (Mar 2026): https://medium.com/@uday.devworks/is-vibe-coding-harmful-complete-guide-to-risks-security-issues-best-practices-7aa4564c519d
- Cara Menghasilkan Uang dari Vibe Coding 2026 — claw.mobile: https://claw.mobile/blog/make-money-vibe-coding-2026
- Business Insider: Everyone Now Has the Keys to the Side Hustle Kingdom: https://www.aol.com/everyone-now-keys-side-hustle-090001208.html