DDMF: Rantai Pasok Kuat Dibutuhkan untuk Nilai Tambah Mineral Kritis
DDMF menilai investasi terkoordinasi, kemampuan domestik, dan rantai pasok tangguh diperlukan agar hilirisasi mineral kritis memberi nilai tambah lebih besar.

Foto: Los Muertos Crew / Pexels
PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menilai rantai pasok tangguh dan investasi terkoordinasi diperlukan agar pengolahan mineral kritis memberi nilai tambah optimal. Managing Director Development Investment DDMF M Rachmat Kaimuddin menyampaikan hal itu dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Data Kementerian Perindustrian yang dikutip menunjukkan bijih nikel senilai 30 dolar AS per ton dapat menjadi mixed hydroxide precipitate senilai 3.628 dolar AS per ton, sekitar 120 kali lipat. Pada tahapan produk baterai tertentu, kenaikan nilai tambah disebut dapat mencapai 642 kali.
Dewan Ekonomi Nasional memperkirakan ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS hingga akhir 2026, sekitar 45 persen di atas angka 2024 sebesar 34,5 miliar dolar AS. Kementerian ESDM memperkirakan kebutuhan baterai domestik 108,2 gigawatt-jam pada 2030.
Untuk mendukung target kendaraan listrik, kebutuhan kapasitas baterai diproyeksikan 780 gigawatt-jam, sementara kapasitas bahan baku yang tersedia setara 373 gigawatt-jam. Selisih 407 gigawatt-jam menjadi ruang investasi. Bagi pasar, paparan ini menyoroti peluang investasi dan penguatan industri, bukan informasi tentang pergerakan harga saham tertentu.
Sumber: Antara





