Pada Rabu siang, 28 Januari 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan perdagangan pukul 13.43 WIB karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 8% (RRI, 28 Januari 2026). IHSG ditutup di 8.320,55, melemah 7,35% dalam sehari, setelah penyedia indeks global MSCI membekukan penyesuaian indeks untuk saham Indonesia (Bisnis.com, 29 Januari 2026).
Keesokan harinya, Kamis 29 Januari, trading halt (penghentian sementara seluruh perdagangan) datang lagi pukul 09.26 saat IHSG berada di 7.654,66. Dibanding penutupan 27 Januari di 8.980, indeks sudah turun 14,76% (investortrust.id, 29 Januari 2026). Pada penutupan hari itu IHSG berada di 8.232,20, hanya turun 1,06% (Kontan, 29 Januari 2026).
Dua hari itu menguji dua jenis investor sekaligus. Yang tidak punya batas kerugian menanggung penurunan dalam-dalam, sedangkan yang memasang stop loss sempit berisiko terlempar dekat titik terendah sebelum indeks memangkas koreksinya. Stop loss adalah perintah keluar otomatis saat harga menyentuh level tertentu. Ukuran posisi adalah besar modal yang ditempatkan pada satu aset. Keduanya hanya bekerja bila dirancang bersama, untuk hari terburuk yang masuk akal.
Tiga Hal yang Membuat Stop Loss Meleset pada Hari Buruk
Stop loss tidak menjamin harga keluar. Ia hanya memastikan perintah jual dikirim ketika level tersentuh. Setelah itu harga eksekusi ditentukan pasar, dan ada tiga hal yang bisa membuat hasilnya jauh dari rencana.
Pertama, gap, yaitu harga yang melompat melewati level stop tanpa transaksi di antaranya. Pada 8 April 2025, hari pertama perdagangan setelah libur Lebaran, IHSG dibuka turun 9,16% ke 5.914,28 dan ditutup di 5.996,14, turun 7,90% (INP Polri mengutip Antara; Databoks Katadata, 8 April 2025). Level stop yang direncanakan sebelum libur tidak punya peluang dieksekusi di harganya, karena pasar tutup berhari-hari dan pembukaan langsung berada jauh di bawahnya.
Kedua, penghentian perdagangan. Sejak 8 April 2025 BEI menghentikan perdagangan 30 menit bila IHSG turun lebih dari 8%, 30 menit lagi bila turun lanjutan lebih dari 15%, dan menangguhkan perdagangan bila turun lanjutan lebih dari 20% (Antara dan Tempo, 8 April 2025). Selama halt tidak ada transaksi. Pada 29 Januari 2026 jeda itu berlangsung dari 09.26 sampai 09.56 WIB (Databoks Katadata, 29 Januari 2026).
Ketiga, batas penurunan harian. Auto Rejection Bawah (ARB) adalah batas turun harga satu saham dalam sehari. Sejak 19 Oktober sampai 31 Desember 2026, BEI menetapkan ARB 7% untuk saham di atas Rp200, turun dari 15% sebelumnya (SK Direksi Kep-00157/BEI/10-2026, dikutip IDXChannel, 19 Oktober 2026). Harga tidak bisa jatuh melewati batas itu dalam sehari, sehingga perintah jual yang terpicu bisa ikut mengantre tanpa terisi.
| Rentang harga | ARA (batas naik) | ARB sejak 19 Oktober 2026 |
|---|---|---|
| Rp11 sampai Rp200 | 35% | 7% |
| Di atas Rp200 sampai Rp5.000 | 25% | 7% |
| Di atas Rp5.000 | 20% | 7% |
BEI merevisi lagi ARB saham Rp11 sampai Rp14 menjadi Rp1 mulai 20 Oktober 2026, sama seperti saham Rp1 sampai Rp10 (Fortune Indonesia, 20 Oktober 2026). Cara tiap sekuritas memproses stop loss saat halt atau ARB, misalnya apakah berubah menjadi order pasar atau order batas setelah terpicu, bisa berbeda. Belum ada data publik yang memadai untuk membandingkannya, jadi aturan di aplikasi masing-masing perlu dibaca sendiri.
Ukuran Posisi Menentukan Kerugian Sebelum Stop Dipasang
Panduan manajemen risiko untuk trader banyak memakai risiko tetap per transaksi, umumnya 1% sampai 2% dari modal (Theta Edge; StockAlarm). Ini konvensi praktisi, bukan standar regulator, dan angkanya soal toleransi pribadi. Rumusnya: ukuran posisi sama dengan modal dikali persentase risiko, dibagi selisih harga masuk dan harga stop. Semakin jauh stop, semakin kecil posisi.
Berikut hitungan ilustrasi, bukan data pasar: modal Rp100 juta, risiko 1% atau Rp1 juta, harga masuk Rp1.000 per saham.
| Harga stop | Rugi per saham | Jumlah saham | Nilai posisi |
|---|---|---|---|
| Rp900 | Rp100 | 10.000 (100 lot) | Rp10 juta |
| Rp800 | Rp200 | 5.000 (50 lot) | Rp5 juta |
Saat volatilitas ekstrem, rentang gerak harian melebar. Panduan trader memakai Average True Range (ATR), yaitu rata-rata rentang pergerakan harian, lalu menaruh stop sejauh 1,5 sampai 2,5 kali ATR (StockAlarm). Stop yang lebih lebar berarti posisi lebih kecil, sehingga kerugian dalam rupiah tetap sama.
Sekarang uji hitungan itu dengan ARB 7%. Saham di Rp1.000 yang jatuh ARB dua hari berturut-turut berada di sekitar Rp865 pada akhir hari kedua (0,93 x 0,93 x 1.000, sebelum pembulatan fraksi harga). Pada skenario stop Rp900, perintah baru bisa terisi di hari kedua, itu pun bila antrean jual memberi giliran. Bila terisi di Rp865, kerugiannya Rp1,35 juta atau 1,35% modal, melampaui 1% yang direncanakan. Bila tidak terisi, kerugian terus berjalan.
Salah satu cara menjaga kerugian tetap di batas adalah menghitung ukuran posisi dari harga terburuk yang masuk akal setelah gap atau ARB berturut-turut. Dengan harga terburuk Rp865 pada contoh tadi, posisi dengan risiko 1% menyusut menjadi sekitar 7.400 saham.
Kripto: Ketika Likuidasi Menjadi Stop Loss yang Tidak Anda Pilih
Leverage berarti memakai dana pinjaman dari bursa sehingga posisi lebih besar daripada modal sendiri. Bila kerugian menghabiskan margin, yaitu jaminan yang disetor, bursa menutup posisi secara paksa. Itu disebut likuidasi. Dengan leverage 10 kali, pergerakan 10% melawan posisi setara seluruh margin, sebelum memperhitungkan margin pemeliharaan dan biaya yang berbeda di tiap bursa.
Pada 10 Oktober 2025, CoinGlass mencatat likuidasi gabungan posisi long dan short lebih dari 19 miliar dolar AS dalam sehari, terbesar dalam sejarah pasar kripto (laporan CoinGlass, dikutip Bitcoinist, 27 Desember 2025). CoinGlass menilai angka sebenarnya bisa mendekati 30 sampai 40 miliar dolar AS mengingat waktu pengungkapan data dan masukan market maker, dengan posisi long sekitar 85% sampai 90% dari total (TechFlow, 25 Desember 2025). Volume perdagangan hari itu mencapai 748,3 miliar dolar AS, hampir tiga kali rata-rata tahunan 264,5 miliar dolar AS (Yellow, mengutip CoinGlass).
CoinGlass menyebut pemicu langsungnya adalah pengumuman tarif 100% atas barang China oleh Presiden AS Donald Trump (Bitcoinist, 27 Desember 2025). Pemicu itu jatuh di pasar yang menurut TechFlow sudah sangat penuh posisi long ber-leverage. Data likuidasi menunjukkan skala kerugiannya, tetapi tidak membuktikan satu sebab tunggal.
Bagi pemegang posisi, pelajarannya teknis. Harga likuidasi adalah stop terakhir yang dipasang bursa, dan aturannya ditentukan bursa. Stop pribadi perlu berada lebih dekat dari harga itu. Ukuran posisi juga dihitung dari nilai nosional (total nilai posisi), bukan dari margin yang disetor. Dalam penurunan cepat, harga eksekusi bisa jauh dari level stop, selisih yang disebut slippage, jadi jarak amannya perlu lebih lebar. Aset kripto diperdagangkan 24 jam, sehingga tidak ada penutupan semalam seperti di bursa saham, tetapi gap tetap bisa muncul bila likuiditas mendadak menipis.
Dua Kubu soal Stop Loss dan Apa Kata Risetnya
Kubu yang mendukung stop loss bisa merujuk pada Kathryn Kaminski dan Andrew Lo dari MIT. Dalam Journal of Financial Markets (2014), mereka menemukan bahwa pada frekuensi pengamatan yang lebih panjang, kebijakan stop tertentu dapat menaikkan imbal hasil sekaligus menurunkan volatilitas pada strategi beli-dan-tahan kontrak futures indeks (MIT DSpace). Pada data bulanan ekuitas AS 1950 sampai 2004, aturan tertentu menambah 50 sampai 100 basis poin per bulan selama periode stop-out, dengan obligasi pemerintah jangka panjang sebagai aset pengganti (seminar KTH). Satu basis poin sama dengan 0,01%.
Syaratnya penting. Kaminski dan Lo menunjukkan bahwa bila harga bergerak acak sepenuhnya, aturan stop sederhana selalu menurunkan imbal hasil yang diharapkan. Aturan itu baru menambah nilai bila ada momentum, yaitu kecenderungan harga yang sedang turun untuk lanjut turun (dailyspeculations.com, merangkum abstrak mereka).
Kubu yang skeptis punya pegangan sendiri. Studi Detko, Ma, dan Morita (2008), seperti diringkas CXO Advisory, menemukan stop menurunkan volatilitas, tetapi biaya peluang dari kerugian yang kemudian berbalik arah cenderung menghapus manfaatnya. Pada pasar yang cenderung naik, stop menurunkan imbal hasil karena melewatkan rebound. Hari-hari 28 sampai 29 Januari 2026 memberi contoh kecil: IHSG sempat turun 8% lalu pulih sampai hanya turun 1,06% pada penutupan. Ringkasan penelitian lain tentang pasar mata uang juga menyebut order stop loss dapat memicu pergerakan harga yang saling menguatkan (dailyspeculations.com), artinya banyak stop di area yang sama berpotensi memperparah penurunan.
Ada pilihan ketiga yang tidak memakai stop berbasis harga: membatasi ukuran posisi cukup kecil agar penurunan terburuk yang masuk akal tetap bisa ditanggung. Harganya, kerugian yang tertahan bisa membesar bila tesis awal memang keliru. Seluruh studi di atas memakai data Amerika Serikat. Penulis tidak menemukan studi serupa yang memakai data BEI dengan aturan ARB, jadi belum ada dasar empiris untuk menyebut kubu mana yang lebih tepat di pasar saham Indonesia.
Aturan yang Ditulis Sebelum Hari Buruk Datang
Hitungan di atas bisa dirangkum menjadi beberapa angka yang ditulis sebelum pasar bergejolak: persen modal yang siap hilang per transaksi, jarak stop yang mengikuti rentang gerak harian, kerugian pada harga terburuk setelah gap atau ARB berturut-turut, dan batas leverage beserta harga likuidasinya. Kesalahan yang sering muncul di pasar volatil mengikuti hitungan yang sama:
- Memasang stop dengan persentase tetap, misalnya selalu 5%, padahal rentang gerak harian saham itu sudah mendekati angka tersebut.
- Menggeser stop menjauh setelah posisi rugi tanpa mengecilkan ukuran posisi, sehingga risiko dalam rupiah membesar diam-diam.
- Menambah posisi yang sedang rugi tanpa menghitung ulang total risiko, yang dalam panduan trader disebut position creep (Lime).
- Memakai leverage tanpa mengetahui harga likuidasi di bursa yang dipakai.
Batas pengetahuannya jelas. Angka 1% sampai 2% adalah konvensi, bukan hasil riset yang berlaku untuk semua orang. Riset stop loss memakai data pasar AS. Perilaku order stop di tiap sekuritas Indonesia saat halt dan ARB belum punya data publik yang memadai.
Yang perlu dipantau: BEI menyatakan ARB 7% berlaku sampai 31 Desember 2026 dan akan dievaluasi mengikuti pasar (IDXChannel, 19 Oktober 2026). Dalam keputusan 21 September 2026, BEI sebelumnya merencanakan ARB simetris dengan ARA mulai 1 Januari 2027, yaitu 35%, 25%, dan 20% sesuai kelompok harga (investortrust.id). Belum jelas aturan mana yang berlaku setelah 31 Desember, jadi periksa pengumuman BEI di idx.co.id. Periksa juga ketentuan order stop di sekuritas masing-masing, dan untuk kripto, harga likuidasi serta aturan margin di bursa yang dipakai.
Referensi & Resources:
- RRI, "Nasib IHSG Setelah BEI Sempat Lakukan Trading Halt", 28 Januari 2026: https://rri.co.id/keuangan/2139715/nasib-ihsg-setelah-bei-sempat-lakukan-trading-halt
- Bisnis.com, "Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Kamis, 29 Januari 2026": https://market.bisnis.com/read/20260129/7/1948195/rekomendasi-saham-dan-pergerakan-ihsg-hari-ini-kamis-29-januari-2026
- investortrust.id, "Perdagangan Saham kembali Terkena Trading Halt, SRO dan OJK Siap Beri Keterangan", 29 Januari 2026: https://investortrust.id/market/92880/perdagangan-saham-kembali-terkena-trading-halt-sro-dan-ojk-siap-beri-keterangan
- Kontan, "IHSG Melemah 1,06% Terdorong Kekhawatiran MSCI", 29 Januari 2026: https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-melemah-106-terdorong-kekhawatiran-msci-simak-proyeksi-jumat-301
- Databoks Katadata, "IHSG Falls Again, IDX Temporarily Halts Trading (January 29, 2026)": https://databoks.katadata.co.id/en/market/statistics/697ad3281e497/ihsg-falls-again-idx-temporarily-halts-trading-january-29-2026
- Databoks Katadata, "Post-Eid Holiday, IHSG Plunges 7.9%", 8 April 2025: https://databoks.katadata.co.id/en/market/statistics/67f4fb5173fb7/post-eid-holiday-ihsg-plunges-79-tuesday-april-8-2025
- INP Polri (mengutip Antara), "IDX Temporarily Halts Trading After Jakarta Composite Index Plunges Over 8%": https://inp.polri.go.id/artikel/idx-temporarily-halts-trading-after-jakarta-composite-index-plunges-over-8
- Antara, "BEI ubah batasan ARB dan trading halt demi jaga perdagangan teratur", 8 April 2025: https://jambi.antaranews.com/berita/610337/bei-ubah-batasan-arb-dan-trading-halt-demi-jaga-perdaganganteratur
- Tempo, "Trading Halted as IHSG Plunges 8%", 8 April 2025: https://www.itiger.com/news/2525777834
- IDXChannel, "BEI Pangkas Batas ARB Jadi 7 Persen, Berlaku Mulai Hari Ini", 19 Oktober 2026: https://www.rctiplus.com/news/detail/ekonomi/5496930/bei-pangkas-batas-arb-jadi-7-persen--berlaku-mulai-hari-ini
- Fortune Indonesia, "BEI Revisi Batas ARB Saham Rp11-Rp14 Mulai 20 Oktober 2026": https://www.fortuneidn.com/market/bei-revisi-batas-arb-saham-rp11-rp14-mulai-20-oktober-2026-d7w02-00-fykp7-xpgb46/amp
- investortrust.id, "BEI Resmi Hapus Batas Rp 50, Ini Aturan ARA-ARB Terbarunya": https://investortrust.id/market/116981/bei-resmi-hapus-batas-rp-50-ini-aturan-ara-arb-terbarunya
- Bitcoinist, "Bitcoin News: Here's How Much Was Liquidated In The Crypto Market In 2025" (laporan CoinGlass), 27 Desember 2025: https://bitcoinist.com/bitcoin-news-and-liquidation/
- TechFlow, laporan likuidasi kripto 2025 berdasarkan data CoinGlass, 25 Desember 2025: https://www.techflowpost.com/en-US/newsletter/109685
- Yellow, ringkasan laporan tahunan CoinGlass 2025: https://yellow.com/de/news/krypto-liquidationen-%C3%BCbersteigen-150-milliarden-im-jahr-2025-berichtet-coinglass
- Kaminski, K. M. dan Lo, A. W., "When Do Stop-Loss Rules Stop Losses?", Journal of Financial Markets 18 (2014): https://dspace.mit.edu/handle/1721.1/114876
- Seminar KTH, Kaminski, "When do stop-loss rules stop losses?": https://www.math.kth.se/matstat/seminarier/080211.htm
- CXO Advisory, ringkasan Detko, Ma, Morita (2008) dan Kaminski, Lo: https://www.cxoadvisory.com/?p=1809
- dailyspeculations.com, "Stop-loss orders: browsing the research": https://dailyspeculations.com/wordpress/?p=14247
- Theta Edge, "Position Sizing Strategies for Risk Management": https://www.thetaedge.ai/blog/position-sizing-strategies-risk-management
- StockAlarm, "Position Sizing in Stocks: The Formula Every Trader Needs to Know": https://pro.stockalarm.io/blog/position-sizing-guide
- Lime, "Position Sizing for Risk Management: Protecting Your Trading Capital": https://lime.co/news/position-sizing-for-risk-management-protecting-your-trading-capital-143344/
