Sepanjang 2022, indeks S&P 500 turun 18,1% dan indeks obligasi berperingkat layak investasi Amerika Serikat, Bloomberg U.S. Aggregate, turun 13,0%. Dimensional Fund Advisors dan Fulton Bank mencatat kedua angka itu dalam ulasan tahunan masing-masing. Menurut Fulton Bank, itu tahun kalender pertama sejak 1969 ketika saham dan obligasi sama-sama merah.
Pemilik portofolio campuran 60% saham dan 40% obligasi memegang dua jenis aset yang berbeda, dan keduanya turun bersamaan. Jumlah aset tidak menentukan hasilnya. Yang menentukan adalah apakah aset-aset itu bergerak searah pada saat yang sama, dan statistik yang mengukurnya bernama korelasi.
Bagi investor ritel yang menyimpan beberapa saham, reksa dana, dan kripto sekaligus, pertanyaannya praktis: apakah semua itu benar-benar berisiko terpisah, atau hanya tampak beragam di layar aplikasi?
Dari korelasi sampai risiko portofolio
Korelasi adalah angka antara -1 dan +1 yang menunjukkan seberapa searah dua aset bergerak. Nilai +1 berarti keduanya selalu searah, 0 berarti tidak ada hubungan yang terbaca, dan -1 berarti selalu berlawanan. Yang dihitung adalah imbal hasil, yaitu persentase naik atau turun per periode, bukan harga mentah. Dua harga yang sama-sama tren naik bisa tampak berkorelasi tanpa hubungan yang nyata.
Dasar hitungannya datang dari Harry Markowitz lewat artikel "Portfolio Selection" di Journal of Finance edisi Maret 1952. Ringkasan dari LINDO Systems menjelaskan bahwa varians portofolio, ukuran seberapa lebar imbal hasil berfluktuasi, dihitung dari bobot tiap aset dan kovarians antarpasangan aset. Kovarians adalah kerabat korelasi: korelasi merupakan kovarians yang sudah dibagi dengan volatilitas kedua aset, sehingga selalu berada di antara -1 dan +1.
Artinya, risiko portofolio ditentukan oleh hubungan antaraset, bukan hanya oleh risiko tiap aset. Markowitz sendiri menulis bahwa diversifikasi tidak dapat menghapus seluruh varians. Dalam kutipan di laman buku teks McGraw-Hill, ia juga mencatat bahwa investor tidak menganggap cukupnya diversifikasi hanya bergantung pada jumlah sekuritas yang dipegang.
Sepuluh aset dengan korelasi tinggi
Perhitungan sederhana memperlihatkan efeknya. Asumsikan setiap aset punya volatilitas 20% per tahun, bobotnya sama besar, dan korelasi rata-rata antaraset sama. Dengan n sebagai jumlah aset dan ρ sebagai korelasi rata-rata, volatilitas portofolio adalah:
volatilitas portofolio = 20% x akar( 1/n + (1 - 1/n) x ρ )
Tabel berikut hasil hitungan ilustrasi dari rumus itu, bukan data pasar.
| Korelasi rata-rata (ρ) | Volatilitas 2 aset | Volatilitas 10 aset |
|---|---|---|
| 0,9 | 19,5% | 19,1% |
| 0,5 | 17,3% | 14,8% |
| 0,3 | 16,1% | 12,2% |
Pada korelasi 0,9, menambah aset dari dua menjadi sepuluh hanya menurunkan volatilitas dari 19,5% ke 19,1%. Pada korelasi 0,3, penurunannya dari 16,1% ke 12,2%. Berapa pun jumlah asetnya, volatilitas tidak bisa turun di bawah 20% dikali akar ρ, yaitu sekitar 19,0% untuk ρ 0,9 dan sekitar 11,0% untuk ρ 0,3. Batas itulah bagian risiko yang tersisa.
Ketika korelasi berubah saat pasar tertekan
Korelasi bukan angka tetap. Tahun 2022 menunjukkannya. Broadway Bank menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga menekan saham pertumbuhan, karena laba masa depan didiskonto dengan tingkat yang lebih tinggi, sehingga indeks Nasdaq Composite turun 32,4%. The Motley Fool mencatat imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun berada di 1,51% pada awal 2022, lalu harga obligasi 10 tahun anjlok 17,8% ketika bunga naik. Satu faktor bersama, yaitu suku bunga, menekan dua aset yang biasanya diperlakukan sebagai penyeimbang.
Besarnya kerugian portofolio 60/40 pada 2022 berbeda antarsumber karena definisi obligasinya berbeda. Fulton Bank menyebut 16,07%. Cognizant Wealth menyebut sekitar 15%. The Motley Fool, yang memakai obligasi 10 tahun, menyebut 18%. Dimensional, yang memakai obligasi Treasury 5 tahun, menyebut turun 11%.
Pembacaannya juga terbelah. Cognizant Wealth mencatat portofolio 60/40 rugi lebih kecil daripada saham saja, sekitar 15% dibanding 18%. Dimensional menambahkan bahwa portofolio itu tidak masuk lima besar penurunan puncak ke lembah dalam data hampir satu abad, dan sejak 1926 rata-rata imbal hasilnya kuat pada satu, tiga, dan lima tahun setelah penurunan 10% atau lebih. Itu catatan historis, bukan jaminan. Di tahun yang sama, Broadway Bank mencatat emas hanya turun 0,6%, sementara REIT turun 24,3%. Korelasi berbeda untuk tiap pasangan aset.
Skala satu hari terlihat di Bursa Efek Indonesia. Pada 18 Maret 2025 pukul 11.19 WIB, BEI membekukan perdagangan sementara setelah IHSG turun 5% ke 6.146,91. CNBC Indonesia melaporkan seluruh sektor ada di zona merah pada saat itu. Warta Ekonomi mencatat IHSG ditutup turun 3,84% di 6.223,38, dengan 554 saham turun dan 118 naik. Antara melaporkan IHSG pulih sebagian pada hari berikutnya. Satu hari tidak cukup untuk menghitung korelasi jangka panjang, tetapi hari itu menunjukkan bahwa saham di banyak sektor bisa turun bersamaan.
Bitcoin dan saham: tiga pembacaan data
Bitcoin (BTC) sering dipilih karena dianggap bergerak sendiri. Data menunjukkan gambarnya bergantung pada periode dan cara mengukur. Istilah kuncinya korelasi bergulir (rolling correlation), yaitu korelasi yang dihitung ulang pada jendela waktu yang bergeser, misalnya 90 hari terakhir.
Pertama, makalah Di Wu yang diunggah ke arXiv pada 17 Januari 2025 memakai data harian 2018 sampai 2025. Hasilnya, korelasi Bitcoin dengan Nasdaq-100 dan S&P 500 menguat setelah peristiwa adopsi institusional, dengan puncak 0,87 pada 2024. Penulisnya menyebut implikasinya bagi diversifikasi portofolio.
Kedua, analisis CME Group atas data harian Januari 2014 sampai 14 April 2025 menyatakan bahwa sejak 2020 hubungan Bitcoin dengan saham berubah dari tidak berarti menjadi sebagian besar positif. Korelasi tinggi sering muncul saat pasar tertekan. Namun median korelasi bergulir pada berbagai panjang jendela hanya 0,01 sampai 0,06, yang berarti sepanjang periode penuh keduanya nyaris tidak berkorelasi.
Ketiga, Block Scholes, dikutip CoinDesk pada 3 April 2025, mencatat korelasi bergulir 90 hari Bitcoin dengan Nasdaq dan S&P 500 berada di level terendah sejak Juli 2021.
Ketiganya bisa benar sekaligus, karena periode, jendela, dan frekuensi datanya berbeda. Rata-rata jangka panjang bisa mendekati nol sementara korelasi di masa tekanan tinggi. Bagi tujuan diversifikasi, korelasi saat pasar tertekan lebih menentukan daripada rata-ratanya. Penelitian di atas berhenti di pertengahan 2025, dan belum ada data publik yang memadai dalam sumber-sumber ini untuk menilai korelasi Bitcoin dengan IHSG.
Cara menguji portofolio sendiri dan batas pengujiannya
Pengujian ini cukup dengan Google Sheets atau Excel.
- Kumpulkan harga penutupan bulanan tiap aset untuk 36 bulan atau lebih. Harga saham bisa diambil dari IDX, nilai aktiva bersih reksa dana dari laporan manajer investasi, dan harga kripto dari CoinGecko atau CoinMarketCap. Pilih satu sumber agar konsisten.
- Ubah harga menjadi imbal hasil bulanan: harga bulan ini dibagi harga bulan lalu, lalu dikurangi 1.
- Hitung korelasi tiap pasangan dengan fungsi
=CORREL(B2:B37; C2:C37). Pemisah rumus bisa koma atau titik koma, tergantung setelan regional. - Ulangi hanya untuk periode tekanan, misalnya Maret 2020, sepanjang 2022, dan Maret 2025, lalu bandingkan dengan seluruh periode.
- Cari faktor bersama yang tidak terlihat dari nama aset, seperti kepekaan terhadap suku bunga, kurs rupiah, atau harga komoditas. Isi reksa dana saham tercantum di lembar fakta (fund fact sheet) manajer investasi, dan bisa memuat saham yang sama dengan yang Anda pegang langsung.
Tesisnya: korelasi rendah antaraset menurunkan fluktuasi portofolio, seperti ditunjukkan hitungan Markowitz. Yang bisa membuat pembacaan ini salah:
- Korelasi dihitung dari masa lalu dan bisa berubah, seperti saham dan obligasi pada 2022.
- Data 36 bulan hanya 36 titik, jadi satu bulan ekstrem dapat menggeser angkanya.
- Korelasi hanya mengukur searah atau tidaknya, bukan besarnya kerugian. Dua aset berkorelasi rendah tetap bisa sama-sama turun dalam periode yang sama.
Ukuran lain seperti penurunan terdalam (maximum drawdown), yaitu seberapa jauh nilai portofolio pernah jatuh dari puncaknya, menjawab pertanyaan yang berbeda dari korelasi dan layak dihitung berdampingan.
Yang perlu dipantau: matriks korelasi Anda sendiri, dihitung ulang tiap kuartal dan setelah hari ketika IHSG turun lebih dari 5%, ambang trading halt BEI menurut Kompas TV. Pantau juga jadwal rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan rapat FOMC the Fed di situs masing-masing, karena suku bunga adalah faktor bersama yang menekan saham dan obligasi sekaligus pada 2022.
Referensi & Resources:
- Dimensional Fund Advisors, "Market Review 2022: After a Down Year, Looking to the Past as a Guide": https://www.dimensional.com/se-en/insights/market-review-2022-after-a-down-year-looking-to-the-past-as-a-guide
- Fulton Bank, "Economic Update 2022 Review": https://fultonbank.com/Education-Center/FFA/Economic-Update-2022-Review
- Broadway Bank, "2022 Market Summary and Outlook": https://broadway.bank/newsroom/newsletters/investment-management-newsletter-4th-quarter-2022
- Cognizant Wealth, "Why 2022 Was The Worst Investment Year In History": https://www.cognizantwealth.com/blog/why-2022-was-the-worst-investment-year-in-history
- The Motley Fool, 26 Januari 2023, "2022 was the worst year since 1937 for this investment": https://www.fool.com/investing/2023/01/26/2022-was-the-worst-year-since-1937-for-this-invest
- Harry Markowitz, "Portfolio Selection", Journal of Finance, Maret 1952: https://doi.org/10.1111/j.1540-6261.1952.tb01525.x
- LINDO Systems, "Markowitz Portfolio Selection Model": https://www.lindo.com/doc/online_help/lingo18_0/markowitz_portfolio_selection.htm
- McGraw-Hill, Economics (McConnell), bab 34, "Origin of the Idea": https://glencoe.mheducation.com/sites/0217511447/student_view0/chapter34/origin_of_the_idea.html
- CNBC Indonesia, 18 Maret 2025, "IHSG Ambruk 5%! Ini Kata Bursa Efek Indonesia": https://www.cnbcindonesia.com/market/20250318113012-17-619514/ihsg-ambruk-5-ini-kata-bursa-efek-indonesia
- Warta Ekonomi, "IHSG Jeblok 5%, BEI Tekan Tombol Darurat": https://wartaekonomi.co.id/read561359/ihsg-jeblok-5-bei-tekan-tombol-darurat-airlangga-bakal-review-aturan-trading-halt
- ANTARA, "Belajar dari negara lain antisipasi volatilitas pasca trading halt": https://megapolitan.antaranews.com/berita/375333/belajar-dari-negara-lain-antisipasi-volatilitas-pasca-trading-halt
- Kompas TV, 18 Maret 2025, "Mengenal Trading Halt yang Dilakukan BEI": https://www.kompas.tv/ekonomi/581221/mengenal-trading-halt-yang-dilakukan-bei-saat-ihsg-anjlok-5-persen-hari-ini
- Di Wu, arXiv:2501.09911, 17 Januari 2025, "Institutional Adoption and Correlation Dynamics": https://arxiv.org/abs/2501.09911v1
- CME Group, "Why is Bitcoin moving in tandem with equities?", 2025: https://www.cmegroup.com/insights/economic-research/2025/why-is-bitcoin-moving-in-tandem-with-equities.html
- Block Scholes / CoinDesk, 3 April 2025, "Bitcoin No Longer Correlated to U.S. Stocks": https://www.blockscholes.com/communications/coindesk-bitcoin-no-longer-correlated-to-us-stocks
