Pukul 08.58 pada sistem perdagangan JATS, Jumat 16 Oktober 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan selama 30 menit. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat itu turun 8,01% ke 5.393,92 dari penutupan sehari sebelumnya di 5.863,78. Sesi ditutup di 5.185,105, turun 11,57% (Antara, 16 Oktober 2026; keterangan BEI melalui Metro TV, 17 Oktober 2026).
Data mingguan BEI memuat angka yang sulit dicocokkan dengan kesan panik. IHSG turun 14,91% pada 12 sampai 16 Oktober 2026, tetapi rata-rata nilai transaksi harian nyaris tidak bergeser: Rp16,21 triliun, dari Rp16,23 triliun pekan sebelumnya. Rata-rata volume harian malah turun 5,22% menjadi 44,1 miliar saham (Okezone, mengutip BEI, 19 Oktober 2026). Harga jatuh dalam, sementara ukuran keramaian terlihat datar. Jadi apa yang sebenarnya diukur volume ketika pasar panik?
Likuiditas Punya Tiga Sisi, dan Ketiganya Tidak Selalu Bergerak Bersama
Likuiditas berarti seberapa mudah sebuah saham dijual atau dibeli tanpa menggeser harganya terlalu jauh. Kajian akademik atas perubahan satuan lot dan fraksi harga BEI pada 6 Januari 2014 menilainya dari tiga sisi (Jurnal Mix, Universitas Mercu Buana). Width adalah selisih harga beli dan jual. Depth adalah jumlah saham yang antre di sekitar harga terbaik. Immediacy adalah kecepatan pesanan terpenuhi. Hasil kajian itu campuran: width dan immediacy membaik, depth menurun.
Pelajarannya sederhana. Satu ukuran yang membaik tidak menjamin ukuran lain ikut membaik, sehingga satu angka saja tidak cukup untuk menilai apakah sebuah saham mudah dijual saat pasar tertekan.
Dua istilah dasar perlu disepakati dulu. Antrean beli disebut bid, antrean jual disebut offer. Satu lot sama dengan 100 lembar saham sejak 2014 (Kontan).
| Ukuran | Yang dilihat di layar | Yang bisa menyesatkan |
|---|---|---|
| Spread | Selisih bid tertinggi dan offer terendah | Selisih tipis bisa menutupi antrean yang dangkal |
| Volume | Jumlah yang sudah berpindah tangan | Tidak menunjukkan arah, dan tidak mencatat pesanan yang tak pernah terpenuhi |
| Antrean | Lot yang menunggu di tiap harga | Hanya potret satu momen, dan pesanan bisa ditarik |

Spread: Selisih Kecil yang Menjadi Biaya Keluar
Spread adalah selisih antara bid tertinggi dan offer terendah. Penjual yang ingin keluar saat itu juga menerima harga bid, pembeli yang ingin masuk saat itu juga membayar harga offer. Selisihnya adalah harga dari kecepatan.
Batas bawah spread ditentukan fraksi harga, yaitu kelipatan harga terkecil yang boleh dipakai di bursa. Menurut ketentuan BEI yang dirangkum Ajaib, fraksinya Rp1 untuk harga di bawah Rp200, Rp2 untuk Rp200 sampai Rp500, Rp5 untuk Rp500 sampai Rp2.000, Rp10 untuk Rp2.000 sampai Rp5.000, dan Rp25 untuk di atas Rp5.000. Akibatnya, spread minimum dalam persen berbeda-beda. Saham berharga Rp100 punya batas bawah 1%.
Contoh nyata datang dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Pada 16 Oktober 2026 sahamnya turun 14,81% ke Rp5.175 hingga menyentuh batas penurunan harian (EmitenNews, 19 Oktober 2026). Satu fraksi di harga itu Rp25, sekitar 0,48% dari harga. Pada 19 Oktober 2026 BBCA berada di Rp4.820 (Kontan, 19 Oktober 2026), masuk kelompok fraksi Rp10, sehingga satu fraksi hanya sekitar 0,21%. Batas bawah spread mengecil lebih dari separuh hanya karena harga melewati Rp5.000 (hitungan penulis dari data tersebut).
Itu batas bawah, bukan spread yang sebenarnya terjadi. Saat pasar tertekan, selisih nyata di layar bisa beberapa fraksi, dan itu yang perlu diperiksa langsung.
Volume: Menunjukkan Berapa, Bukan Siapa
Kembali ke pertanyaan di awal. Liputan6 mencatat nilai transaksi harian Rp32 triliun pada 16 Oktober 2026, hampir dua kali rata-rata harian pekan itu yang Rp16,21 triliun. Kedua angka berasal dari sumber berbeda, dan cakupan pasarnya bisa tidak sama, jadi perbandingannya kasar. Namun arahnya jelas: keramaian memuncak pada hari terdalam, tidak merata sepanjang pekan.
BEI tidak menjelaskan mengapa rata-rata mingguan terlihat datar. Satu tafsir yang masuk akal: volume hanya mencatat transaksi yang terjadi. Saham yang terkunci di batas penurunan harian dengan banyak penjual dan sedikit pembeli akan mencatat transaksi kecil, padahal tekanannya besar. Tafsir ini pembacaan penulis, bukan temuan bursa.
Volume juga tidak menunjukkan siapa yang menjual. Pada sesi I 16 Oktober 2026, investor asing mencatat jual bersih (net sell) Rp2,92 triliun, didominasi BBCA sekitar Rp2 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp627,1 miliar, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp489,8 miliar (JawaPos, 16 Oktober 2026). BEI mencatat jual bersih asing sehari penuh Rp3,34 triliun dan Rp88,19 triliun sepanjang 2026. Di sisi lain, data satu platform, Stockbit Sekuritas Digital, mencatat beli bersih BBCA, BMRI, dan BBRI sebesar Rp919,5 miliar pada 12 sampai 16 Oktober 2026 (KabarBursa). Itu data satu broker dan tidak mewakili seluruh pasar. Yang bisa dipetik: setiap transaksi punya penjual dan pembeli, sehingga volume tinggi bisa berisi dua arus yang berlawanan.
Mengapa likuiditas bisa mengering tiba-tiba? Brunnermeier dan Pedersen (Review of Financial Studies, 2009) membuat model yang menghubungkan likuiditas pasar dengan likuiditas pendanaan para pelaku. Pada kondisi tertentu, kenaikan margin memperparah keadaan dan keduanya saling memperkuat dalam apa yang mereka sebut spiral likuiditas. CNBC Indonesia (19 Oktober 2026) menggambarkan versi lokalnya: harga jatuh, nilai jaminan investor yang memakai pembiayaan ikut turun, lalu risiko margin call naik. Margin call adalah permintaan menambah jaminan, dan bila tidak dipenuhi posisi dijual paksa.
Antrean: Tekanan yang Pindah ke Harga Batas
Auto rejection bawah (ARB) adalah batas penurunan harga harian. Begitu harga menyentuhnya, sistem BEI menolak pesanan jual di harga yang lebih rendah (Katadata, 19 Oktober 2026). Harga berhenti turun, tetapi keinginan menjual tidak ikut berhenti. Ia pindah menjadi antrean di harga ARB. Ajaib menyebut risiko yang sering luput: antrean itu bisa terbawa ke hari berikutnya, sehingga harga yang berhenti turun belum tentu bebas dari tekanan jual.
Skalanya terlihat pada 19 Oktober 2026, hari pertama batas ARB 7% berlaku: 351 saham terkunci di ARB, termasuk BBCA yang turun 6,86% ke Rp4.820 (CNBC Indonesia, 19 Oktober 2026). BBCA tercatat tidak bergerak dari harga pembukaannya sampai akhir sesi I (Kontan, 19 Oktober 2026).
Trading halt ikut memengaruhi antrean. Saat perdagangan dihentikan, pesanan yang belum terpenuhi tetap berada di sistem dan boleh ditarik oleh anggota bursa (Katadata, 8 April 2025). Antrean sebelum halt karena itu belum tentu sama dengan antrean sesudahnya.
Sebagai contoh membaca antrean, ambil potret order book BBCA pada 21 Oktober 2026 (KabarBursa). Total antrean jual 884.886 lot, total antrean beli 559.130 lot, sekitar 1,6 kali lipat. Antrean beli terbesar ada di Rp5.000 sebanyak 104.289 lot, antrean jual terbesar di Rp5.350 sebanyak 147.690 lot. Dengan 100 lembar per lot, antrean jual itu setara sekitar 88,5 juta lembar.
Ada dua catatan. Angka itu berasal dari sepuluh tingkat harga yang tampil pada satu momen, bukan harga beli dan jual terbaik. Dan BBCA sedang menjalankan pembelian kembali saham (buyback) pada 19 sampai 21 Oktober 2026, sehingga salah satu pembeli mungkin emitennya sendiri. Antrean tidak memberi tahu siapa yang duduk di dalamnya.
Ajaib menyarankan membandingkan jumlah lot di harga ARB dengan volume harian saham itu. Logikanya, makin besar antrean dibanding volume harian, makin lama waktu yang dibutuhkan untuk menyerapnya.
Dua Pembacaan atas Batas ARB 7%
BEI menurunkan batas ARB dari 15% menjadi 7% untuk 19 Oktober sampai 31 Desember 2026 lewat SK Direksi Nomor Kep-00157/BEI/10-2026. Tujuan resminya menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien, sekaligus memberi investor waktu mencerna informasi (CNBC Indonesia, 19 Oktober 2026). Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan ketentuan trading halt tidak berubah (Periskop, 19 Oktober 2026).
Pembacaan pertama: batas yang lebih sempit memperlambat tekanan berantai. CNBC Indonesia menilai tambahan waktu itu memberi ruang bagi investor mengevaluasi posisi dan bagi calon pembeli menilai harga. Katadata menyebut secara praktis IHSG jadi sulit menyentuh trading halt di 8%.
Pembacaan kedua: pembatasan tidak otomatis menciptakan pembeli. CNBC Indonesia mencatat bahwa bila penawaran jual tetap dominan, saham bisa tertahan di ARB dengan antrean panjang, dan penjual belum tentu berhasil keluar. Penurunan 7% selama lima hari berturut-turut secara matematis mencapai sekitar 30,4%. Ajaib merumuskannya sebagai dua tafsir yang sama-sama mungkin: kepanikan memang mereda, atau tekanan jual hanya tertunda.
Data awalnya belum cukup untuk memilih. IHSG naik 4,9% ke 5.439,258 pada pekan 19 sampai 23 Oktober 2026 (BEI, dikutip Sakato). Namun pekan yang sama memuat pembelian kembali saham BBCA dan pengumuman buyback BBRI hingga Rp1 triliun (KabarBursa; Ajaib, 22 Oktober 2026), sehingga efek batas ARB sulit dipisahkan. CNBC Indonesia sendiri menyatakan belum cukup dasar untuk menyebut pengumuman MSCI sebagai satu-satunya penyebab kebijakan itu. Urutan peristiwa bukan bukti sebab-akibat.
Aturannya juga bersifat sementara. BEI menyatakan akan mengevaluasi kebijakan ARB secara berkala (Sakato, 24 Oktober 2026). Berdasarkan skema transisi yang diumumkan September 2026, ARB dijadwalkan kembali simetris dengan batas kenaikan mulai 1 Januari 2027 (Fortune IDN). Sumber yang dikumpulkan tulisan ini belum memuat pengumuman tentang kelanjutan ARB 7% setelah 31 Desember 2026.
Pertanyaan yang Bisa Diajukan Pembaca pada Layarnya Sendiri
Tiga ukuran di atas baru berguna kalau dibaca bersama. Empat pertanyaan berikut bisa dijawab dari layar sekuritas dan data BEI:
- Berapa spread dalam persen dari harga, bukan hanya dalam rupiah, dan di mana batas bawahnya menurut fraksi harga?
- Berapa lot antre di beberapa tingkat harga terdekat dibanding volume harian saham itu pada hari biasa?
- Apakah volume naik bersama melebarnya spread, atau volume tertahan karena harga terkunci di ARB?
- Siapa yang menjual dan siapa yang membeli menurut ringkasan broker dan jual-beli bersih asing, mengingat volume selalu berisi keduanya?
Batas data tulisan ini perlu disebut terus terang. BEI belum menjelaskan pola volume pada 12 sampai 16 Oktober 2026. Data antrean di atas hanya potret satu saham pada satu waktu. Tafsir tentang volume dan antrean adalah pembacaan, bukan temuan bursa. Seluruh data dikumpulkan per 29 Oktober 2026.
Yang perlu dipantau: 31 Desember 2026 sebagai akhir masa berlaku ARB 7%; 1 Januari 2027 sebagai jadwal ARB kembali simetris dalam skema transisi BEI; serta konsultasi MSCI soal klasifikasi pasar Indonesia yang berlangsung sampai 30 April 2027, dengan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027 (CNBC Indonesia, 19 Oktober 2026). Ketiganya menentukan batas penurunan harian dan ketebalan antrean yang akan dihadapi pasar.
Referensi & Resources:
- Antara, "IHSG turun 11 persen imbas MSCI buka konsultasi ubah klasifikasi RI", 16 Oktober 2026: https://www.antaranews.com/berita/5791401/ihsg-turun-11-persen-imbas-msci-buka-konsultasi-ubah-klasifikasi-ri
- Metro TV, "BEI: IHSG Turun 14% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp1.544 Triliun", 17 Oktober 2026: https://www.metrotvnews.com/read/b7WCr6Yn-bei-ihsg-turun-14-sepekan-kapitalisasi-pasar-susut-rp1-544-triliun
- Okezone, "IHSG Anjlok 14,91% Sepekan, Ini 6 Fakta di Balik Tekanan Pasar Saham RI", 19 Oktober 2026: https://economy.okezone.com/read/2026/10/19/320/3248619/ihsg-anjlok-14-91-sepekan-ini-6-fakta-di-balik-tekanan-pasar-saham-ri
- Liputan6, "IHSG Hari Ini Anjlok 11,57% ke 5.185, Transaksi Harian Rp 32 Triliun", 16 Oktober 2026: https://www.liputan6.com/saham/read/8314870/ihsg-hari-ini-anjlok-1157-ke-5185-transaksi-harian-rp-32-triliun
- JawaPos, "Pasar Keuangan RI Babak Belur: IHSG Anjlok 10,75 Persen dan Rupiah Melemah Rp 18.027", 16 Oktober 2026: https://www.jawapos.com/ekonomi/2610160315/pasar-keuangan-ri-babak-belur-ihsg-anjlok-1075-persen-dan-rupiah-melemah-rp-18027
- KabarBursa, "IHSG Rontok 14,91 Persen, Big Banks Justru Diserok Ritel", 16 Oktober 2026: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/ihsg-rontok-1491-persen-big-banks-justru-diserok-ritel
- KabarBursa, "Transaksi BBCA Tembus Rp1,57 Triliun, Saham Tetap Merah di Tengah Buyback", 21 Oktober 2026: https://www.kabarbursa.com/makro/transaksi-bbca-tembus-rp157-triliun-saham-tetap-merah-di-tengah-buyback
- EmitenNews, "ARB 7 Persen, dan Janji Jusuf Hamka Serok Saham Triliunan Rupiah", 19 Oktober 2026: https://emitennews.com/news/arb-7-persen-dan-janji-jusuf-hamka-serok-saham-triliunan-rupiah
- Kontan, "Big Banks Anjlok Bareng IHSG pada Sesi Pertama (19/10), BBCA dan BBRI Kena ARB", 19 Oktober 2026: https://keuangan.kontan.co.id/news/big-banks-anjlok-bareng-ihsg-pada-sesi-pertama-1910-bbca-dan-bbri-kena-arb
- Kontan, "Aturan ARB 7% Berlaku, Ini Dampaknya pada Pergerakan IHSG", 20 Oktober 2026: https://investasi.kontan.co.id/news/aturan-arb-7-berlaku-ini-dampaknya-pada-pergerakan-ihsg
- Kontan, "BEI kaji penerapan aturan tick price dan lot size", 2014: https://investasi.kontan.co.id/news/bei-kaji-penerapan-aturan-tick-price-dan-lot-size
- CNBC Indonesia, "BEI Ubah Aturan ARB! Wajar atau Sinyal Kepanikan?", 19 Oktober 2026: https://www.cnbcindonesia.com/research/20261019141956-128-777525/bei-ubah-aturan-arb-wajar-atau-sinyal-kepanikan
- CNBC Indonesia, "Batas Auto Reject Turun, 351 Saham ARB Hari Ini", 19 Oktober 2026: https://cnbcindonesia.com/market/20261019174233-17-777615/batas-auto-reject-turun-351-saham-arb-hari-ini
- Katadata, "BEI Turunkan Batas ARB Jadi 7% Mulai Hari Ini, Cegah Trading Halt Terjadi Lagi?", 19 Oktober 2026: https://katadata.co.id/finansial/bursa/6ad55148550dd/bei-turunkan-batas-arb-jadi-7-mulai-hari-ini-cegah-trading-halt-terjadi-lagi
- Katadata, "BEI Naikan Ambang Batas Trading Halt: Perdagangan Disetop jika IHSG Turun 8%", 8 April 2025: https://katadata.co.id/finansial/bursa/67f46ab19a26f/bei-naikan-ambang-batas-trading-halt-jadi-8
- Periskop, "Bursa Batasi ARB 7%, Apakah Trading Halt Ikut Berubah?", 19 Oktober 2026: https://periskop.id/pasar-modal/20261019/arb-7-persen-trading-halt-jeffrey-hendrik
- Ajaib, "BEI Pangkas Batas ARB Jadi 7 Persen, Begini Dampaknya ke Likuiditas dan Antrean Jual": https://ajaib.co.id/belajar/analisa-fundamental-saham/bei-pangkas-batas-arb-jadi-7-persen-dampaknya-ke-likuiditas-dan-antrean-jual
- Ajaib, "Ini Bedanya Fraksi Harga Saham dan Harga Saham": https://ajaib.co.id/belajar/saham/ini-bedanya-fraksi-harga-saham-dan-harga-saham
- Ajaib, "IHSG Menguat ke 5.387, Dipimpin Bank Himbara, BBRI Buyback Rp1 Triliun", 22 Oktober 2026: https://ajaib.co.id/belajar/berita/ihsg-menguat-ke-5387-bank-himbara-bbri-buyback-rp1-triliun
- Sakato, "IHSG Melesat 4,9 Persen Sepekan, BEI Atur Batas ARB Baru dan Kriteria Indeks", 24 Oktober 2026: https://sakato.co.id/ihsg-melesat-49-persen-sepekan-bei-atur-batas-arb-baru-dan-kriteria-indeks/
- Fortune IDN, "BEI Tetapkan Harga Minimum Saham Rp1 Mulai 28 September 2026": https://www.fortuneidn.com/market/bei-tetapkan-harga-minimum-saham-rp1-mulai-28-september-2026-d7w02-00-lflgw-ln9l43
- Jurnal Mix (Universitas Mercu Buana), "Dampak Perubahan Satuan Perdagangan dan Fraksi Harga terhadap Likuiditas Saham": https://publikasi.mercubuana.ac.id/index.php/Jurnal_Mix/article/view/866
- Brunnermeier, M. K. dan Pedersen, L. H., "Market Liquidity and Funding Liquidity", Review of Financial Studies 22(6), 2009: https://econpapers.repec.org/RePEc:oup:rfinst:v:22:y:2009:i:6:p:2201-2238
- Bursa Efek Indonesia, ketentuan perdagangan dan keputusan direksi: https://www.idx.co.id
