News Update
Nasional

Minyak Brent di Atas US$116, Tekanan APBN Bisa Capai Rp225 Triliun

Harga minyak dan pelemahan rupiah menambah risiko beban fiskal 2026; ekonom memperkirakan tekanan APBN dapat mencapai Rp225 triliun jika berlanjut setahun.

Memuat gambar...
Minyak Brent di Atas US$116, Tekanan APBN Bisa Capai Rp225 Triliun

Foto: Rafael Minguet Delgado / Pexels

Harga Brent bertahan di atas US$116 per barel pada Selasa (27/10/2026), sementara rupiah melemah 0,12% ke Rp18.156 per dolar AS. Keduanya melampaui asumsi APBN 2026: ICP US$70 dan kurs Rp16.500 per dolar AS.

Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman memperkirakan tambahan beban APBN sekitar Rp225 triliun jika tekanan harga minyak, kurs, dan suku bunga berlangsung setahun. Untuk periode sekitar empat bulan, perkiraannya sekitar Rp80 triliun. Pemerintah disebut perlu mengantisipasi kebutuhan subsidi dan kompensasi energi.

Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan subsidi energi bertambah Rp55 triliun-Rp60 triliun jika minyak bertahan US$100 per barel dan kurs rata-rata Rp18.000 sepanjang 2026. Kondisi itu dapat mendorong defisit mendekati batas 3% PDB.

Tekanan biaya energi dan pelemahan rupiah juga berisiko membuat bahan baku impor lebih mahal, menekan margin usaha serta daya beli. Implikasinya bagi pasar mencakup ruang fiskal yang lebih sempit dan potensi tekanan pada inflasi serta pertumbuhan ekonomi.

Berita lainnya