Sepanjang 2026 berjalan, rupiah rata-rata berada di Rp17.494 per dolar AS menurut data Bloomberg yang dikutip Bloomberg Technoz. Asumsi APBN 2026 memasang Rp16.500. Selisihnya Rp994, dan angka itu belum memuat pelemahan terbaru: pada Senin, 26 Oktober 2026, rupiah spot ditutup melemah 0,30% ke Rp18.135 per dolar AS (Kontan).
Di sisi lain, minyak brent rata-rata US$90,73 per barel dalam laporan yang sama, US$20,73 di atas asumsi harga minyak APBN sebesar US$70. Dua asumsi dasar meleset ke arah yang sama, dan keduanya punya tabel sensitivitas di Nota Keuangan. Pertanyaannya, berapa besar tambahan defisit yang sebenarnya ikut terdorong, dan apakah batas 3% terhadap PDB benar-benar terancam.
Hitungan Sensitivitas dari Nota Keuangan
Nota Keuangan APBN 2026 menghitung bahwa setiap pelemahan rupiah Rp100 menambah defisit Rp0,8 triliun. Untuk minyak, setiap kenaikan US$1 per barel menambah defisit Rp6,8 triliun. Angka minyak itu konsisten dengan penjelasan Kemenkeu yang dimuat Bisnis.com pada 20 April 2026, yang juga mencatat kenaikan US$1 per barel menambah belanja negara Rp10,3 triliun.
Dengan angka-angka tersebut, jejak sederhananya begini:
| Asumsi | APBN 2026 | Realisasi rata-rata | Selisih | Tambahan defisit |
|---|---|---|---|---|
| Kurs (Rp per US$) | 16.500 | 17.494 | 994 | Rp7,95 triliun |
| Harga minyak (US$ per barel) | 70 | 90,73 (brent) | 20,73 | sekitar Rp141 triliun |
Tambahan dari kurs sebesar Rp7,95 triliun dihitung Bloomberg Technoz. Angka minyak sekitar Rp141 triliun adalah hasil kali penulis (20,73 x Rp6,8 triliun). Bila keduanya dijumlahkan, totalnya sekitar Rp149 triliun. Kalau ditambahkan ke defisit awal Rp689,1 triliun (2,68% PDB menurut Kemenkeu), hasil kasarnya mendekati 3,3% PDB. Ini hitungan mentah, bukan proyeksi resmi, dan ada beberapa alasan mengapa hasil akhir bisa berbeda. Bagian berikutnya membahasnya.
Mengapa Angka Mentah Itu Belum Tentu Terjadi
Pertama, rumus sensitivitas mengunci semua variabel lain. Dalam praktiknya, harga minyak yang tinggi juga mengerek penerimaan negara. Bisnis.com (20 April 2026) mencatat kenaikan harga minyak dan depresiasi rupiah menambah beban subsidi dan pembayaran utang, tetapi sekaligus meningkatkan penerimaan dari pajak migas dan PNBP sumber daya alam. Berapa saldo bersihnya belum dirinci dalam kutipan yang tersedia.
Kedua, acuan harganya berbeda. Bloomberg memakai brent, sedangkan APBN memakai harga minyak mentah Indonesia (ICP). Menurut estimasi Kemenkeu yang dikutip Infobanknews, rata-rata ICP sampai Maret 2026 masih sekitar US$68 per barel, di bawah asumsi US$70, walau harga minyak dunia sempat menyentuh US$100. Dalam proyeksi lain yang dikutip investortrust.id, Direktur Penyusunan APBN Kemenkeu Rofyanto Kurniawan memperkirakan rata-rata ICP 2026 sekitar US$83 per barel. Tanggal paparannya tidak tercantum dalam kutipan yang saya baca. Kalau ICP rata-rata US$83, selisih dari asumsi adalah US$13, atau sekitar Rp88 triliun menurut sensitivitas Rp6,8 triliun per dolar. Angkanya jauh lebih kecil daripada hitungan memakai brent.
Ketiga, pemerintah punya bantalan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada 21 April 2026 menyatakan efisiensi belanja Rp150 triliun dan windfall komoditas yang dihitung bersama Kementerian ESDM cukup untuk menutup tekanan akibat minyak (Bisnis.com).
Apa Kata Kemenkeu dan Apa Kata Para Pengkritik
Gambaran resmi sejauh ini lebih tenang daripada hitungan mentah di atas. Berdasarkan outlook semester kedua, Kemenkeu memperkirakan defisit 2026 mencapai Rp734,3 triliun atau 2,85% PDB, dan angka itu disebut sebagai batas maksimal (Bisnis.com, 8 Juli 2026). Subsidi dan kompensasi diperkirakan membengkak sampai Rp132 triliun hingga akhir tahun, dengan kenaikan harga minyak sebagai pemicu utama.
Sebelumnya, angka yang beredar lebih tinggi. Pada 6 Maret 2026, Purbaya menyebut defisit bisa mencapai sekitar 3,6% PDB bila harga minyak rata-rata US$92 per barel dan tidak ada penyesuaian kebijakan (Kompas.tv). BCA Sekuritas memuat skenario serupa dengan angka 3,7%. Pada 1 April 2026, Purbaya menyebut defisit sekitar 2,9% bila minyak rata-rata US$100 setahun penuh (Bisnis.com). Perbedaan 3,6%, 3,7%, dan 2,9% itu bukan kontradiksi: skenarionya berbeda, terutama soal ada atau tidaknya penyesuaian belanja.
Sisi pengkritik menyoroti hal lain. Bisnis.com (8 Juli 2026) memuat peringatan tentang risiko kredibilitas fiskal, kekurangan penerimaan pajak, dan tekanan depresiasi rupiah yang bertahan. Menurut Industry.co.id, kekhawatiran investor terhadap disiplin fiskal ikut menekan rupiah, selain lonjakan minyak yang dipicu ketegangan Amerika Serikat dan Iran. Artinya, rupiah dan defisit saling menekan: kurs lemah memperbesar beban, sementara kekhawatiran defisit memperlemah kurs.
Realisasi sampai pertengahan tahun masih longgar. Defisit APBN per Mei 2026 tercatat Rp180,4 triliun atau 0,7% PDB, dengan pendapatan negara Rp1.185 triliun atau 37,6% dari target (Kemenkeu, dipaparkan 5 Juni 2026). Tekanan terbesar biasanya menumpuk di semester kedua, saat subsidi energi dibayar dan belanja menumpuk.
Jalur ke Pasar Modal
Defisit yang melebar berarti pemerintah perlu menerbitkan lebih banyak surat berharga, dan kurs yang lemah menekan emiten dengan utang atau bahan baku dalam dolar. Di sisi lain, emiten komoditas yang menjual dalam dolar cenderung mendapat selisih kurs yang menguntungkan. Pembacaan ini mekanisme umum, bukan klaim tentang emiten tertentu, dan tidak semua jalur terkonfirmasi dalam data terbaru.
Risikonya dua arah. Bila minyak mereda dan efisiensi Rp150 triliun terealisasi, defisit bisa berakhir mendekati outlook 2,85%. Bila minyak bertahan tinggi, subsidi membengkak dan kurs terus melemah, ruang di bawah 3% menyempit, dan pemerintah harus memilih antara memangkas belanja, menaikkan harga BBM, atau mengubah target.
Batas Pengetahuan dan Yang Perlu Dipantau
Ada dua hal yang belum bisa dipastikan. Bloomberg Technoz menyebut defisit APBN 2026 dipatok Rp638,8 triliun, sedangkan Kemenkeu dalam outlook-nya menyebut Rp689,1 triliun (2,68% PDB). Selisih ini tidak dijelaskan di sumber mana pun yang saya baca, sehingga hitungan di atas memakai angka Kemenkeu. Selain itu, belum ada data publik yang memadai untuk menilai saldo bersih antara tambahan belanja dan tambahan penerimaan akibat minyak.
Yang perlu dipantau: laporan APBN KiTa bulanan Kemenkeu, terutama realisasi subsidi dan kompensasi; pembaruan outlook defisit di atas 2,85%; rata-rata ICP bulanan dari Kementerian ESDM, bukan hanya brent; serta apakah pemerintah mengumumkan penyesuaian belanja atau harga BBM.
Referensi & Resources:
- Bloomberg Technoz, "Rupiah Melemah, Minyak Melonjak, Defisit APBN Berisiko Tembus 3%": https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/126165/rupiah-melemah-minyak-melonjak-defisit-apbn-berisiko-tembus-3
- Kontan, "Rupiah Kembali Tertekan, Lonjakan Harga Minyak Berisiko Perlebar Defisit APBN" (26 Oktober 2026): https://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-kembali-tertekan-lonjakan-harga-minyak-berisiko-perlebar-defisit-apbn
- Bisnis.com, "Defisit APBN 2026 Bisa Sentuh 2,85%" (8 Juli 2026): https://ekonomi.bisnis.com/read/20260708/10/1986474/defisit-apbn-2026-bisa-sentuh-285-ada-risiko-kredibilitas-hingga-efisiensi-pembiayaan
- Bisnis.com, "Adu Kuat APBN Tahan Kenaikan Harga Energi" (20 April 2026): https://ekonomi.bisnis.com/read/20260420/10/1967805/adu-kuat-apbn-tahan-kenaikan-harga-energi
- Bisnis.com, "Purbaya: Efisiensi Rp150 Triliun Jadi Bantalan APBN Hadapi Harga Minyak" (22 April 2026): https://ekonomi.bisnis.com/read/20260422/10/1968353/purbaya-efisiensi-rp150-triliun-jadi-bantalan-apbn-hadapi-harga-minyak
- Bisnis.com, "Defisit APBN Diramal Melebar ke 2,9%" (1 April 2026): https://ekonomi.bisnis.com/read/20260401/9/1963761/defisit-apbn-diramal-melebar-ke-29-subsidi-energi-bisa-bengkak-rp100-triliun
- Kompas.tv, "Skenario Harga Minyak 92 Dolar AS/Barel" (7 Maret 2026): https://www.kompas.tv/ekonomi/655308/skenario-harga-minyak-92-dolar-as-barel-purbaya-defisit-bisa-tembus-3-6-persen
- BCA Sekuritas, ringkasan berita pelebaran defisit di atas 3%: https://bcasekuritas.co.id/en/latest-news/news/purbaya-buka-peluang-pelebaran-defisit-apbn-2026-di-atas-3-persen
- Infobanknews, "Purbaya Pastikan APBN 2026 Belum Direvisi": https://infobanknews.com/purbaya-pastikan-apbn-2026-belum-direvisi-meski-harga-minyak-naik/
- Investortrust.id, "Kemenkeu Proyeksi Rerata Harga Minyak 2026 di Angka US$83 per Barel": https://investortrust.id/macro/112028/kemenkeu-proyeksi-rerata-harga-minyak-2026-melambung-dari-asumsi-makro-di-angka-us-83-per-barel
- Investortrust.id, "Defisit APBN per Mei 2026 Capai Rp180,4 Triliun" (5 Juni 2026): https://investortrust.id/macro/105468/defisit-apbn-per-mei-2026-capai-rp-180-4-triliun-atau-0-7-dari-pdb
- Industry.co.id, "Lonjakan Harga Minyak Picu Tekanan Rupiah dan Kekhawatiran Defisit APBN": https://www.industry.co.id/read/148493/lonjakan-harga-minyak-picu-tekanan-rupiah-dan-kekhawatiran-defisit-apbn
