Senin, 26 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di 5.373, turun 66,16 poin atau 1,22%. Menurut Bloomberg Technoz, tekanan datang dari investor asing yang melanjutkan penjualan: net sell (penjualan bersih) Rp2,02 triliun di pasar reguler dan Rp1,85 triliun di seluruh pasar. Secara hitungan, selisih sekitar Rp0,17 triliun berarti segmen di luar pasar reguler mencatat pembelian bersih.
Dua saham perbankan memperlihatkan bahwa arus ini tidak seragam. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi saham yang paling banyak dilepas asing, Rp400,02 miliar, tetapi harganya naik 0,26% ke Rp3.910 per saham. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) justru dibeli bersih asing Rp40,8 miliar, dan harganya naik 3,43% ke Rp1.055. Tulisan ini menelusuri apa yang mendorong penjualan asing, apa yang sudah dilakukan regulator dan Bank Indonesia, dan hal apa yang belum terjawab.
Sepuluh hari setelah pengumuman MSCI
Penjualan 26 Oktober adalah ujung dari rangkaian yang bermula pada pertengahan bulan. Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks global yang dipakai banyak dana investasi sebagai acuan, membuka konsultasi publik pada Kamis, 15 Oktober 2026, menurut KabarBursa. Isinya usulan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market, kategori yang di dalamnya antara lain ada Argentina, Nigeria, dan Ukraina. KabarBursa menulis bahwa usulan itu berangkat dari kekhawatiran investor institusional soal transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi.
Usulan itu belum menjadi keputusan. Konsultasi berjalan sampai 30 April 2027 dan keputusan dijadwalkan Juni 2027. Pasar tidak menunggu sebanyak itu.
| Tanggal | Kejadian | Sumber |
|---|---|---|
| 15 Oktober 2026 | IHSG ditutup di 5.863,78, turun 1,33% | Republika |
| 16 Oktober 2026 | Dibuka turun 8,01% ke 5.393,92; BEI menghentikan perdagangan sementara pukul 08.58 | KabarBursa, BEI |
| 16 Oktober 2026 | Penutupan sesi I turun 10,76% ke 5.233 | iNews |
| 12 sampai 16 Oktober 2026 | IHSG pekanan ditutup di 5.185,105 dari 6.093,759 | BEI, dikutip KabarBursa |
| 26 Oktober 2026 | IHSG ditutup di 5.373, turun 1,22% | Bloomberg Technoz |
Dengan penutupan 5.373, indeks masih sekitar 8,4% di bawah level 15 Oktober. Tekanan ini juga berjalan di atas tren yang sudah panjang. Investortrust, mengutip data BEI, melaporkan IHSG turun 28,34% dari awal Januari sampai 24 Juli 2026. BEI mencatat net sell asing sepanjang 2026 mencapai Rp88,19 triliun per 16 Oktober 2026.
Asing menjual saham besar, harga tidak selalu ikut turun
Investortrust (24 Juli 2026) mencatat kepemilikan asing terkonsentrasi di saham berkapitalisasi besar dengan free float tinggi, yaitu porsi saham yang beredar di publik dan bebas diperdagangkan. Saham jenis itu paling mudah dijual dalam jumlah besar, dan BMRI termasuk di dalamnya.
Kasus BMRI pada 26 Oktober menunjukkan satu hal yang bisa diperiksa. Aliran jual Rp400,02 miliar tidak menurunkan harga, jadi ada pembeli lain yang menyerapnya. Sumber yang diperiksa tidak merinci siapa pembelinya, sehingga penulis tidak bisa menyebut apakah itu investor domestik atau institusi tertentu.
Mekanisme yang lebih besar patut dipahami. Dana pasif atau dana indeks yang mengacu ke indeks emerging market MSCI hanya boleh memegang saham dari negara yang ada di indeks itu. Bila Indonesia keluar dari kategori tersebut, dana semacam itu harus melepas, dan sebagian investor mungkin mendahuluinya. Belum ada estimasi resmi, dalam sumber yang diperiksa, tentang besar dana pasif yang terdampak. Karena itu angka penjualan hari ini belum bisa dibaca sebagai ukuran dampak reklasifikasi.
Soal BRIS, net buy Rp40,8 miliar jauh lebih kecil daripada penjualan di BMRI. Data satu hari belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pembelian asing itulah yang mengangkat harga 3,43%.
Respons kebijakan: mengubah cara IHSG dihitung
BEI bergerak pada Senin, 19 Oktober 2026. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengumumkan dua inisiatif, menurut Investortrust dan Republika. Pertama, publikasi pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih akan memuat keterangan afiliasi. Kedua, 80 saham berkategori high shareholding concentration (HSC), atau konsentrasi kepemilikan tinggi, akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG. Bobot gabungannya sekitar 18% terhadap indeks.
Saham HSC tidak di-delisting. Mereka tetap diperdagangkan, hanya pergerakan harganya tidak lagi memengaruhi IHSG. Republika menulis bahwa BEI akan mengumumkan waktu efektifnya kemudian. Kontan menambahkan bahwa BEI akan menyesuaikan pembagi indeks, sehingga pengeluaran itu tidak otomatis menaikkan atau menurunkan IHSG pada hari penerapannya. Jeffrey juga menyebut Hong Kong menerapkan praktik serupa untuk saham HSC.
Pandangan atas langkah ini terbelah. Bisnis.com menulis bahwa pengeluaran saham HSC berpotensi membuat IHSG lebih stabil. Kontan mengingatkan sisi lainnya: pemegang saham HSC perlu mewaspadai tekanan jual dari penyesuaian portofolio dan produk investasi berbasis IHSG. Bisnis.com juga mencatat keterkejutan regulator dan pelaku pasar atas langkah MSCI, karena reformasi OJK dan BEI sudah berjalan beberapa bulan. Di sisi lain, FTSE Russell, menurut Bisnis.com, mempertahankan status Indonesia sebagai secondary emerging market dan mencabut Indonesia dari daftar pantauan per Oktober 2026.
Pemerintah dan Danantara menyatakan sikap yang sama. Pahala Mansury, Managing Director Danantara, menegaskan pada 19 Oktober 2026 bahwa lembaganya mendukung penegakan aturan oleh OJK dan akan terus berinvestasi di pasar modal (Investortrust). Pada awal 2026, pemerintah sudah mengumumkan percepatan demutualisasi BEI, yaitu pengubahan bursa dari organisasi milik anggota menjadi perseroan, dan rencana kenaikan free float oleh OJK (Bisnis.com, 30 Januari 2026).
BI menahan bunga, arah dana asing berbeda per instrumen
Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) memutuskan pada 21 Oktober 2026 mempertahankan BI-Rate di 5,75%. Keputusan itu berbeda dari perkiraan mayoritas ekonom. Survei BIG Consensus Insights yang dikutip Bisnis.com (20 Oktober 2026) menunjukkan 57,14% responden memperkirakan kenaikan. BI menaikkan suku bunga Deposit Facility ke 5,00%, menurunkan giro wajib minimum (GWM) bank mulai November 2026, dan mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing, menurut rilis BI yang dikutip Kontan dan BCA Sekuritas. Alasan BI memilih menahan dibanding menaikkan tidak dirinci dalam sumber yang diperiksa, selain pernyataan bahwa langkahnya sejalan dengan stabilisasi rupiah.
Data BI memperlihatkan gambaran yang terpisah dari pasar saham. Pada triwulan III 2026, aliran investasi portofolio asing mencatat net outflow US$0,08 miliar, terutama dari saham. Tekanan keluar dari saham berlanjut pada Oktober, tetapi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), instrumen utang jangka pendek BI, dan Surat Berharga Negara (SBN) mencatat arus masuk. Hasilnya, sampai 19 Oktober 2026, triwulan IV mencatat net inflow US$0,66 miliar. Cadangan devisa akhir September 2026 sebesar US$146,3 miliar, setara 5,3 bulan impor.
Artinya, dana asing tidak serentak meninggalkan Indonesia. Di saham terjadi penjualan, di instrumen rupiah berpenghasilan tetap terjadi pembelian. Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz, dikutip Kontan, memperingatkan bahwa wacana reklasifikasi MSCI menambah risiko arus keluar dan membuka peluang BI-Rate naik ke 6,25% pada akhir 2026. BI sendiri sudah menaikkan BI-Rate 100 basis poin secara kumulatif pada Mei dan Juni 2026.

Dua pembacaan dan hal yang perlu dipantau
Pembacaan pertama: penjualan asing adalah penyesuaian atas risiko reklasifikasi, dan reformasi yang sedang dijalankan bisa meyakinkan MSCI sebelum konsultasi berakhir. Bila itu terjadi, tekanan jual yang berbasis kekhawatiran status akan mereda. Yang bisa membuat pembacaan ini salah:
- MSCI menilai reformasi belum cukup, dan keputusan Juni 2027 tetap menurunkan klasifikasi.
- Pengeluaran saham HSC dari IHSG memicu penjualan oleh dana berbasis indeks sebelum manfaat stabilitasnya terasa.
- Penjualan asing berlanjut karena sebab di luar MSCI, misalnya kenaikan risiko global yang juga disebut BI sebagai pendorong ketidakpastian.
Pembacaan kedua: penurunan IHSG sudah menyerap sebagian besar risiko, karena indeks turun 28,34% sepanjang 2026 per 24 Juli dan masih di bawah level sebelum pengumuman MSCI. Argumen ini lemah di satu titik: tidak ada data publik yang memastikan bahwa harga saat ini sudah memasukkan seluruh skenario penurunan klasifikasi.
Batas pengetahuan penulis: daftar sepuluh saham net sell terbesar yang dimuat Bloomberg Technoz tidak tersedia lengkap dalam bahan yang dipakai, sehingga hanya BMRI dan BRIS yang dibahas. Rincian pembeli domestik dan besar dana pasif yang terdampak belum ada di sumber publik yang diperiksa.
Yang perlu dipantau:
- Pengumuman tanggal efektif pengeluaran 80 saham HSC dari IHSG oleh BEI.
- Data net sell dan net buy asing harian di situs BEI, serta rilis perdagangan pekanan BEI setiap Jumat.
- Jadwal konsultasi MSCI sampai 30 April 2027 dan keputusan Juni 2027.
- Perbandingan arus asing di saham dengan arus di SRBI dan SBN pada rilis BI berikutnya.
- Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya, yang jadwalnya diumumkan di situs BI.
IHSG ditutup di 5.373 pada 26 Oktober 2026, dan keputusan MSCI baru jatuh delapan bulan lagi.
Referensi & Resources:
- Bloomberg Technoz, "Geliat Investor Asing Tekan IHSG" (26 Oktober 2026): https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/125821/geliat-investor-asing-tekan-ihsg
- KabarBursa, "BEI Buka Suara soal Trading Halt, MSCI Biang Keroknya?" (16 Oktober 2026): https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/bei-buka-suara-soal-trading-halt-msci-biang-keroknya
- KabarBursa, "Asing Borong GOTO di Tengah Trading Halt IHSG, Saham BBCA Paling Banyak Dilepas" (16 Oktober 2026): https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/asing-borong-goto-di-tengah-trading-halt-ihsg-saham-bbca-paling-banyak-dilepas
- Republika, "IHSG Anjlok, BEI Berlakukan Trading Halt" (16 Oktober 2026): https://ekonomi.republika.co.id/berita/tmza3q370/ihsg-anjlok-bei-berlakukan-trading-halt
- iNews/RCTI+, "IHSG Anjlok hingga 10,76 Persen, BEI Sempat Hentikan Perdagangan" (16 Oktober 2026): https://www.rctiplus.com/news/detail/inews/5495168/ihsg-anjlok-hingga-10-76-persen--bei-sempat-hentikan-perdagangan
- Investortrust, "Net Sell Saham Tembus Rp79 Triliun, IHSG Jadi Bursa Terlemah di ASEAN" (24 Juli 2026): https://investortrust.id/market/110661/net-sell-saham-tembus-rp79-triliun-ihsg-jadi-bursa-terlemah-di-asean
- Investortrust, "Bukan Delisting! BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari Perhitungan IHSG" (19 Oktober 2026): https://investortrust.id/market/119783/bukan-delisting-bei-keluarkan-80-saham-hsc-dari-perhitungan-ihsg
- Republika, "BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG" (20 Oktober 2026): https://ekonomi.republika.co.id/berita/tn6uez423/bei-keluarkan-80-saham-hsc-dari-ihsg
- Kontan, "BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG, Ini Saran untuk Investor": https://investasi.kontan.co.id/news/bei-keluarkan-80-saham-hsc-dari-ihsg-ini-saran-untuk-investor
- Bisnis.com, "Daftar 80 Saham HSC yang Bakal Keluar dari IHSG, Ini Efeknya" (20 Oktober 2026): https://market.bisnis.com/read/20261020/7/2014091/daftar-80-saham-hsc-yang-bakal-keluar-dari-ihsg-ini-efeknya
- Bisnis.com, "BEI Akan Melakukan Klarifikasi ke MSCI Hari Ini, Investor Menyusul" (19 Oktober 2026): https://market.bisnis.com/read/20261019/7/2013640/bei-akan-melakukan-klarifikasi-ke-msci-hari-ini-investor-menyusul
- Investortrust, "Danantara Tak Mundur! Investasi Pasar Modal Berlanjut di Tengah Tekanan MSCI" (19 Oktober 2026): https://investortrust.id/market/119787/danantara-tak-mundur-investasi-pasar-modal-berlanjut-di-tengah-tekanan-msci
- Bisnis.com, "Arahan Lengkap Prabowo Respons Ultimatum MSCI" (30 Januari 2026): https://market.bisnis.com/read/20260130/7/1948664/arahan-lengkap-prabowo-respons-ultimatum-msci-dari-rombak-bei-hingga-guyur-likuiditas
- Bisnis.com, "BIG Consensus Insights: Mayoritas Ekonom Proyeksi BI Rate Naik" (20 Oktober 2026): https://finansial.bisnis.com/read/20261020/11/2014274/big-consensus-insights-mayoritas-ekonom-proyeksi-bi-rate-naik
- Bisnis.com, "Breaking: Bank Indonesia Tahan BI Rate 5,75% pada RDG Oktober 2026" (21 Oktober 2026): https://finansial.bisnis.com/read/20261021/11/2014413/breaking-bank-indonesia-tahan-bi-rate-575-pada-rdg-oktober-2026
- Kontan, "BI Rate Oktober 2026 Tetap di Angka 5,75%" (rilis Bank Indonesia, 21 Oktober 2026): https://pusatdata.kontan.co.id/infografik/284/BI-Rate-Oktober-2026-Tetap-di-Angka-575
- BCA Sekuritas, "BI: Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia Terus Diperkuat" (21 Oktober 2026): https://bcasekuritas.co.id/latest-news/news/bi-kinerja-neraca-pembayaran-indonesia-terus-diperkuat
- Kontan, "BI Diproyeksi Kerek BI-Rate 25 bps pada RDG Oktober 2026" (18 Oktober 2026): https://nasional.kontan.co.id/news/bi-diproyeksi-kerek-bi-rate-25-bps-pada-rdg-oktober-2026
