Peringatan Ancaman Iran Ikuti Lonjakan Brent ke US$116,72
Peringatan intelijen soal rencana serangan Iran terhadap warga AS muncul saat Brent ditutup di US$116,72 per barel, tertinggi sejak April.

Foto: hamdi Films / Pexels
Pejabat kedutaan AS di Timur Tengah meningkatkan kewaspadaan pada Jumat, 23 Oktober, setelah memo Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton memperingatkan Iran telah meningkatkan upaya menargetkan personel AS. Intelijen menilai rencana serangan berada pada tahap lanjut, menurut laporan yang dikutip CNBC.
Peringatan itu muncul setelah AS memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat meninggalkan Arab Saudi pada pekan tersebut. Washington juga memangkas personel di sejumlah kedutaan, menurut laporan Axios. Ketegangan terjadi di tengah perang AS-Iran yang mendekati bulan kedelapan dan serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Pada Jumat, Brent naik 3,1% dan ditutup di US$116,72 per barel, tertinggi sejak 29 April. WTI bertambah 3,8% menjadi US$103,27 per barel. Harga minyak juga menguat karena pelaku pasar memperkirakan AS dapat kembali menyerang Iran dalam beberapa pekan.
Pemerintahan Trump menyatakan serangan militer terhadap Iran akan ditunda hingga pemilu sela AS pada 3 November. Kenaikan minyak dan ketidakpastian konflik menambah tekanan pada pasar energi, sementara CNBC menyebut gangguan perang telah membebani ekonomi AS dan memperbesar kekhawatiran inflasi.
Sumber: CNBC





