BI Buka Opsi Penyesuaian Bunga, Proyeksi Rate 6%-6,25%
BI menyatakan kebijakan bunga bergantung pada data, sementara ekonom Permata memperkirakan kenaikan hingga 6,25% jika tekanan rupiah memburuk.

Foto: Matheus Natan / Pexels
Bank Indonesia belum menutup kemungkinan menyesuaikan suku bunga acuan, dengan keputusan bergantung pada data ekonomi serta kondisi global dan pasar keuangan. Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan hal itu kepada media di Jakarta, Kamis (29/10/2026), sehari setelah BI menahan suku bunga pada Oktober.
Destry mengatakan BI memiliki instrumen lain selain suku bunga untuk menjaga stabilitas moneter dan rupiah. Instrumen yang disebut mencakup insentif biaya lindung nilai, kebijakan makroprudensial, serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Penyesuaian bunga SRBI untuk menarik modal asing juga akan mempertimbangkan kondisi pasar.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai BI berpeluang menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 6,00% pada November atau Desember 2026. Proyeksi itu bergantung pada tekanan rupiah dan kemungkinan Federal Reserve menaikkan bunga pada Desember. Jika tekanan memburuk, kenaikan kumulatif 50 basis poin hingga 6,25% dapat dipertimbangkan.
Skenario lebih ketat dikaitkan dengan tekanan rupiah, penjualan SBN berkelanjutan oleh investor asing, penurunan cadangan devisa, serta kenaikan ekspektasi inflasi. Bunga yang lebih tinggi dapat mendukung stabilitas rupiah, tetapi pengetatan berlebihan berisiko menaikkan biaya modal kerja, menahan ekspansi perusahaan, dan memperlambat penciptaan lapangan kerja.





