Rupiah di Atas Rp18.000, Minyak US$115: Beban BI dan APBN

Brent bertahan di US$115,81 per barel dan rupiah offshore di Rp18.125. Dua angka itu menguji BI lewat suku bunga dan APBN lewat subsidi energi.

#rupiah #minyakmentah #bankindonesia #apbn #subsidienergi

Kreator Moco
7 menit baca
Memuat gambar...
Rupiah di Atas Rp18.000, Minyak US$115: Beban BI dan APBN

Pada Senin pagi, 26 Oktober 2026, pukul 07.20 WIB, rupiah di pasar offshore berada di Rp18.125 per dolar AS. Bloomberg Technoz mencatat pelemahannya terpangkas menjadi 0,07% dari 0,1% saat pembukaan awal pekan. Untuk perdagangan spot hari ini, rentang yang diperkirakan adalah Rp18.000 sampai Rp18.090, dengan bias melemah.

Pemicunya ada di luar negeri. Minyak Brent ditutup di US$116,79 per barel pada Jumat, 23 Oktober, lalu turun tipis ke US$115,81 pagi ini. Angka itu mendekati puncak April di US$118, sementara perang Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan jalan keluar.

Yang menarik, indeks dolar AS justru turun 0,1% ke 101,71 dan imbal hasil US Treasury ada di 4,99% (Bloomberg Technoz, 26 Oktober 2026). Dolar melemah, tetapi rupiah tidak ikut menguat. Itu petunjuk bahwa tekanan hari ini lebih datang dari minyak daripada dari dolar itu sendiri.

Dolar Turun, Rupiah Tetap Tertahan: Apa Artinya

Biasanya rupiah mendapat napas ketika indeks dolar melemah. Hari ini napas itu tidak datang. Pelaku pasar tampaknya menimbang harga minyak lebih berat daripada pergerakan dolar yang hanya 0,1%.

PDF page 1

Rupiah sendiri sudah lemah sebelum pekan ini. Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah di Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, melemah 0,61% dibanding akhir September (data BI yang dirangkum Kontan). Sejak awal tahun, rupiah sudah turun sekitar 7,9% menurut laporan IDN Financials per 21 Oktober.

Satu catatan soal pembacaan: angka NDF (Non-Deliverable Forwards, kontrak valas yang diselesaikan dalam bentuk tunai di luar negeri) sering dipakai sebagai petunjuk arah pembukaan pasar spot. Ia petunjuk, bukan kepastian, dan selisihnya dengan spot bisa menyempit atau melebar sepanjang hari.

Jalur dari Harga Minyak ke Nilai Tukar

Ada dua jalur utama. Pertama, impor energi dibayar dengan dolar AS, jadi harga minyak yang lebih tinggi menaikkan kebutuhan dolar di dalam negeri. Kedua, harga BBM bersubsidi ditahan pemerintah, sehingga selisih harga pasar dan harga jual ditanggung APBN, dan beban itu ikut mengubah penilaian investor terhadap kondisi fiskal.

Seberapa besar jalur pertama menekan rupiah hari ini tidak bisa dihitung dari data yang tersedia. Belum ada publikasi yang memisahkan porsi permintaan dolar untuk impor energi dari faktor lain seperti arus modal asing. Kita hanya bisa membaca arahnya, belum besarnya.

PDF page 2

Latar belakang kenaikan ini terdokumentasi. Menurut UNCTAD yang dikutip Bisnis.com, Brent berada di US$72,55 per barel pada 27 Februari 2026, sehari sebelum serangan rudal Israel dan AS ke Iran. Per 30 Maret harganya sudah US$113,42, setelah Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.

Bank Indonesia: Suku Bunga Ditahan, Insentif Dinaikkan

Dalam Rapat Dewan Gubernur 20 dan 21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI Rate di 5,75% dan Lending Facility di 6,50%. Deposit Facility, suku bunga yang diterima bank saat menempatkan dana di BI, dinaikkan 25 basis poin (bps) ke 5,00%. Sepanjang 2026, BI Rate sudah naik total 100 bps dari 4,75%, dan terakhir berubah pada Juni (Bisnis.com dan IDN Financials, 21 Oktober 2026).

Keputusan menahan ini tidak seragam dengan ekspektasi pasar. Survei Bloomberg menjelang rapat membelah ekonom hampir persis: 19 dari 38 memperkirakan kenaikan, 19 lainnya memperkirakan BI Rate tetap. Konsensus BIG Consensus Insights yang dikutip Bisnis.com condong ke kenaikan menjadi 6,00%, dan Kepala Ekonom Bank Danamon David Sumual bahkan melihat peluang BI Rate menuju 6,25% akhir tahun.

Argumen untuk menahan: inflasi tahunan September 3,28% (Databoks, 21 Oktober 2026) masih di dalam sasaran BI 2,5% plus minus 1%, dan kenaikan bunga lebih lanjut bisa menekan pertumbuhan yang pada kuartal II 2026 tercatat 5,29%. Argumen untuk menaikkan: rupiah yang terus melemah dan minyak yang belum turun. BI memilih jalan tengah lewat Deposit Facility, yang menurut pemberitaan IDN Financials ditujukan menarik modal asing dan mendalami pasar uang. BI juga menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bank mulai November 2026 (Kontan).

PDF page 3

Perangkat lain di luar bunga juga dipakai. Pada Agustus, BI menyatakan akan memperkuat intervensi lewat NDF di luar negeri, serta transaksi spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) di dalam negeri (RRI, 19 Agustus 2026).

APBN sebagai Peredam yang Mulai Terisi

Pemerintah menahan harga BBM bersubsidi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut tambahan anggaran subsidi energi sekitar Rp90 triliun sampai Rp100 triliun, di atas alokasi awal Rp210,1 triliun (Bisnis.com, April 2026). Defisit APBN 2026 ditargetkan 2,9% dari PDB, sedangkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN dipatok US$70 per barel.

Realisasinya sudah jauh dari asumsi itu. ICP September 2026 tercatat US$112,81 per barel, dan pembayaran subsidi serta kompensasi energi hingga September mencapai Rp376,8 triliun, setara 84,3% dari alokasi dan naik 54,1% dibanding tahun lalu (KabarBursa, 13 Oktober 2026).

Indikator Angka Sumber dan tanggal
Asumsi ICP APBN 2026 US$70/barel Fortune IDN, 1 April 2026
ICP September 2026 US$112,81/barel KabarBursa, 13 Oktober 2026
Subsidi dan kompensasi energi s.d. September Rp376,8 triliun KabarBursa, 13 Oktober 2026
Anggaran subsidi energi awal Rp210,1 triliun Bisnis.com, April 2026

Pandangan pemerintah dan ekonom berbeda soal daya tahannya. Pada 11 September, Purbaya menyatakan ruang fiskal masih ada karena rata-rata harga yang dibayar untuk asumsi APBN masih di bawah US$90, dan pemerintah belum menambah subsidi. Dari sisi lain, CORE Indonesia, seperti dikutip Bisnis.com, menghitung APBN 2026 masih kuat jika harga tahunan di kisaran US$80 sampai US$90. Ekonom UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mempertanyakan seberapa lama APBN bisa menanggung selisih harga ketika rupiah melemah dan reformasi ketepatan sasaran subsidi berjalan lambat.

PDF page 4

Kementerian Keuangan juga pernah menghitung sensitivitas anggaran: setiap kenaikan ICP US$1 per barel berpotensi menambah defisit hingga Rp6,8 triliun (Bisnis.com, 9 Maret 2026). Angka itu perkiraan awal tahun, dan belum ada publikasi terbaru yang menghitung ulang dengan harga US$115.

Dua Arah yang Bisa Terjadi

Pembacaan yang menopang tekanan rupiah: minyak bertahan di atas US$110, subsidi terus membengkak, dan BI harus menambah intervensi atau menaikkan bunga. Pada skenario itu, rupiah bisa tetap lemah meski dolar global jinak, seperti pagi ini.

Yang bisa membuat pembacaan itu keliru ada beberapa hal. Pertama, penyelesaian konflik AS dan Iran bisa menurunkan harga minyak cepat, dan rupiah biasanya ikut bernapas. Kedua, imbal hasil yang lebih tinggi lewat Deposit Facility bisa menarik arus masuk di pasar surat berharga. Ketiga, penurunan GWM dari November menambah likuiditas perbankan. Sebaliknya, pada 12 Oktober Brent ditutup naik 1,8% ke US$106,65 setelah serangan Houthi ke Arab Saudi (Reuters via KabarBursa), jadi risiko eskalasi yang mendorong minyak lebih tinggi juga nyata.

Yang Perlu Dipantau

PDF page 5

Bukan satu angka, tetapi hubungan antar-angka: harga Brent terhadap puncak April di US$118, realisasi subsidi energi terhadap alokasi, dan sikap BI pada rapat berikutnya. Belum ada data publik yang cukup untuk memastikan berapa lama APBN sanggup menahan harga BBM pada level minyak sekarang.

Yang perlu dipantau: laporan realisasi APBN bulan Oktober dari Kementerian Keuangan, hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan depan, posisi Brent relatif terhadap US$118, serta perkembangan perundingan AS dan Iran.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kebijakan Ekonomi Nasional: